Ilustrasi Diblokir Sayang, Nggak Diblokir Merugikan [ilustrator BP2M/Hasnah]

Oleh: Hasnah Indriyani

Deg! Jantungku rasa-rasanya ingin berhenti. Pagi itu aku baru saja terbangun dari tidur nyenyakku di awal liburan semester, setelah mengucapkan doa bangun tidur, aku langsung mengecek gawaiku. Kupikir gebetanku mengirimiku pesan melalui WhatsApp, ternyata tidak. Eh lupa, aku tidak punya gebetan. Karena gabut, maka aku pun menggeser layar gawaiku ke kiri menuju menu status WA. Satu persatu status temanku kubaca sampai pada status itu, status yang membuat aku sungguh bersedih.

Ya betul! Kulihat status WhatsApp berupa tangkapan layar yang memberikan informasi bahwa situs IndoXXI.com akan dihentikan. Saat itu seketika hatiku bertanya-tanya, sebenarnya ada masalah apa sih Kominfo sama IndoXXI? Kok main blokir-blokir saja, memang nggak bisa dibicarakan baik-baik dulu ya? Kayak anak kecil! ucapku dalam hati. Sebagai mahasiswa yang berintelek dan kritis, tentunya aku tidak mau percaya begitu saja dengan berita tersebut. Namun tenyata setelah aku cek, ternyata benar bahwa situs IndoXXI akan dihapus guna mendukung industri perfilman tanah air. Sungguh cita-cita yang mulia nan luhur.

Tapi aku masih tidak habis pikir sebenarnya Kominfo itu maunya apa sih? Coba deh kalian pikir, yakali aku harus nonton sinetron azab nggak jelas di channel ikan terbang. Sebenarnya cukup murah sih kalau berlangganan streaming berbayar seperti Netlix, hanya sekitar Rp.49.000/bulan. Tapi kan sebagai anak kos lebih baik uangku digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna seperti membeli buku atau makanan bergizi. Lagipula biasanya pengunjung hanya mencari dan melihat film-film lama di IndoXXI –karena sudah kualitas HD.

Sebagai kaum rebahan, aku merasa sangat kecewa dengan kebijakan Kominfo yang akan memblokir situs nonton film gratisku ini. Kalau seandainya IndoXXI benar-benar dihapus, nanti apa yang akan mengisi waktu-waktu kegabutanku? Karena biasanya kegabutanku bisa hilang dengan menonton series atau drama korea, atau menonton film “ehem” tanpa disensor.

Namun mau bagaimana lagi, demi mendukung industri perfilman Indonesia sudah seharusnya menjaga hak paten pembuat film. Coba bayangkan, suatu film yang baru rilis, bahkan yang masih tayang  di Bioskop, bisa kita tonton dengan mudah di situs nonton film online, ya walaupun dengan kualitas Cam (hasil rekaman di bioskop dengan kualitas rendah)  dan tentunya gratis. Hal tersebut tanpa kita sadari dapat membunuh para creator film. Dan mau bagaimana pun yang namanya pembajakan merupakan hal yang tidak terpuji bukan?

Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa IndoXXI mendapat 280 juta perbulan. Tapi coba bayangkan sebagai pembuat film yang sudah susah buat mikir tetang skrip film sampai pemasaran, eh malah dengan entengnya karya itu dicomot begitu saja. Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku menjadi pembuat film, tugas kuliah yang kubuat sendiri kalau dicontek teman saja aku tidak rela, belum lagi si pembuat film harus menelan kenyataan pahit pembajakan filmnya.

Ya sudah, mungkin sekarang lebih baik kita mengucapkan terima kasih kepada Indoxxi yang telah menemani waktu-waktu gabut selama ini. Semoga dunia perfilman semakin maju, eh tapi dari lubuk hatiku, aku berharap suatu hari terdengar kabar “aku kembali” dari IndoXXI. Kabarnya sudah ada server barunya, ‘kan?

*Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial 2019

Editor: Amilia Buana Dewi Islamy