Oleh : Lina Purwati
Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Negeri
Semarang 2014
“Cuma teman,” ujarku pada Mbak Nadia.
Dia masih menaikkan alisnya, meminta penjelasan lebih dariku. Aku menarik napas
panjang lalu mengangguk, meyakinkan padanya bahwa laki-laki yang mengantarku
pulang tak lebih dari seorang teman.
Kulepas jaket yang dipinjamkan Dzawin.
Hmmm… aroma parfumnya menempel di badanku. Mungkin…casablanca, aku tak
begitu yakin. Kuregangkan tubuhku. Rasanya lelah tapi juga menyenangkan. Sudah
lama, aku tak menghabiskan waktu pulang kerja seperti tadi. Makan malam, nonton
film, belanja dan jalan-jalan.
Lelaki yang baik, batinku saat dia
meneleponku dan menawarkan tumpangan. Aku tak langsung mengiyakan. Tapi berubah
pikiran saat dia memintaku menemaninya makan sambil membahas reuni SMA. Dulu,
kami memang aktif di organisasi intra sekolah.
Dia masih sama seperti dulu. Kaca
matanya yang belum ia ganti sejak SMA, wajahnya yang tirus, rambutnya yang
masih acak-acakkan, senyumnya yang menawan, tawa renyahnya saat bercanda, dan
banyolannya yang tak ku tahu kapan akan habis.
“Kau yakin?” Kakakku masih saja menginterogasiku.
Aku mengangguk.
“Usiamu sudah dua puluh lima tahun, kau
tak ingin menikah?” pertanyaannya menusukku. Tentu, aku ingin menikah.
“Apa kau masih menunggunya?” Lagi-lagi
pertanyaannya membuatku menelan ludah pahit. Aku bungkam dibuatnya.
“Iya kan?” Kali ini dia
mengguncang-guncang bahuku, “kau masih menunggu laki-laki itu?” Aku semakin
tertunduk.
Aku mendongak lalu mencoba tersenyum,
kecut. “Aku hanya menunggu laki-laki yang tepat,” ujarku kemudian.
“Menunggunya terus-menerus dan tak
membuka hatimu untuk laki-laki lain?”
“Bodoh!” umpatnya melihatku tak
bersuara. Dia lalu menarik tanganku dan menunjuk-nunjuk bayanganku di cermin.
“Lihat!” pekiknya, “Mau sampai kapan
kau menunggunya?” kakakku berbisik di belakangku.
“Sampai waktu membuat pipi-pipi ini tak
lagi kencang? Sampai ada kerutan di sudut matamu? Sampai waktu bergulir cepat
dan hanya kau habiskan untuk menunggu?” Tambahnya yang membuat bulu kudukku
berdiri.
Aku masih bungkam dan memerhatikan
bayanganku di cermin. Mata yang terlihat lelah. Semestinya, pekerjaanku sebagai
teller di sebuah bank swasta tak membuat mataku sedemikian. Aku tahu, mata ini
lelah menangis, menunggunya tak kunjung kembali.
“Mbak,” panggilku lirih, “bukannya
jodoh cerminan diri kita? Aku yakin jodohku juga sedang menunggu dengan
mempersiapkan diri sebelum hari itu tiba.”
Mbak Nadia tak bersuara. Dia hanya
menatapku jengkel jika aku sudah berkata seperti itu.
***
Surat undangan itu masih terlihat manis
di meja riasku. Aku menatapnya nanar. Jika ada nama Dafa tertulis di kertas
coklat itu, namakulah yang kuharap bersanding dengannya. Bukankah itu hadiah
yang pantas setelah menunggunya bertahun-tahun? Menghabiskan masa selepas SMA
hanya untuk melamunkan wajahnya, membayangkan pernikahan itu akan terjadi.
Dua anak sungai mengalir deras dari
sudut mataku. Sakit. Aku menekan ulu hatiku dalam-dalam. Tak banyak membantu,
rasanya tetap sakit. Mataku kian panas menatap undangan itu. Dafa dan Dila.
“Meta!” teriak kakakku muncul dari
balik pintu kamar, “Dzawin sudah jemput.”
