Chris Blackwell boleh saja menyandang
gelar Bapak Musik Reggae. digandrungi sejuta umat Benua Putih. Atau para musisi
terkenal dunia seperti The Beatles, The Police, Ken Boothe bahkan Eric Clapton
mencipta banyak musik beraliran reggae. Namun, ketika berbicara reggae, hanya
ada satu nama yang sama cepatnya muncul di pikiran saat kata reggae diucapkan.
Bob Marley. Kaisar Reggae Dunia.
Ia bukan hanya sekadar orang yang terjun
di dunia seni, menjadi seorang musisi reggae. Namun, Bob secara lahir dan batin
mencintai musik ini. menjadikannya semacam corong luapan emosi yang menumpuk di
pikirannya. Ketika perlawanan fisik dan idealism teori tidak lagi mampu
merubuhkan kekuasaan. Ketika kata-kata tak lagi mampu mengonstruksi perubahan. Seni menjadi satu pilihan. Seni pada akhirnya menjadi pilihan, sebagai saluran ekspresi
nurani dan juga alat perlawanan yang mampu menggalang lebih banyak pasukan. Itu
pula yang dibawa sekaligus diyakini oleh Bob sebagai manusia biasa dari Jamaica
yang memimpikan datangnya surga di tanah mereka. Kedamaian bagi seluruh rakyat,
bebas dari segala bentuk penindasan dan kekuasaan sewenang-wenang.
Biografi Bob marley
Cover Bob Marley di majalah Populer

Perjuangan Bob mengendarai musik reggae
untuk misi tersebut tidaklah sederhana. Ada berbagai rintangan, ancaman
pembunuhan, dan diskriminasi yang mencoba mematahkan mimpinya menerbitkan
harapan bagi Jamaica. Bob tak berhenti melawan, hingga ajal menjelang pada 21
Mei 1981. Jamaica hujan air mata, bendera setengah tiang dikibarkan oleh rakyat,
upacara kenegaraan digelar, enam prajurit mengangkat peti matinya yang
diselimuti bendera nasional. Kereta kuda yang mengangkut jasadnya bergerak
perlahan menuju puncak keabadian di bukit San Anns. Ribuan kaum rastafarianisme
mengiringnya di belakang, tak peduli walau harus meniti setapak jalan padang
tandus selama enam jam. Kaum rastafarianisme telah menganggap Bob sebagai
pahlawan. Jamaica telah kehilangan satu pahlawan nyata, yang dengan sepenuh
kekuatan dan keyakinan mencoba membawa surga di tanah Jamaica.

Bob meninggal tanpa sempat melihat
kedamaian negerinya. Namun barangkali Tuhan Maha Bijaksana menuliskan takdir
agar Bob Marley melihat surga telah sampai di negerinya dari surga di alam
sana.
(Baca : Reggae dan Ekspresi Perlawanan terhadap Penindasan)

