Beranda Wacana Resensi Membaca Sisi Lain Sepak Bola

Membaca Sisi Lain Sepak Bola

536

Oleh: Alya Aulia Nurdin

Judul buku : Simulakra Sepakbola
Pengarang : Zen RS
Penerbit : Indie Book Corner
Cetakan : Cetakan pertama, 2016
Jumlah halaman : 262 hal
Dimensi buku : 14 x 21 cm
ISBN : 978-602-3091-78-2

“Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepak bola kini dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?” (hlm. 53)

Secara garis besar, kutipan di atas adalah penggambaran dari keseluruhan buku ini. Memilih judul “Simulakra Sepakbola” sebenarnya adalah sebuah keberanian karena untuk orang-orang yang menyukai literasi tentang sepak bola, kata “simulakra” ini masih terdengar asing sehingga membuat pembaca bertanya-tanya. Namun, judul tersebut mampu membuat pembaca penasaran akan buku ini.

Tak dapat dipungkiri bahwa sepak bola merupakan fenomena yang begitu digandrungi masyarakat di seluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia. Namun, tak banyak penulis yang menulis karya dengan mengangkat sepak bola sebagai fenomena yang serius. Cukup berbeda dengan novel atau buku-buku lain, Zen sebagai penulis menyuguhkan kisah sepak bola yang dilihat dari perspektif yang berbeda. Buku ini menampilkan sudut pandang lain tentang sepak bola. Buku ini sangat pas dalam menyatukan dua hal yang berbeda, yakni sejarah dan sepak bola.

“Mukadimah: Sepakbola, Buku, dan Cinta”, bagian ini merupakan awalan yang menarik dengan narasi yang apik dan kalimat-kalimat yang ringan. Buku ini menjelaskan semuanya, tentang cinta kepada pustaka dan tentang cinta kepada sepak bola dengan perspektif yang berbeda.

Sepak Bola Hanyalah Sebuah Simulasi

Dalam bagian yang berjudul “Dunia Simulasi”, Zen menyuguhkan sketsa yang menarik tentang permainan sepak bola di era sekarang ini. Sepak bola dapat disaksikan di layar kaca secara rinci, detail, dan bisa disaksikan dari berbagai sudut. Namun, tayangan seperti ini realitasnya lebih sering menghadirkan gambar-gambar pemain di dekat bola.

Tulisan ini menyadarkan pembaca bahwa di masa sekarang menonton pertandingan sepak bola bisa dilakukan di layar kaca tanpa perlu datang ke stadion. Misalnya saja ada pertandingan sepak bola Eropa, karena jaraknya yang jauh maka penggemar dari Indonesia cukup menonton lewat televisi. Namun itu sama halnya dengan menonton simulasi permainan sepak bola melalui medium televisi. Kita tidak akan tau bagaimana pergerakan pemain lainnya yang jauh dari bola.

Sepak Bola, Sejarah, dan Kehidupan Politik

Dalam esai yang lain, Zen dengan piawai menuliskan adanya paralelisme antara sejarah dan sepak bola yakni Piala Dunia dan Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting piala dunia seringkali bertepatan dengan peristiwa demokrasi di negeri ini. Kendati demikian, Zen tidak hanya menuliskan tentang permainan sepak bola semata namun ia juga mengaitkannya dalam hal sejarah dan politik.

Buku ini menjadi sajian yang lengkap bagi para pembaca yang menyukai sepak bola sekaligus tertarik dalam hal sejarah dan politik. Pasalnya, esai-esai yang ada di buku ini sangat memesona. Lagi-lagi dengan bahasa yang ringan sepeti bahasa keseharian membuat buku ini (ny)aman dinikmati oleh pembaca.

Dalam esai Kesebelasan Para Bapak Bangsa, Zen dengan cermat dan presisi memposisikan nama-nama tokoh seperti Raden Mas Tirto Adhi Soerjo sebagai kiper, Tjiptomangoenkoesoemo sebagai bek tengah, Soedirman sebagai gelandang bertahan, hingga Soekarno-Hatta sebagai penyerang.

Baca juga: Seluk Beluk Tanah Anarki

Tulisannya yang magis mampu menyihir pembaca sehingga dapat membuka pemikiran pembaca bahwa hingga era sekarang inipun, pemerintah juga pasti berstrategi dan mempertimbangkan berbagai alasan ketika menempatkan nama-nama dalam posisi tertentu di dalam kabinet kerjanya.

Tak berhenti sampai di situ, Zen juga mampu membuka pemikiran pembaca mengenai permainan sepak bola yang bukan hanya sekadar permainan, namun seringkali digunakan untuk kendaraan politik, yakni MH Tamrin dan Otto Iskandar Dinata yang menggunakan sepakbola untuk menginjeksi kebanggaan terhadap identitas nasional melalui Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) dan Persib Bandung (hlm. 134).

Keterlibatan dunia politik dalam sepak bola sudah bukan barang baru untuk kita. Dikutip dari kompasiana.com, dalam kontestasi pilkada serentak 2018 setidaknya ada tiga calon kepala dan wakil kepala daerah yang merupakan pelaku sepak bola yaitu, mantan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Kemudian, Ketua Umum PSSI saat ini (2018), Edy Rahmayadi, yang maju sebagai calon Gubernur Sumatra Utara (Sumut). Serta Sihar Sitorus, mantan Komite Eksekutif PSSI era Djohar Arifin yang mencalonkan diri sebagi Wakil Gubernur Sumut mendampingi Djarot Syaifullah Yusuf. Mereka menjadikan sepak bola sebagai kendaraan politik dan mesin politik untuk mendulang suara.

Dengan kekayaan informasi, pengetahuan dan rujukan-rujukan yang dimiliki oleh penulis, meski ada beberapa bahasa asing dari rujukan tersebut yang agak mengganggu, namun dalam esai Narasi Kaki-Kaki, pembaca dapat dibawa hanyut dalam kisah tokoh-tokoh sepak bola dunia yang mengesankan. Zen mengemas tulisannya dengan analogi-analogi yang pas juga dengan lengkap dan detail. Tentunya ini menjadi nilai tambah untuk buku terbitan Indie Book Corner ini.

Karya Zen ini diawali dan diakhiri dengan esai yang ringan dan menghibur. Isinya di luar ekspektasi pembaca dan infografisnya menarik, itu memberikan kesan mendalam bagi pembaca. Ya, Zen telah berhasil mengemas sajian yang lengkap dan membuat pembaca hanyut dalam sepak bola dan sejarah.

*Mahasiswa Sistem Informasi 2019