Beranda Ulasan Opini Pada Elena yang Membawamu Pergi Cukup Hatiku yang Kau Bawa Pergi, Tugasku...

Pada Elena yang Membawamu Pergi Cukup Hatiku yang Kau Bawa Pergi, Tugasku Jangan  

Oleh : Abdul Manan

Sengal nafas terus aku tahan walau diri sudah lelah berlarian. Ternyata memang benar semakin kukejar, semakin kau jauh. Hiks. Kawanku, sebut saja Udin—tapi bukan Udin Sedunia mengikutiku dari belakang sambil tergopoh-gopoh membuka ponsel pintarnya melacak jaringan wi-fi yang tersedia. Secara tahu bulat (baca:dadakan), dosen menghendaki perkuliahan melalui Elena (E-learing) dua jam yang lalu. Ya Tuhan.. Sungguh malang nasibku dan temanku yang tiada satu byte-pun mempunyai kuota internet. Sungguh ambyar  aku karena dua menit menjelang mulai dan aku masih harus berlari lima ratus meter jauhnya menuju kampus. Aku terus berlari menuju tempat wi-fi bisa digunakan secara leluasa.

“Ayo boy, dua menit lagi dimulai elenanya!” pekikku sengaja tepat di telinganya. Aku terus berlari. Berlari. Hingga hilang pedih peri dan aku lebih tidak peduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi. Aih, sempat-sempatya kuingat bait puisi Chairil Anwar itu.

Sampailah aku di kampus dengan wi-fi yang lancar jaya. Tak pikir panjang kuhubungkan secepat kilat dan langsung Elena aku buka. Dan..boom! Tidak bisa dibuka! Entah apa yang merasukimu. Lihatlah. Layar hanya menampilkan ular berputar-putar menjadi lingkaran sekian lama. Kemudian muncullah logo abu-abu 8 bytes menjengkelkan. Terlebih menjengkelkan terus berulang kembali. Persoalan elena error itu sungguh galau setengah mati aku dan kawanku dibuatnya.

Mungkin bukan hanya aku dan Udin, tetapi juga seluruh kawan satu rombel yang berada di entah berantah mengakses Elenanya. Mungkin karena terlalu banyak pengguna, jadilah ke-ngaret-an sistem. Ke-eroran sistem tentunya perlu dimaklumi bersama. Ya, mengingat bahwa keamanan belum begitu kuatnya ketika dulu diretas dengan PAIJO sebagai trending utama.

Baca Juga : Membaca Sisi Lain Sepak Bola

Sistem perkuliahan dengan bentuk blanded learning itu adalah puncak kebahagiaan mahasiswa karena mereka tidaklah perlu menghadiri kelas. Hal paling penting adalah memiliki jaringan internet untuk mengakses. Sambil duduk santai, di warteg, di burjo, di kafe, sambil rebahan di kos, dan dimanapun berada asal jaringan internet lancar jaya. Selamat datang di dunia kaum rebahan.

Ketika sistem perkuliahan mengalami eror maka kepanikan membubung tinggi di atas kepala para manusia pengaksesnya. Jangka waktu yang ditentukan membuat kepanikan itu semakin mengangkasa. Kaum rebahan bangkit dari kasur bergravitasi 10.000 m/s2-nya memecah keributan di setiap grup whatsapp rombelnya. Berbagai pertanyaan muncul dengan deras mengalir dalam kolom percakapan itu.

Ada yang maha panik setengah mati, ada yang acuh tak peduli, ada yang mengompori untuk bersikap bodo amat menanggapi situasi, bahkan ada yang sempat-sempatnya promosi produk skincare-promo kesana promo kesini. Begitu unik bumi manusia dan persoalannya yang beragam dalam kampus konservasi ini.

Oke, kembali fokusku memeriksa apakah elena sudah seperti sedia kala. Astaga dragon! Ternyata sama saja. Sistem masih belum bisa menampilkan apa yang seharusnya ditampilkan. Segala cara kerap kali ku coba. Matikan data, hidupkan lagi, buka elena. Tidak bisa! Matikan data, hidupkan lagi, buka elena. Tidak bisa! Matikan hp, hidupkan lagi, buka elena. Tidak bisa! Sungguh, setan apa yang merasukimu?

Baru ketika jatuh tempo waktu berkata, Elena kembali diingat setelah sekian lama terlupa. Keringat dingin mulai mengalir-melihat teman satu rombel yang lain bisa mengaksesnya. Entah handphonenya rusak macam segala atau bagaimana. Ya sudah, layar hanya dipandang begitu saja. Mampus kau dikoyak-koyak Elena.

Aku percaya Elena dibuat dengan sebuah alasan, seperti semesta yang mengirimkanmu padaku agar kita bisa bersama (hah kita?). Elena menjadi sebuah solusi yang tepat bagi kaum-kaum rebahan agar tetap bisa merasakan bangku kuliah. Kalau ada yang mudah, kenapa harus susah begitu kata Squidward. Seperti layaknya anak yang baru lahir, wajar bila masih banyak problematika yang harus dihadapi seperti sistem yang sering eror, sulit diakses, dan semacamnya. Aku harap ini tidak berlangsung lama. Kalau lama-lama begini bisa berabe deh segala urusan. Tapi monmaap, cukup doi saja yang telah membawa seluruh hatiku pergi, Elena jangan bawa tugasku ya. Huhuhu

“Skuy, bali wae.” Ajakku pada Udin yang rupanya masih asyik cek beranda mantan. Dia menatapku meminta penjelasan juga kepastian. Aku hanya diam dan balik kanan kemudian maju jalan meskipun tak tahu arah jalan pulang. Jam mata kuliah sudah habis sementara tugasku belum juga ku kirim. Ah, pada dasarnya kita selalu di hadapkan pada situasi ini fallin in love with people we can’t have. Nyatanya kali ini terjadi lagi, RIP untuk tugasku.

 *Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Unnes 2019

Editor : Nuraisah Rosita C. D.

 

 

 

Tinggalkan Balasan