Awal Karier Bob Marley

Bob Marley lahir di dusun Nin Mile.
Ibunya, C. Booker adalah seorang kulit hitam, sedang ayahnya, Norval Sinclair
Marley adalah pria kulit putih. Sang ayah, seorang tentara berpangkat Kapten,
mengharapkan anaknya menjadi pemain bola professional. Namun Bob kecil pandai
meramal dan lebih tertarik pada ilmu kebatinan. Ia—Bob Marley—lebih suka hidup
di jalanan sebagai anak nakal dan belajar bermain gitar.
Saat Bob berusia sepuluh tahun, ia pindah
ke Kingston. Bersama kawan serumah, Benny Livingstones—yang di kemudian hari
mengganti namanya menjadi Bunnya Wailers—mereka membentuk trio musik dengan
nama The Walling Wailers bersama Peter Tosh. Kelompok tersebut kemudian juga menggunakan
nama “Wailing Soul” dan The Wailing Rudeboys”. Rasta sebagai musik visual dan
ekspresif kaum Rastafarianisme menjadi ruh trio tersebut dalam menuangkan
ekspresi mereka atas ketidakpuasan dengan suhu politik yang panas di Jamaica.
Seri album mereka bertajuk “Simmer Down”, “Put
It Down”, dan “Rude Boy” mendapatkan simpati dan apresiasi rakyat Jamaica. Kemudian,
Lee Perry pada tahun 1969 mengorbitkan The Wailers lewat label “Upsetter” untuk
dua album barunya, “Rasta Revolutions” dan “African Herbsman”. Namun setelah
label produksi album “Burnin” sukses membakar apresiasi rakyat, Bunny dan Tosh
memilih keluar. Bunny memilih menjadi peternak di sebuah lembah dan
mengeluarkan album solo, sedang Tosh pindah kontrak ke label Rolling Stones
sekaligus pindah bentuk musik ke fuse
reggae
dan disko.
Bob Marley tetap stagnan di tempat,
mencoba meneruskan apa yang telah dibangunnya bersama The Wailers. Untuk
menutupi kekosongan tersebut, Bob merekrut kelompok rastafarianisme wanita, “I
Three” yang di dalamnya terdapat Rita yang kelak menjadi istrinya. Langkah
awalnya cukup sukses, bahkan menjadi pijakan awal bagi Bob menembus persaingan
musik dunia. Menghantarkan reggae sebagai warna baru musik yang berasal dari
Jamaica ke pentas dunia melalui albumnya “Natty Dread” dan “Rastaman Vibrations”
yang membuatnya pertama kali berhasil menduduki “Top Ten” Amerika.

Kekecewaan Bob

Tenar bukan suatu pertanda yang baik bagi
Bob. Ia telah ditunggu berbagai macam ancaman maut semenjak dirinya dikenal
dunia. Contoh saja, di bulan Desember 1976, usaha pembunuhan dikonstruksi untuk
Bob di depan 50.000 penonton pada acara Smile Jamaica. Masih di tahun yang
sama, Bob beserta keluarganya di teror. Beberapa orang bersenjata menembaki
rumahnya. Bob cedera tangan, sedang Don Taylor—managernya—luka parah karena
mencoba melindunginya. Peristiwa itu membuat Bob terguncang dan memutuskan
untuk pindah tempat ke Inggris dan Amerika.
Karya Bob terus mengalir di tanah
perantauan. “Exodus” dan “Kaya” yang digarap di tanah perantauan menjadi hit
dunia. Nama Bob menjadi semakin tenar, membuat para politisi Jamaica
menggaetnya untuk pulang dalam rangka pencitraan politik. Kehadirannya di
kampung halaman untuk menggelar aksi damai, “One Love Peace” berakhir beda dari
prediksi. Nama besar Bob Marley justru dijadikan alat untuk menguasai
pertarungan politik antara Perdana Menteri Michael Manley melawan Edward Seaga.
Bob untuk sekian kalinya kembali kecewa pada Jamaica.
Kekecewaan tersebut mencuat dalam albumnya
“Tuff Gong” dan “Survival”. Bob tetap teguh sendirian, menyuarakan
protes-protesnya melalui musik. Ia juga dengan senang hati menerima undangan PM
Zimbabwe, Robert Mugame. Ini menjadi pinjakan kepercayaan diri bagi Bob untuk
menyuarakan pesan-pesan revolusinya pada saudara sebangsa dan senasib di
Afrika.
Karya Bob terus lahir. Ia teramat cerdas
dan berjiwa seni tinggi sehingga setiap karya yang lahir darinya menuai
berbagai apresiasi, dan tak luput pula menjadi sasaran tujuan ekonomis bagi orang lain. Kepiawaian
Bob digunakan sebagai alat mengeduk finansial bagi beberapa pihak. Penyanyi
Johnny Nash menjadi tenah melalui lagu-lagu garapan Bob. Leslie Kong pun turut
tertarik pada hasil yang dicapai Bob. Ia menjadi produser yang mengeluarkan
almbum lama Bob berjudul “Best of The Wailers” yang mendatangkan banyak uang. Namun,
Bob adalah ahli ramal. Ia meramalkan bahwa Leslie Kong tak akan menikmati uang
tersebut. Terbukti, Kong meninggal pada umur 38 tahun karena serangan jantung.
Bob terus melangkah. Tahun 1971, London
menjadi wilayah pengembangan baru bagi Bob. Tahun 1973, Bob merilis “Catch A
Fire” yang tenar sejagat. Album “Burning” di tahun yang sama juga membuat Bob
semakin diterima di London dan dunia. Tahun 1975, album “Natty Dread” dengan
lagu seperti Talkin’ Blues, No Woman No
Cry, So Jah She, Revolution
sangat digandrungi.

