Oleh: Aziz Imron Rosadi
Entah sejak kapan mentari tak muncul-muncul juga meski hari sudah menunjukkan pagi. Setiap pagi ayam hutan bingung kapan harus berkokok untuk membangunkan seantero jagat hutan. Sejak saat itu hingga kini, tak ada bedanya antara pagi dan malam. Hanya gelap yang menyelimuti tempat kami.
Aku agak tidak percaya ketika burung-burung penyampai berita menceritakan tentang si Merah yang sangat ganas. ”Si Merah tak tahu kapan harus berhenti! Kami semua dibuat kacau olehnya,” begitu kata salah satu dari burung itu.
Aku kecewa. Mestinya mereka bergembira seperti biasa. Bergembira ketika mentari pagi menyapa, mulai menghangat, hingga berubah menjadi senja. Sekali lagi aku kecewa. Kecewa bukan karena kawanan burung itu berhenti bersenandung dibawah langit senja. Bukan pula karena kabar tentang si Merah yang ganas. Aku hanya kecewa mengapa senja tak pernah hadir akhir-akhir ini? Kemanakah perginya ia?
***
Pagi ini aku hampir kehabisan napas. Langit tiba-tiba kedatangan asap panas. Aku sendiri bingung ketika datang asap yang seperti itu. Karena biasanya asap pagi tak sepanas ini. Ditambah sesak nafas yang terjadi pada teman-temanku. Aku hanya bisa diam menatap sekelilingku yang mulai berlari menjauhi asap panas itu. Jikalau pun aku lari, aku harus lari kemana? Karena semua tempat di hutan ini sudah dipenuhi asap panas. Aku bertanya-tanya ada apakah dengan kabut asap pagi ini? Apakah dia marah dengan kami? Jika marah apa salah kami?
 ”Sudahlah, tak usah dipikirkan,” batinku.
 Aku disini setia menanti senja hadir. Aku rindu kehadirannya. Aku ingin bercerita tentang kejadian akhir-akhir ini di tanah kelahiranku ini. Tentang langit yang tak lagi biru dan kabut asap pagi yang mulai marah.
***
Tak ada yang bisa kulakukan ketika aku melihat kematian teman-temanku. Satu persatu mulai lemas dan akhirnya mati terbujur kaku. Aku semakin tak mengerti dengan kejadian aneh ini. Aku bingung dengan semua kejadian ini. Apa mungkin kabut asap itulah penyebabnya? Tidak! Itu tidak mungkin. Selama ini kabut asap selalu ramah di pagi hari. Kabut ini berbeda dari biasanya, mereka lebih pekat.
Selang beberapa jeda waktu kemudian, barulah aku tersadar. Ternyata kabut asap itulah penyebabnya. Kabut asap itu mengisap semua persediaan pernafasan kami semua. Namun terlambat bagiku untuk lari. Aku kehabisan udara. Aku tak bisa bernafas lagi. Aku rasa kini ajalku telah tiba.
”Auuuuu!!!” teriakku.
Aku tergagap saat ada sesuatu menyentuh kulitku. Aku tak tahu siapa itu. Namun, hawa panas di sekelilingku mulai menyentuh tubuhku. Ditambah pohon-pohon yang mulai mengering dan berubah menjadi kehitaman. Ada satu yang aneh! Ada makhluk berwarna merah diantara pepohonan itu.
Aku bingung mengapa aku masih hidup? Atau ini berada di dunia lain? Aku tak ingin terlalu memikirkannya. Yang ku tahu saat ini lari sekencang-kencangnya agar tidak dimakan oleh si Merah. Tapi tubuhku tak bisa kugerakkan. Semua tulangku seakan kehilangan tenaganya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Ya, perkataan para burung yang menyampaikan berita ini.
”Inikah si Merah yang tak tahu kapan harus berhenti itu?” tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Aku ingin lari sekencang-kencangnya. Tubuhku yang semula lemas, kukuatkan untuk lari sekuat semampuku. Intinya tak ingin diriku ini termakan oleh si Merah.
***
Meskipun begitu, aku akan tetap berlari sekuat semampuku. Tak peduli apapun yang di depanku. Aku akan terus berlari, berlari dan berlari. Aku tak boleh mati di sini. Aku harus bertahan hidup karena aku ingin melihat senja. Setidaknya melihat untuk yang terakhir kalinya. Terengah-engah diriku menjauhi si Merah. Kini, nafasku hampir habis. Untung saja aku tak jatuh. Jika aku terjatuh, mungkin saja aku sudah termakan oleh si Merah. Aku tahu tak ada tempat untuk berlari lagi. Jelas sekali kulihat kepulan asap hitam mengitari seluruh penjuru hutan. Semuanya telah dikepung oleh si Merah. Tamatlah sudah riwayatku. Ini hanya soal waktu sebelum aku mati.
