Lauk Buku berkolaborasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang dan Bara Puan menyelenggarakan pertemuan jaringan perempuan dalam peringatan International Women’s Day (IWD) di Moenasiah & Lauk Buku Coffee Bookshop pada Sabtu jam 16.00 WIB (7/3/2026). Pertemuan ini menjadi momentum reflektif atas perjalanan panjang perempuan dalam melawan ketidakadilan struktural di Indonesia.
Arfika Agustina Safira Astri, ketua dan koordinator Bara Puan, menyatakan bahwa acara ini dimaksudkan untuk menyoroti berbagai persoalan yang berkaitan dengan kesejahteraan perempuan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan untuk membahas berbagai cara dan upaya yang dapat dilakukan guna mencapai kesejahteraan perempuan, namun hingga saat ini masih menjadi permasalahan di Indonesia.
“Bagaimana caranya kita bisa menyejahterakan perempuan itu sendiri melalui agenda-agenda kecil ini,” tuturnya.
Menurut Arfika, acara ini juga ditujukan untuk merawat ingatan kolektif terkait kurangnya kesejahteraan perempuan. Pancingan yang timbul dari ingatan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan bakar dalam mengawal kasus-kasus keperempuanan di indonesia. Namun dalam pelaksanaanya, ia lebih menyoroti penggunaan cara-cara yang halus dan tidak diwarnai dengan kekerasan.
“kita merawat ingatan itu untuk memantik kembali kebanyakan teman-teman bahwa ini loh kita disini masih belum sejahtera dan banyak hal yang memang harus kita kawal disini.”
“Kita gak bisa untuk melakukan hal-hal yang langsung besar, tapi juga dengan cara yang lebih santai, lebih soft seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Jadi untuk memperingatkan itu gak harus selalu melawan, gak harus melalui cara-cara yang keras, tapi juga bisa melalui cara-cara yang soft seperti itu,” imbuhnya.
Adapun rangkaian acara pada pertemuan tersebut terdiri dari 4 sesi utama. Pertama adalah sesi diskusi reflektif terkait gerakan perempuan, dilanjutkan dengan sesi berbagi cerita terkait masalah yang dihadapi perempuan, terakhir penutupan dan disertai dengan buka bersama.
Alyanisa Lintang, selaku peserta pertemuan, turut merasakan energi positif yang dihasilkan dari adanya sesi diskusi pada acara tersebut. Menurutnya acara ini dapat menjadi ruang aman untuk berbagi cerita tentang apa yang selama ini dirasakan oleh para perempuan, sehingga membantu mengurangi beban mental yang harus mereka hadapi.
Ia juga berharap acara ini dapat diselenggarakan rutin dan tidak hanya terpaut pada momen IWD saja.
“Tentu harapanku kedepannya ini bisa menjadi semacam kegiatan rutin, mungkin nggak cuman momen IWD aja, tapi bisa juga di momen-momen selanjutnya,” tuturnya.
Arfika juga berharap pemerintah dapat mendengarkan berbagai keluhan yang dialami masyarakat, khususnya perempuan, terkait kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak perempuan. Ia turut mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal berbagai isu yang berkaitan dengan persoalan perempuan.
“Semoga juga isu-isu terkait dengan perempuan itu sendiri bisa senantiasa dikawal oleh teman-teman semuanya dan menjadi perhatian,” tutupnya.
Penulis dan Reporter: Husein Akmal Faiz, Haidar Ali
Editor: Retno Setiyowati
