Tuntutan massa aksi melawan pembungkaman akademik di Unnes. [BP2M/Fajar]

Selasa  (24/11), berlangsung aksi yang bertajuk “Gerakan Melawan Pembungkaman Akademik”. Aksi ini sebagai bentuk kecaman atas sanksi skorsing yang diberikan kepada Frans Josua Napitu, Mahasiswa FH Unnes.

Massa aksi merupakan massa gabungan dari mahasiswa Unnes yang terdiri atas perwakilan mahasiswa tiap fakultas. Selain itu terdapat massa aksi dari berbagai elemen antara lain mahasiswa Undip, Unwahas, Unissula, Polines, serta Aliansi Mahasiswa Papua. Hadir pula masyarakat Tambakrejo dan perwakilan buruh. Aksi ini merupakan tindak lanjut dari konsolidasi yang dilakukan pada 22 November lalu.

Massa aksi berkumpul di depan gerbang utama Unnes. Mereka memasang banner yang ditulisi pernyataan sikap dan tuntutan. Mereka juga menyuarakan hastag #ReformasiAKademikUnnes.

“Mulai dari awal tahun sampai dengan sekarang, tindakan-tindakan  represifitas terhadap civitas akademika Unnes cenderung naik. Maka dari itu kita menggalakkan reformasi akademik Unnes,” ujar Nanda Pramudya, koordinator aksi Mereka menuntut pihak kampus, terutama dari Fakultas Hukum Unnes untuk mecabut skorsing yang diberikan kepada Frans.

Sebagaimana diketahui, pada 13 November lalu, Frans melaporkan dugaan korupsi Rektor Unnes ke KPK RI. Kemudian pada 16 November, Frans dijatuhi sanksi berupa pemberhentian sementara dari kegiatan perkuliahan atau skors selama enam bulan untuk mendapatkan pembinaan oleh orang tua karena dianggap melanggar kode etik mahasiswa.

Massa aksi yang berkumpul di gerbang utama Unnes kemudian berkonvoi menuju Fakultas Hukum Unnes. Di FH mereka memulai aksi dengan menyanyikan lagu perjuangan mahasiswa dan orasi oleh perwakilan massa.

Aksi di depan Fakultas Hukum Unnes. [BP2M/Naufal]
Aziz, perwakilan dari Unissula menyampaikan bahwa birokrasi telah melakukan hal yang berada di luar tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dengan melakukan pembungkaman akademik.

Selanjutnya Mulyono dari perwakilan buruh menyampaikan dukungannya kepada mahasiswa. Ia menyatakan bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan dan tidak berdasarkan kepentingan pihak tertentu. Mulyono kemudian mengajak massa aksi untuk bersama-sama menyanyikan lagu darah juang.

“Kami prihatin dengan yang terjadi, sebelumnya sudah ada kejadian yang hampir serupa (represi mahasiswa) saya berharap dengan adanya kritikan ini, Unnes dapat menjadi kampus yang kualitasnya  lebih baik. Represi harus dihentikan agar kampus lebih baik,” ujarnya.

 

Reporter: Afsana, Fajar, Naufal

Penulis: Laili

Penyunting: Amilia

Tinggalkan Balasan