Pemberitaan
seputar kisruh pemilihan rektor (pilrek) Universitas Negeri Semarang (Unnes)
yang santer diberitakan belakangan ini menimbulkan kekecewaan dan keprihatinan berbagai
pihak. Peristiwa lapor-melapor ke polisi yang sempat mewarnai proses suksesi
rektor Unnes tersebut dinilai bukan teladan yang baik dalam kehidupan kampus.
Koordinator
umum Mahasiswa Peduli Unnes Raya (Maspur) Isna Laili Hikmah menyatakan,
prihatin dengan tindakan tersebut. “Kita bukan tidak suka kepada mereka (calon
rektor-red). Mereka adalah putra-putra
terbaik Unnes, semestinya menjaga moral dan etika dalam pilrek. Kita mengecam
cara mereka menelanjangi Unnes di masyarakat,” tuturnya.
Menanggapi
beragam kisruh tersebut, lanjut Isna, Maspur hendak melakukan aksi yang
menekankan pada gerakan moral. Gerakan tersebut diharapkan bisa menyadarkan
para petinggi Universitas dan seluruh masyarakat Unnes. “Kampus bukanlah lahan
perebutan kekuasaan. Kita adalah kaum akademik yang sepatutnya menerapkan
kaidah-kaidah akademik dalam kehidupan kampus,” katanya.
Isna
menuntut kejadian serupa tak boleh terjadi dalam pemilihan dekan maupun pilrek
selanjutnya. Sebelumnya, salah satu calon rektor Soewito Eko Pramono menyatakan,
tak semestinya pilrek dimasuki kepentingan-kepentingan pribadi di dalamnya. “Kampus
sebagai pusat akademik,” tuturnya saat bedah visi misi calon rektor, kamis
(3/7).
Mahasiswa dari berbagai fakultas di Unnes telah mendeklarasikan berdirinya Maspur. Maspur diharapkan bisa menjadi wadah dalam menanggapi fenomena yang terjadi di Unnes. “Keprihatinan saat ini adalah kisruh pilrek yang harus segera disikapi,” tegasnya, Jumat (4/7).