Oleh: Nailus Salsabila


M. Aan Mansyur meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul “Melihat Api Bekerja”. Buku kumpulan puisi ini terdiri atas 54 puisi karya Aan Mansyur. Penulis yang berasal dari Makasar ini menuliskan puisi-puisi bertema sosial, budaya, isu-isu kontemporer, keluarga, dan cinta. Aan menyampaikan keresahan hatinya akan apapun yang ia lihat, dengar dan rasakan.

Entah mengapa Aan memberikan judul “Melihat Api Bekerja” pada kumpulan puisinya. Bukankah hal tersebut merupakan hal yang cukup tidak biasa? Jika kebanyakan orang akan berusaha memadamkam api ketika tengah melahap apa yang ada di depannya, maka Aan akan duduk manis saja sambil melihat api bekerja. Itu yang saya pikirkan ketika pertama kali mendengar serta membaca judul puisi tersebut. Saya tidak pernah meragukan puisi. Saya pun tidak meragukan puisi milik Aan dan Aan.
Saya pikir puisi-puisi di dalam “Melihat Api Bekerja” akan menguraikan berbagai hal dengan kepadatan kata-kata yang indah seperti yang biasa saya temukan di kebanyakan puisi. Namun, apa yang saya temukan pada puisi-puisi Aan tidak sama seperti puisi-puisi dari pengarang lainnya. Pada awalnya, saya sama sekali tidak memahami maksud dari puisi-puisi Aan. Akan tetapi, lama-kelaman saya menjadi paham. Terlebih pada saat saya membaca puisi berjudul “Tentang Kebohongan”. Agak sedikit terlewat jauh memang. 
Aan bukanlah pengarang yang romantis, saya pikir. Jika perempuan seperti saya ini pasti ingin membaca puisi yang romantis dan membuat bibir tersenyum-senyum sendiri. Tapi justru saya tersenyum lebih lebar saat membaca puisi-puisi Aan daripada puisi romantis. Ada suatu kepiluan, sesuatu yang sangat membuat jiwa terpukul, lalu hal tersebut menjadi bahan canda oleh rangkaian kata-kata di dalam puisi Aan. Demikian, bukannya ikut sedih, jadi diam, dan merenung, saya malah tertawa. Bukan karena tidak paham, melainkan itulah yang saya rasakan, tertuang pada puisi-puisi aneh milik Aan, ada satu taman bermain yang hanya saya dan mungkin Aan sedang bermain di sana. 
Aan ingin mengajak kita sadar bahwa kita sedang berada dalam penjara perasaan, kungkungan keterikatan zaman yang makin modern, seperti tembok Berlin yang terbangun diantara perasaan dan akal kita. Gerusan individualisme, teknologi, dan lainnya yang bersifat dunia adalah tantangan bagi kita. Aan pun ingin kita paham ada sebuah rindu yang tidak akan pernah dipahami oleh seorang anak: rindu yang disulam oleh ibunya di rumah menjadi sapu tangan. Aan ingin kita merasakan sebuah sepi yang dirasakan seorang ayah menghadapi rutinitasnya. Aan ingin kita bermain, mengurus pekarangan rumah, menyapa tetangga, menyapa ibu, mengobrol dengan ayah, dan hal-hal lainnya yang seolah menjadi remah-remah roti saja belakangan ini. Memang tampak sangat konvensional dan sederhana. Tapi apakah kita setiap hari melakukannya?
Aan juga ingin perempuan menjadi lebih berani, bukan hanya sekadar ingin dimanja dan diperhatikan. Saya ingin mengajak orang-orang juga membaca buku kumpulan puisi ini. Buku ini ibarat sebuah kota. Kota yang terdapat lintasan rel kereta api yang berputar, memutar, diputar. Meski tidak ada taman bermain, tapi gedung tinggi, jalan yang penuh mobil-bus-angkot-motor-gojek-taksi adalah tempat bermain kita. Melihat dari sisi lain. Seorang perempuan di dalam diri saya yang merupakan perempuan jadi ingin naik biang lala sambil melihat api bekerja.
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2014