Pembacaan petisi Seruan Moral Dari Sekaran oleh Sivitas Akademika Unnes di depan gedung rektorat, Rabu (07/02), [Revian/Magang BP2M]
Pembacaan petisi Seruan Moral Dari Sekaran oleh Sivitas Akademika Unnes di depan gedung rektorat, Rabu (07/02), [Revian/Magang BP2M]

Sivitas Akademika dan Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) melakukan aksi bertajuk “Seruan Moral Demokrasi dari Sekaran” pada hari Rabu (7/2) di depan Gedung Rektorat Unnes.  Aksi ini digelar sebagai bentuk kritikan mereka terhadap pemerintah mengenai demokrasi yang mulai terancam oleh otoritarianisme.

Mewakili Sivitas Akademika Unnes, Issy Yuliasri, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris membacakan enam butir seruan moral kepada segenap pemegang kepentingan negara, penyelenggara pemilihan umum (pemilu), aparat penegak hukum, Aparatur Sipil Negara (ASN), politisi, hingga kaum cendekia-cendekia. Petisi tersebut menyoroti ancaman otoritarianisme baru atas nama hukum yang kian menggerus cita-cita reformasi dan mengaburkan hakikat demokrasi. 

Dalam petisi tersebut, para penyelenggara negara dituntut untuk dapat menegakkan prinsip-prinsip demokrasi, konstitusi, dan amanat reformasi, serta menjaga netralitas dan integritas. Selain itu, ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk merapatkan barisan guna mengawal tegaknya demokrasi yang bermartabat, konstitusi dan supremasi hukum, serta memperkokoh nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Amanat Reformasi.

Sugiyarta Stanislaus, Sivitas Akademika Unnes yang  turut andil dalam seruan moral ini menyebut bahwa kedamaian tidak bisa terjadi karena ada hal-hal yang membuatnya tidak terwujud. Artinya, ada ketidakadilan dan ketidak bijaksanaan yang tercipta.

“kita menyerukan seruan damai ini untuk Indonesia, bagi siapapun penyelenggara negara supaya mengedepankan keadilan, (serta) mengedepankan hukum,” jelasnya ketika diwawancarai usai pembacaan petisi.

Ia mengharapkan agar penyelenggara pemilu senantiasa mengikuti rules of game yang ada. Lebih lanjut, Ia juga menyampaikan bahwa seluruh guru besar dan dosen mencoba untuk mendorong kontestasi politik ini menjadi semakin baik, demokratis, dan beradab. 

“Ya, kami mendukung kebenaran sebagai ilmuwan—mendukung yang benar,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Unnes, Sajiwo, Menurutnya, aksi ini merupakan salah satu bentuk komitmen aliansi mahasiswa Unnes dengan harapan pemilu yang netral dan jauh dari kecurangan.

“Kita punya semacam harapan bahwa pemilu ini bisa berjalan seperti sebagaimana mestinya, tidak ada manipulasi hukum, manipulasi simbolik, praktek-praktek yang mengangkangi kekuasaan konstitusi, mengangkangi rule of game dan rule of law dalam proses pemilu ini,” jelasnya.

Terakhir, Issy menyebutkan bahwa setiap langkah kecil seharusnya memiliki dampak dan manfaat. Ia berharap agar para penyelenggara negara dapat mendengar suara-suara yang sudah digaungkan.

“Karena selama ini kita sibuk dengan segala urusan akademis dan mungkin dianggap tidak ada suaranya. Mungkin kali ini kita ingin mengetuk hati nurani penyelenggara negara untuk kembali kepada jalan yang lurus,” pungkasnya.

 

 

Reporter : Anastasia Retno (Magang BP2M), Nayla Syarifa (Magang BP2M), Revian Jedha (Magang BP2M), Nilam Aliya Putri (Magang BP2M), Linggar Pradista (Magang BP2M), Aulia Zalfa (Magang BP2M)

Editor : Laili

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here