Novel               : Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek
Karya               : Djenar Maesa Ayu
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
“……Ketika saya
melamun tentang Ia dan Dia. Ketika Dia melamun tentang saya dan Ia. Ketika Ia
melamun tentang saya dan Dia. Ketika kami sudah tidak tahu lagi apa arti malam
sunyi, karena kesunyian di hati kami telah melampaui sunyi itu sendiri…..”
demikian cuplikan novel berjudul Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek
karya Djenar Maesa Ayu. Tokoh saya benar-benar tak bisa memilih Ia dan Dia.
Sementara seorang Ia adalah lelaki yang sudah resmi menjadi pasangan saya.
Namun godaan untuk ke pangkuan Dia pun mendorong kuat. Itu terlihat dalam
cuplikan cerita“…..Tetap ada Dia yang rindunya terbawa angin, sampai di atas
tempat tidur tua yang saya dan Ia tiduri semenjak malam pengantin….”  Saat
bersama Dia, tokoh saya selalu merindukan saat-saat percumbuan dengan Ia,
begitu saat bersama Ia, selalu merindukan degup jantung, persentuhan kulit di
antaranya, hingga percumbuaan yang menggairahkan.
Cinta. cinta
begitu rumit untuk diartikan. Djenar secara gamblang menceritakan cerita-cerita
cinta dalam Novel Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek yang terdiri atas
tiga belas cerita. Diantaranya Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek;
Nachos; Three More Days; Pasien; Ikan; Ha..Ha..Ha..; Suami Ibu, Suami Saya;
Dislokasi Cinta; Al + Ex = Cinta; Istri yang Tidak Pulang; Lolongan Di Balik
Dinding; Semalam, Ada Binatang; dan Hangover.
Cerpen-cerpen
Djenar seolah menghapus ketabuan tentang cinta yang telah diamini banyak orang.
Tentang kesetiaan untuk tetap memilih satu pasangan. Cinta yang setia dengan
satu pasangan hingga seumur hidup, misalnya. Hingga pendeskripsian menyoal
hubungan intim dalam sebuah pasangan. Djenar mendobrak itu semua. Tokoh Saya
meyakini sebuah percintaan adalah dimana seseorang merasa nyaman dengan
siapapun orang yang dikehendaki. Termasuk pilihan untuk melakukan hubungan
seksual. Sebab tanggungjawab atas apa yang dilakukannya menjadi tanggungjawab
sendiri, bukan lagi menyoal omongon orang di luar. Cinta bukan soal memilih
satu. Namun, cinta adalah ritme perjalanan hidup yang harus dinikmatinya. Cinta
tak perlu dibuat kekangan-kekangan dalam bertindak.
Tentunya satu
dengan yang lainnya mempunyai deskripsi cinta yang beda. Begitupun Djenar.
Tiada yang salah dalam mendeskripsikan cinta. Sebab cinta tak hanya menyoal
hitam putih. Cinta merupakan kebebasan, termasuk kebebasan untuk memilih.
Namun, cinta tidak pernah bisa memilih kepada siapa ia jatuh cinta. Dalam novel
ini, ia menggambarkan kenikmatan percintaan dengan elegan. Diksi-diksi yang
dipilih pun bisa dikatakan vulgar bagi orang pemula yang baru membaca karyanya.
Di sini kita tak menyoal tabu. Ini karya sastra. Setiap orang bebas
mengudarakan kata-kata. Novel ini tetap asyik untuk dinikmati sebagai karya
sastra wangi yang memberikan persepektif beda. DM