Aku membelalakkan mata. Kupikir Mbak
Nadia yang akan menemaniku ke pernikahan Dafa. Memang, dua tahun belakangan
ini, aku sudah terbiasa dengan kehadiran Dzawin. Dia rela mengantarku
kemanapun, menemaniku makan kapanpun, mendengar keluhanku dan tak segan datang
jika kuminta. Bahkan, sikapnya tak berubah saat tahun lalu ku tolak
permintaannya meminangku dengan alasan aku belum siap. Tapi, tetap saja aku tak
enak hati, dia mengantarku untuk menemui laki-laki lain.
“Kenapa harus diantar Dzawin?” protesku
tak setuju, “aku bisa naik taksi,”
“Mbak nggak mau lihat adik kesayangannya
bunuh diri di jalan.” candanya membuatku kian pilu membayangkan pernikahan
Dafa.
Aku segera keluar dan tak ingin Dzawin
menunggu lama. Dia menatapku tak seperti biasa. Matanya menyipit sambil
tersenyum. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
“Ada yang salah?” tanyaku sambil
mengingat penampilanku. Rambutku yang panjang ku biarkan terurai. Long white dress tanpa lengan membalut
tubuh semampaiku dengan high heels berwarna
senada yang menghiasi kakiku. Rasanya, tak ada yang aneh. Serasi dengannya yang
memakai setelan jas putih.
“Nggak ada, kamu cantik,” pujiannya
membuatku tersipu malu, “dan terlihat lebih muda,” lanjutnya yang membuatku
tertawa lantas mencubit perutnya.
***
Dulu, setiap kali reuni, aku selalu
menunggunya. Gelisah, celingukan mencari
dirinya di antara kerumunan teman lama yang hadir. Sampai-sampai aku lupa untuk
apa aku reuni. Bukannya membuka kenangan justru mencari kenangan. Tapi
sekarang, aku menikmati reuni. Membahas hal-hal lucu masa SMA hingga berkata
pada mereka bahwa aku tak lagi sendiri.
Di tengah gelak tawa, aku melihat
lelaki itu hadir. Lelaki berambut spike dengan dua lesung pipit yang membuat
senyumannya dulu ku rindukan. Lelaki beralis tebal, berhidung mancung dengan
mata lebar penuh kehangatan. Dia kembali.
Dia lalu menarik tanganku, menaiki
tangga berulang kali. Aku sedikit kesulitan mengimbangi jalannya dengan high heels hitam yang kukenakan.
Berulang kali, aku ingin berontak tapi aku terlalu lemah melawannya.
Dia berhenti saat kami tiba di atap
sekolah, lantai tujuh. Aku mendengar napasnya memburu, begitupun diriku.
Napasku serasa hampir habis. Dia lalu menatapku dalam-dalam. Lantas, mengecup
punggung tanganku. Aku tersenyum kecut melihat perlakuannya yang terlalu manis.
“Untuk apa kau kembali?” tanyaku pilu.
Bukannya menjawab, dia malah tersenyum
kian lebar dan menatapku makin dalam.
“Lihat!” teriaknya saat cahaya oranye
menyatu dengan kami.
Indah, batinku. Dulu sepulang sekolah,
kami sering menghabiskan waktu di sini. Berdiam diri menatap keindahan senja,
bersama keindahan manusia. Setelahnya, kami hanya saling bertatap muka dan
tersenyum. Kemudian bergandengan turun dan mendengar detak jantung satu sama
lain. Tapi sekarang tidak, hatiku sudah berbeda.
“Untuk apa kau kembali?” ulangku saat
cahaya oranye memudar, berganti gelap.
Dia lalu mengalihkan pandangannya, ke
arahku. Menatapku sejenak, lantas berucap lirih, “Untukmu.”
Aku terus menggeleng lalu melepas
genggamannya. “Kembalilah pada Dila,”
Mimik wajahnya berubah masam. Dia lalu
menjatuhkan tubuhnya dan duduk beralaskan semen.  Tanpa sadar aku ikut duduk di sampingnya tak
memedulikan short black dress yang
terkena debu.
“Aku bercerai dengannya,” ujarnya
lemas.
“Karena itu kau kembali padaku?”
Lagi-lagi dia menatapku seperti tadi,
memohon. “Aku tahu kau masih sangat menyayangiku, kudengar selepas SMA kau tak
pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun…sebelum menikah dengan Dzawin,”
dia menyeringai.
“Lebih tepatnya kau masih menungguku
kembali,” ucapnya lagi.
Aku tersenyum semakin kecut, “Dan
berhenti menunggumu dua tahun yang lalu,” ujarku yang membuatnya berhenti
tersenyum.
