Cuplikan Perayaan Earth Hour
Cuplikan perayaan Earth Hour yang disiarkan dalam konferensi pers secara daring, Kamis (25/3). [Dok BP2M/Alya]

Slogan “Enam puluh menit aksi kita” menggema dalam kampanye global Earth Hour 2021 ini. Perayaan tahunan Earth Hour ke-13 ini masih berjalan seperti tahun sebelumnya dengan aksi simbolis berupa memadamkan lampu atau alat elektronik selama satu jam penuh.

Aksi itu akan dilakukan pada Sabtu (27/3) pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Bedanya, pada tahun ini aksi simbolis tersebut dilaksanakan secara daring karena adanya pandemi Covid-19.

“Acara akan diisi dengan penampilan tari-tarian nusantara, gelar wicara, lalu akan ditutup dengan aksi hitung mundur untuk memadamkan lampu,” ujar Dhea Paradita selaku Koordinator Earth Hour Kota Semarang pada Kamis (25/3).

Wujud Nyata Unity in Biodiversity

Dalam peringatan Earth Hour ke-13, mereka memilih tajuk “Unity in Biodiversity”. Dhea mengatakan bahwa tema tersebut dipilih mengingat Indonesia memiliki keberagaman, baik yang bersifat hayati maupun sosial budaya. Keberagaman yang dimiliki ini diharapkan bukan menjadi ajang perpecahan, tapi justru menyatukan masyarakat dalam usaha pelestarian alam.

Sementara itu, Direktur Operasional Yayasan WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia, Lukas Laksono Adhyakso dalam koneferensi pers pada Kamis (25/3), mengatakan tema yang dipilih merupakan perpanjangan tangan dari semangat aksi pentingnya melindungi keberagaman hayati sebagai warisan Indonesia yang tidak tergantikan.

Dipilihnya aksi pemadaman lampu dan alat elektronik sebagai puncak perayaan Earth Hour 2021, karena sumber listrik yang digunakan oleh masyarakat selama ini sebagian besar masih menggunakan batu bara. Aksi pemadaman ini diharapkan akan mengurangi beban tagihan listrik serta penggunaan listrik. Hal ini dilakukan sebagai simbol kepedulian terhadap bumi.

Bumi tidak butuh kita, tetapi kita butuh bumi. Marilah senantiasa untuk melakukan perubahan, meskipun dimulai dari hal yang sederhana.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kontribusi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara masih mendominasi, yakni sebanyak 50,4% atau sebesar 31.827 megawatt (MW) hingga triwulan kedua tahun 2020.

“Selama enam puluh menit harusnya menjadi perenungan bagi kita akan seberapa besar sumber daya alam yang telah kita gunakan selama ini. Harapannya, setelah aksi simbolis tersebut kita akan berubah menjadi manusia yang eco friendly,” tutur Dhea.

Menurut Dhea, dengan aksi pemadaman lampu secara bersama-sama, masyarakat telah merealisasikan unity in biodiversity. Semua kalangan masyarakat ikut serta berkontribusi dalam menjaga bumi selama enam puluh menit tanpa memandang perbedaan yang ada di antara mereka.

Generasi Muda sebagai Agen Perubahan

Menurut penuturan Dhea, sebenarnya Earth Hour bukan hanya berpusat pada aksi pemadaman lampu di pekan ketiga bulan Maret. Earth Hour merupakan sebuah komunitas yang bergerak dalam usaha pelestarian lingkungan dan diinisiasi oleh Yayasan WWF International serta dinaungi oleh WWF Indonesia. Komunitas ini hadir karena alam yang semakin tidak seimbang hingga menimbulkan perubahan pada iklim atau munculnya wabah serangga di Australia.

“Audiensi komunitas Earth Hour dipusatkan pada generasi muda karena mereka (generasi muda) adalah agen penggerak perubahan dan orang yang peduli akan kelestarian lingkungan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk para orang tua juga bergabung dalam kegiatan-kegiatan Earth Hour,” tutur Dhea.

Selain itu, Dhea juga berpesan pada generasi muda untuk terus bergerak menuju perubahan khususnya bagi bumi. “Bumi tidak butuh kita, tetapi kita butuh bumi. Marilah senantiasa untuk melakukan perubahan, meskipun dimulai dari hal yang sederhana,” ujarnya.

Dhea juga mengatakan, isu perubahan iklim yang sedang terjadi saat ini perlu perhatian khusus. “Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian bumi, salah satunya dengan membawa tempat makan dan minum pribadi guna mengurangi adanya sampah. Selain itu, kita juga bisa berkontribusi dengan menanam pohon secara mandiri,” ujarnya. Ia berharap, aksi yang berlangsung selama enam puluh menit ini bisa menjadi renungan bagi masyarakat tentang seberapa besar sumber daya yang telah diambil dari bumi.

 

Reporter: Asyifa

Editor: Hani

Tinggalkan Balasan