Ilustrasi usaha kerajinan rotan. [Ilustrator BP2M/Jamal Isnan]

Perpaduan antara kayu, rotan, dan aluminium membentuk sebuah kursi, tersusun rapi di pelataran rumah itu, rumah seorang pengrajin rotan bernama Yuri yang Tim Linikampus datangi pukul 07.00 WIB (28/12). Yuri-lah penggagas sebuah usaha rumahan yang bergerak di bidang ekonomi kreatif subsektor kriya itu. Berbagai kerajinan dibuatnya dengan memadukan ornamen seni berbentuk bunga salah satunya pasa hiasan lampu yang tergantung di langit-langit pelataran rumahnya.

Lokasi rumah Yuri berada di Desa Kalisidi, sebuah desa di Kabupaten Semarang. Yuri yang berumur 43 tahun telah menjalankan usahanya sejak tahun 2013. “Sebelumnya saya pernah kerja di pabrik, di Cirebon, kalau enggak salah sebelas tahun dari 2002 dan saya bisa paham tentang rotan-rotan yang bagus dan tidak,” ungkap Yuri. Pengalaman yang telah digeluti oleh Yuri menjadi titik awalnya menjadi seorang pengrajin rotan di rumahnya sendiri. Usaha kerajinan rotan di rumahnya dibantu oleh enam sampai delapan orang, termasuk istrinya. Mereka bersama-sama bergerak menekuni usaha kerajinan itu.

Kerajinan yang berbentuk aksesoris dibanderol dengan harga puluhan ribu sampai ratusan ribuan. Sedangkan kerajinan yang berbentuk furnitur dibanderol dengan harga tiga juta sampai dua puluh empat juta. Dengan harga tersebut omzet yang didapat mencapai hingga jutaan rupiah. “Kadang-kadang bisa mendapat sampai dua jutaan. Kalau keuntungan kotor itu dapat mencapai enam setengah  juta, kalau keuntungan bersih rata-rata ya tiga jutaan, lah,” ungkap Yuri. Ia juga mengatakan bahwa peluang usaha furnitur memang memiliki omzet yang dibilang besar karena usaha kriya ini tergolong dalam ekonomi kreatif.

Dari Bahan Hingga Menjadi Kerajinan Rotan

Sebenarnya, Desa Kalisidi bukanlah desa yang menghasilkan budidaya rotan baik sintetis maupun alami. Rotan-rotan itu didapatnya dari Tangerang dan Cirebon. Sedangkan rotan yang alami didapatnya dari Solo dan Surabaya. Ada yang berkualitas lokal, semi-lokal, bahkan ekspor. Tidak tanggung-tanggung, Yuri pernah menyediakan bahan sebesar dua ton rotan berkualitas ekspor untuk membuat kerajinan saking banyaknya pesanan yang ia dapat.

Furnitur yang dibuat oleh Yuri berupa pintu, kursi, meja, lemari, dan plafon. Selain itu, ia juga membuat aneka kerajinan berbentuk aksesoris seperti hiasan lampu, tatakan air mineral gelas, dan tempat tisu. Semuanya mempunyai keunikan tersendiri. “Kalau pintu ini saya tambahkan limbah kayu di pojokannya dan saya gabung dengan anyaman rotan sehingga bisa awet,” tambahnya. Ia menuturkan bahwa memang rotan sintetis dapat bertahan lama untuk ditempatkan di luar ruangan dan mampu bertahan minimal lima tahun.

Yuri membuat kerajinan rotan dibantu dengan temannya, tentunya dengan tugasnya masing-masing. Ada yang membuat desain, ada yang membuat kerangka, dan ada juga yang menganyam. Satu-satunya kendala yang ditemui pada saat proses pembuatan kerajinan rotan yaitu apabila terjadi mati listrik dan keterlambatan bahan. “Kalau kendala sih tidak ada, aman-aman saja, paling ya mati listrik. Kalau yang sering itu keterlambatan bahan,” tutur Yuri. Keterlambatan itu menyebabkan komplain dari pembeli. Namun, menurutnya itu bukanlah masalah yang besar. “Kalau terlambat ya paling lama dua hari lah,” lanjutnya.

Pemasaran dan Distribusi Kerajinan Rotan

Kerajinan yang dibuat Yuri mulai dipromosikan ke masyarakat sekitar. Awalnya ia hanya coba-coba membuat beberapa furnitur, kemudian ditunjukkan ke masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar tertarik dengan kerajinan yang Yuri buat dan menjadikan motivasi bagi dirinya dalam berbisnis anyaman rotan. Ada juga yang memesan lewat media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Pengiriman pesanan menggunakan mobil ekspedisi dari temannya. Pengiriman di dalam kota maupun di luar kota juga menggunakan mobil ekspedisi tersebut. Namun pengiriman ke luar kota butuh waktu lama sehingga harus menaikkan ongkos kirim.

Bisnis Yuri telah didistribusikan ke berbagai kota bahkan pulau di Indonesia, misalnya ke Bali. “Ada juga yang pesan dari Bali dan itu dari kenalan teman saya yang di Bali dan pengirimannya juga lewat mobil ekspedisi teman saya,” kata Yuri. Sementara untuk distribusi lewat marketplace, Yuri belum bisa menggunakan jasa online tersebut karena harus mempunyai stok produk. “Ada sih keinginan untuk distribusi marketplace, tetapi kalau di marketplace itu kan harus ada stoknya sedangkan proses membuat kerajinan itu lama. Jadi perlu persiapan supaya pembeli tidak kecewa,” lanjut Yuri. Kerajinan anyaman rotan milik Yuri belum pernah didistribusikan pada lembaga pendidikan, tetapi biasanya untuk tempat wisata seperti di Sidomukti, Ungaran.

Tanggapan Warga dan Harapan Yuri

Warga Kalisidi menyambut baik adanya kerajinan anyaman rotan di sana. Mereka juga memakai furnitur untuk hiasan di rumahnya. Andi misalnya yang menjadi salah satu pelanggan Yuri. “Kualitasnya bagus, bisa bertahan bertahun-tahun, kemudian untuk harganya relatif murah,” kata Andi. Yuri tidak mematok harga terlalu tinggi untuk warga di sekitar rumahnya. “Saya tidak mematok harga tinggi untuk tetangga, biar tenaga saya saja karena kita itu kan tetangga jadi enggak enak hati kalau memberi harga tinggi. Tetapi untuk pembeli dari luar akan memberi harga yang sewajarnya,” lanjutnya.

Harapan bisnis kerajinan anyaman rotan bagi Yuri yaitu bisa bekerja sama dengan orang yang punya dana, punya seni, atau keterampilan menganyam. “Kalau tidak punya keterampilan menganyam akan susah untuk memajukan bisnis ini,” kata Yuri. Yuri juga berkeinginan untuk membuka show room sendiri dan meningkatkan SADUGA (Pusat Produk Warga), sebuah ruangan kecil di balai desa sebagai tempat untuk menyimpan dan memamerkan produk yang dihasilkan oleh warga.

*Liputan Kemah Jurnalistik 2019, BP2M Unnes.

Reporter: Manan, Jamal, Elsa, Alya, dan Fina (Anggota Magang BP2M)

Editor: Amilia Buana Dewi Islamy