Tak ada lagi suara di antara kami. Aku
bangkit. Dia ikut berdiri lalu meraih tanganku. “Jangan membohongi perasaanmu!”
“Kau berlari pada Dzawin kan?” Jantungku
serasa berhenti berdetak, “Kau tak kasihan padanya? Mempersembahkan setiamu
tanpa cinta?”
Aku menggeleng menatapnya. “Aku
mencintainya, dia lelaki yang baik, dan kau? Tak lebih dari cinta pertama yang
hanya meninggalkan harapan berjuta luka.” ujarku sinis.
“Karena itu kau lari pada Dzawin?”
Aku tersenyum mendengar kalimatnya yang
terlalu pecaya diri. “Justru aku bodoh jika lari pada Dzawin.”
Dia mengangkat alisnya, lalu aku
melanjutkan kalimatku, “Hati wanita itu serapuh kaca, jika pecah kau tak akan
bisa mengembalikannya seperti semula. Saat kupikir hatiku akan pecah melihatmu
menikah dengan Dila ketika itu aku sadar, aku bukan menunggumu, aku menunggu
diriku siap untuk memasuki fase baru dalam hidupku. Melihat kalian bahagia
seolah memperlihatkan padaku bahwa aku juga akan bahagia bersama Dzawin.”
Dafa memelukku, mengelus rambutku.
“Kembalilah padaku, akan kutunggu kau bercerai dengan Dzawin.” bisiknya.
Refleks, kudorong tubuh Dafa menjauh.
“Mungkin, saat SMA aku akan menjadi wanita paling bahagia,” ujarku datar, “tapi
sekarang aku sadar cintaku padamu hanya seindah senja. Sangat indah tapi
berlalu begitu cepat. Tapi cinta Dzawin? Dia memberiku cinta setiap hari,
merasakan cintanya tumbuh semakin besar hingga aku tak pernah mau
kehilangannya. jangan kembali padaku, aku sudah bahagia dengan Dzawin.”
Aku membalikkan badan dan melihat
Dzawin berdiri di atap dengan pipi basah. Aku berlari dan menghapusnya.
Menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukannya. “Maafkan aku,” ujarku lirih berulang
kali.
“Kembalilah padanya, aku baik-baik saja,”
balasnya tak kalah pelan.Aku melepas pelukanku dan menatapnya dalam. Kedua mataku
memanas.
“Lagipula, kau tak pernah mendengarkanku,
bukankah itu karena kau tak mencintaiku?” Dzawin berujar lagi.
Aku terus menggeleng. “Aku selalu
mendengarkanmu, meminta ijin padamu setiap kali pergi, memasak untukmu, aku
melakukan tugasku sebagai isterimu karena aku mencintaimu.”
“Sejak kapan?” Dzawin bertanya seolah
aku menjadikannya pelarian.
“Aku tak tahu.”
“Lalu kenapa kau mau menikah denganku
bulan lalu?” Aku mendengar nada getir darinya.
“Karena aku mencintaimu,”
“Kenapa kau mencintaiku?”
“Apa cinta butuh alasan?”
Dzawin menggeleng. “Aku hanya belum
percaya,”
“Empat tahun lalu kita kembali bertemu
di reuni SMA, kau kembali mengajarkanku bahagia dan bulan lalu saat kau kembali
meminangku aku tahu akan ada banyak bahagia karena aku tahu bersamamu membuatku
bahagia,” ujarku sambil memegang tangannya.
“Kalau aku memberikan kesedihan, apa
kau masih mau bersamaku?”
“Aku yakin kau tak akan melakukannya,”
Dzawin menaikkan sebelah alisnya dan
memanyunkan bibirnya. Aku tertawa melihatnya bersikap seperti itu.
“Kamu tahu, saat seorang wanita dewasa
memutuskan untuk menikah, itu adalah awal bahagia dan pengabdian seumur hidup
pada suami. Menekan ego, mengerti satu sama lain, mengutamakan kepentingan
bersama, dan itu tak mudah. Tapi aku percaya, aku bisa melakukannya bersamamu.”

Lengkungan bibir itu kembali mengisi
kebahagiaanku. Aku lalu memeluknya erat, “Aku mencintaimu,” bisikku yang
membuatnya memelukku semakin erat dan membenamkan dagunya semakin dalam.