Bob Adalah Pahlawan

Mei 1980, Bob merilis album “Uprising”
sekaligus menjadi awal kesehatannya yang semakin menurun. Dapat dibayangkan,
saat ia telah memasuki dunia di mana ia diterima sekaligus dipuja, ia hanya
tiga dua sampai tiga jam setiap malam. Pada saat menjelang ajalnya, Bob lebih
banyak berfalsafah akibat ketenaran dan uang yang menyangkut hidupnya. Membuat dirinya
tidak lebih peduli kepada tubuhnya sendiri.
Oktober 1980, Bob dijadwalkan naik
panggung dua kali di Madison Square Garden, USA bersama The Commondores. Namun
ia hanya mampu tampil satu kali. Di atas panggung di penampilan yang keduanya,
ia jatuh pingsan. Bob didiagnosa menderita kanker ganas.
Namun ia tak mau mundur. Setelah berobat
dari New York, ia masuk klinik spesialis Dr. Josef Issels. Rawat inap selama
hampir lima bulan, membuatnya merasa kuat kembali berkarya. Jadwal kepulangan
ke Jamaica disusun untuk menerima penghargaan “Bintang Ja-Sa” atas suara-suara
revolusi untuk Jamaica yang mulai mendingin.
Sesuai jadwal, Bob terbang ke Florida dan
dilanjutkan menuju Jamaica.  Namun penyakitnya
kambuh. Ia masuk rumah sakit Miami dan menghebuskan nafas terakhirnya pada 21
Mei 1981.
Bob diterbangkan menuju kampung
halamannya. Bendera setengah tiang dikibarkan menyambut kedatangan Sang Kaisar.
Jamaica hujan air mata, seluruh dunia sendu dalam duka. Di tengah duka cita,
Rita Marley muncul menyanyikan lagu Rasta Man Chant bersama dua anaknya. The
Wailers menghentak bass dan drumnya di atas panggung terakhir. Puluhan ribu
manusia serempak berteriak: Rasta…Rasta…! Jamaica luluh dalam hujan air mata,
mengiring Sang Kaisar, pahlawan mereka, menuju tempat peristirahatan
terakhirnya.
Bob telah lelap dalam tidur panjangnya.
Namun ia, dengan segala ambisi dan kekurangannya sebagai manusia telah
menghadirkan surga di tanah Jamaica melalui aliran kepercayaan Rasta. Reggae adalah
sebuah harapan akan datangnya surga dan lenyapnya neraka. Dan Sang Kaisar, Bob
Marley telah menghadirkannya untuk kaum Rastafarianisme yang  meyakininya sepenuh hati sebagai sebuah agama.
Rasta adalah agama, dan Marley adalah nabi yang diutus sebagai petunjuk jalan
bagi kaumnya, rakyat Jamaica. Tak salah jika upacara kenegaraan, bendera
setengah tiang, dan selimut bendera nasional menegaskan bahwa Bob bukan sekadar
musisi dunia. Bob Marley adalah pahlawan nasional Jamaica.
Muh Irkham, Penikmat Musik Reggae