 Aku ingin berdoa di hadapan senja. Memohon pada nenek moyang kami untuk memberikan cahaya senjanya. Menerangi setiap penjuru hutan dengan cahaya yang menenangkan. Menyudahi segala keresahan yang menimpa kami dan melenyapkan si Merah dari muka bumi. Aku ingin hutan yang dulu. Hutan yang kata Bunda surganya kami.
Kini, surga kami telah dirampas oleh si Merah. Meskipun begitu, Bunda pernah bercerita tentang makhluk yang paling mengerikan di alam ini, manusia. Katanya manusia adalah makhluk yang paling ganas di muka bumi ini. Bahkan harimau si raja hutan pun tak bisa mengalahkan manusia. Manusia merupakan iblis bagi alam ini. Setiap hari mereka merampas hak penghuni hutan untuk dijadikan surganya sendiri. Sementara penghuni hutan dipaksa pindah atau dibunuh, bahkan ada yang dijadikan pajangan dan dipenjara.
Semakin ngeri saja mendengar cerita bunda tentang manusia. Mereka yang hampir mirip dengan jenis kami sudah merasa paling berkuasa. Kami para penghuni hutan semakin terpinggirkan dan terasingkan. Konon, kata bunda sebelum manusia diangkat ke langit, mereka adalah sebangsa dengan kami. Hidup di pohon, makan bersama, berjuang hidup bersama pendahulu kami. Namun, semua berubah saat pendahulu manusia diangkat ke langit oleh utusan Tuhan, malaikat.
Manusia merasa paling hebat setelah kembali dari langit. Mereka sudah tak mau lagi hidup sealam dengan kami. Mereka tak mau hidup di pohon, makan bersama, ataupun berjuang hidup bersama bangsa kami. Mereka sudah menyombongkan diri. Hidup di dalam goa, membuat dinding sekat dengan alam.
Menurutku manusia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan si Merah. Jelas sekali perbedaannya. Manusia merusak hutan selama bertahun-tahun, namun tak pernah sampai ke tempat kami. Si Merah makhluk yang entah dari mana asalnya bisa merenggut hutan dan banyak nyawa dalam hitungan hari. Selama ini si Merah bersembunyi. Rimbanya dan asal-usulnya tidak ingin diketahui oleh penduduk hutan. Bersembunyi untuk menghancurkan semuanya. Ganas sekali makhluk berwarna merah itu.
Kuhentikan pikiranku tentang makhluk penghancur alam ini. Aku menangis selama pelarianku. Hanya langit hitam pekat dan asap anas yang menemaniku. Tak ada hijau pepohonan lagi. Tak ada tempat untuk aku bersembunyi lagi. Aku menangis karena ayah dan bundaku hilang entah ke mana. Semuanya hilang. Tempatku memandang senja pun musnah. Semuanya dihancurkan si Merah.
Aku menangis karena tak ada senja yang akan menyapaku lagi. Senja menghilang entah kemana. Atau mungkin senja sudah mati? Ataukah dia lari ketakutan karena si Merah? Tidak mungkin! Senja jauh di sana. Tak mungkin si Merah mampu menggapai sang Senja. Meskipun selama ini si Merah tak pernah memperlihatkan siapa dirinya. Mungkin saja si Merah berhasil membunuh senja, nenek moyang kami. Pikiranku kacau.
Tak lama berselang, tubuhku menabrak sesuatu.
“Ada apa?” terdengar suara yang asing bagiku. Namun jelas.
“I.ii..ini Bos, saya menabrak sesuatu,” ucap yang lainnya.
 “Bos… Bos… Dia bergerak.. Bentuknya sangat mirip dengan orang utan,” terdengar suara dari yang lainnya lagi. Aku tak bisa memastikan jumlah mereka karena tertutup kabut.
“Cepat tinggalkan makhluk jelek itu, jika tidak lekas berlari maka tamatlah riwayat kita,”
“Baik bos… toh dia akan mati juga,”
Mereka menendangku. Sakit rasanya. Aku tak sadarkan diri. Aku berada di antara hidup dan mati.
***
Tetesan air terus membasahi jiwa yang telah lelah mencari senja. Yang tersisa hanyalah angan tuk bertemu senja. Semua usahaku sia-sia. Kulihat sekelilingku. Si merah tak lagi nampak. Nampaknya. hujanlah yang mengusir Si Merah dari jagat hutan. Pun halnya Si Merah nampaknya takut dengan hujan.
Aku lemas terkulai. Sudah tak kuat lagi rasanya. Saat semua terasa gelap ada satu yang menerangi mataku. Secercah cahaya menghampiriku. Senja! Bentuk fisiknya sama dengan kami. Hanya saja dia lebih terang dari pada warna kulitku. Lebih kompleks warnanya, perpaduan warna jingga dan oranye keemasan.
Aku melihat senja mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menggerakkan tanganku dan berharap aku kan bisa berada di samping Senja setelah kematianku.
*Mahasiswa Teknik Mesin 2014