image : http://syarahrizkaapriliana.blogspot.com/
Kekuranganku, sudah kutimbun dengan semangat Ayahku. . Kekuranganku, akan kukalahkan, kubuktikan menjadi penerjemah. . menghamburkanku supaya terbang. Agar semua dunia tahu. Bahwa aku ada. Ia tak mengurungku. .
Tampak sosok gadis sedang bermain laptop kesayangannya ketika kami memasuki sebuah rumah sederhana di Jl. Kenangkan, RT. 01/RW. 07 Kel. Bergas Kidul, Kec. Bergas, Kab. Semarang. “Kalau mobil kakakku boleh dibeli, saya rela mencicil sampai lunas demi kemudahan mengantarkan anak saya ke Unnes,” jelas Herlambang (44) sambil menuntun sosok itu menemui kami, Ahad (31/08).
Natalia Hersaniati (19) namanya. Seorang dara yang kini tercatat sebagai mahasiswa baru (maba) di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Ayahnya, Herlambang Pambudi mendorong kursi roda yang ditumpangi anaknya mendekati kami. Awalnya, Natalia adalah gadis normal seperti umumnya. Namun, ketika umur 15 bulan dia terkena panas tinggi. Setelah dibawa ke puskesmas terdekat, dokter mendiagnosis Natalia terkena polip sehingga beberapa sarafnya tidak berfungsi optimal.
Kesungguhan Natalia ingin berkuliah membuat sang Ayah turut mendukung semangatnya. Kekurangan fisik Natalia bukan menjadi sebuah halangan baginya untuk mengikuti Program Pengenalan Akademik (PPA) selama 2 hari di FBS. Beberapa mahasiswa mengakatan, ia sangat antusias saat menjalani PPA, hingga naik turun tangga saat Technical Meeting di jurusannya. Ayahnya pun selalu sedia menggendongnya.
Mahasiswa yang bercita-cita menjadi penerjemah ini mengatakan, sosok yang menginspirasinya adalah Ayahnya. Setiap hari, Herlambang mengantar pergi-pulang anaknya memakai mobil milik kakaknya. Sekali pergi-pulang bisa menghabiskan lebih kurang Rp. 50.000. Untuk biaya kuliah anaknya, sang ayah meminjam uang pada beberapa pihak. 
“Kalau bisa, haknya sebagai mahasiswa difabel lebih diperhatikan daripada mahasiswa pada umumnya, baik untuk kuliah maupun untuk fasilitas kuliah di Unnes.” ujar suami dari Meliana Susan Supriatun (43) ini. Ketika Natalia harus berkuliah di lantai 3, Sang Ayah dengan rela mengangkatnya dari kursi roda sebelum menggendongnya naik ke lantai 3. Setelah itu, Natalia dikembalikan lagi ke kursi roda. Sang ayah rela mengorbankan apapun asalkan Natalia dapat menyelesaikan studinya di Unnes sampai akhir.
“Beberapa novel favoritku antara lain karangan Agatha Christie, Dan Brown, serta J.K. Rowling. Selain itu, sehari–hari saya membaca novel dan e-book bahasa inggris,” tambahnya sembari  menonton Doraemon diselimuti kehangatan keluarga ini. Gilang