“Orang yang tak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tak pernah mencoba hal baru” – Albert Einstein
BARANGKALI kutipan tersebut telah dibuktikan oleh Bayu Rizky Pratama, mahasiswa jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes, sekembalinya dari Jepang beberapa waktu lalu. Saya akhirnya berkesempatan menemui Bayu, sosok inspirasi kita kali ini, mengenai pengalamannya tersebut, Minggu (4/5). Menggali pengalaman, pelajaran dan motivasinya mencapai sebuah keyakinan dan tujuannya.
Bertolaknya Bayu ke Negeri Sakura bukanlah tanpa alasan. Bersama Hardiansyah Nur Sahaya, mahasiswa Ekonomi Pembangunan FE Unnes dan Desi Tri Susilowati, mahasiswa Pendidikan Sejarah FIS Unnes, mereka mempresentasikan hasil penelitian mereka di Tokyo, Jepang, pada International Conference on Business and Social Science (ICBASS) 2014.
Paper mereka yang berjudul ‘Character Education Model for Dropped-Out Students at School in Deliksari Village Semarang City Through Performance of Puppet Doll Historical Figures’ telah berhasil bersaing dengan ribuan artikel lain dari berbagai negara“Luar biasa sekali. Amazing. Gimana sih rasanya kalau impian kita terwujud? Nah, itulah yang saya rasakan,” ungkap Bayu saat menceritakan pengalaman pertamanya/mereka berada di Negeri Sakura hingga 3 April lalu.
Bayu mengungkapkan, entah berapa banyak pengorbanan yang dilaluinya untuk bisa sampai ke sana. Salah satunya adalah masalah klasik tentang bagaimana perjuangan untuk mendapatkan modal materiil berupa pendanaan.
“Setelah diterima, rasanya memang luar biasa sekaligus dilema. Antara senang dan bingung. Tadinya belum ada dana untuk kesana,” tutur Bayu. Mereka tak lantas menyerah begitu saja. Perjuangannya mencari dana dari Fakultas hingga Walikota Semarang pun berbuah manis. Dana mulai terkumpul. Keberanian mereka akhirnya bisa membawa mereka ke Negeri Sakura.
Saat kita punya tujuan, lanjut bayu, kita harus berkomitmen, kemudian merancang strategi, lalu tumbuhkanlah keberanian untuk meraihnya. Ternyata memang sudah sejak lama, ia punya impian ke Jepang. Bahkan obsesinya terlihat dari peta dunia besar yang sayajumpai di salah satu dinding kamar kosnya. Di peta itu, terlihat sebuah lingkaran spidol hitam pada pulau Jepang, lengkap dengan tulisan tanda harapan di bawahnya. “S2 ke Jepang!” begitu tulisnya.
Menulis itu Penting!
Memang hanya sebuah tulisan. Tapi menurut Bayu, inilah wujud nyata dari komitmennya untuk mencapai impian. Jangan lupakan pula, Bayu bisa merasakan aura Negeri Sakura bersama banyak peneliti dari negara lainpun karena sebuah tulisan. Maka dari itu, Bayu menganggap menulis adalah hal yang penting.
Sebagai penulis ilmiah, mahasiswa yang aktif di Komunitas Ilmiah Mahasiswa Ekonomi (KIME) dan Forum Aktif Menulis (FAM) ini menjadikan Stephen Hawking sebagai inspirator-nya.
Bayu menilai, kebanyakan orang biasanya menyerah pada keterbatasan. Padahal keterbatasan justru bisa menjadikan kita lebih bersemangat. Contohnya ada pada Stephen Hawking. Dia tidak bisa berjalan, bergerak leluasa, bahkan susah berbicara, tapi tidak pernah menyerah untuk terus menulis. Itulah kenapa Bayu menjadikannya sebagai sosok inspirasi.
“Karya-karya tulisan saya yang dulupun, setelah saya lihat sekarang memang lebih mirip tulisan balita. Tapi, karena itu pula saya bisa seperti sekarang. Jadi, jangan pernah takut untuk memulai, jangan pernah takut untuk gagal,” ujar Bayu menyemangati.
Bayu berharap, semoga banyak mahasiswa lain yang terbuka cara berpikirnya untuk tertarik terhadap dunia luar. Menurutnya jika ingin berkembang, kita harus keluar dari kandang.
Hanya satu hal yang menjadikan mereka berani menuju Jepang. “Karena kami mahasiswa. Mahasiswa itu jangan takut salah. Itulah yang membuat kita kuat,” ungkap Bayu sembari tersenyum hangat. Aziz R.