LINIKAMPUS Blog Kabar Kilas Rumah Pohan Gelar Peluncuran Zine Ruang dan Diskusi Soroti Peran Perempuan dalam Sinema Indonesia
Kabar Kilas

Rumah Pohan Gelar Peluncuran Zine Ruang dan Diskusi Soroti Peran Perempuan dalam Sinema Indonesia

Ketua Acara Risa sedang membuka materi diskusi dalam majalah Zine Ruang, pada Sabtu (4/4/2026) [Haidar/BP2M]

Ketua Acara Risa sedang membuka materi diskusi dalam majalah Zine Ruang, pada Sabtu (4/4/2026) [Haidar/BP2M]

alat makan ramah lingkungan

Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang menggelar peluncuran majalah “Zine Ruang” dan diskusi yang bertajuk “Dara-Dara Sinema Indonesia 1950-2000” di Rumah PoHan pada Sabtu (4/4/2026). Publikasi majalah ini merupakan acara puncak dari program magang jurusan Ilmu Sejarah Unnes angkatan 2023 yang bekerja sama dengan Rumah PoHan.

Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Risa Adinda Agnesia, selaku ketua yang kemudian dilanjut dengan materi. Kegiatan ini diisi dengan diskusi eksistensi tokoh perempuan dalam sejarah perfilman Indonesia sejak tahun 1950-2000. Sistem kapitalisme pada industri film yang menghilangkan nilai artistik dan etis juga menjadi kritikan dalam diskusi ini.

Publikasi majalah “Zine Ruang” merupakan output dari program magang Risa beserta anggota kelompoknya, yaitu Sahul, Haikal, Dito, Cesar dan Widya yang saat ini berada di semester enam. Secara garis besar, tujuan dari acara ini adalah untuk mengedukasi masyarakat dengan mengenal lebih dalam sejarah agar tidak hanya menjadi subjek yang membosankan tetapi juga bisa lebih populer dan menyenangkan.

“Dengan cara menunjukkan majalah populer ini yang tentu juga bahasanya juga mudah diterima oleh masyarakat,” ujar Risa.

Pengerjaan majalah zine memakan waktu selama dua setengah bulan, terhitung dari bulan Januari hingga akhir Maret, termasuk persiapan acara hingga publikasi media massa yang membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. 

Selain peluncuran majalah Zine Ruang, audiens juga diajak membahas isi dari majalah tersebut seperti pergeseran periode perfilman indonesia dari tema nasionalisme sampai horor seks yang mengobjektifikasi peran perempuan.

Dalam diskusi yang berlangsung, Malika salah satu pengunjung ikut mengomentari terkait fenomena perfilman Indonesia yang seringkali mengobjektifikasi perempuan. Ia berpendapat seharusnya film dapat berfungsi menjadi  sebuah pesan atau kritik.

‎”Jujur memprihatinkan karena kan film juga ‎bisa jadi kritik, sebuah kritik atau ngasih pesan. Jadi sebenarnya menurut aku tuh perempuan bisa lebih dari itu, gak cuma sekedar objek seksual aja.” ungkap Malika saat diwawancara

‎Mirza yang juga merupakan pengunjung menyampaikan harapannya agar acara seperti diskusi sejarah tersebut akan terus ada dan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat luas.

Penulis dan Reporter: Gemilliano, Bilqis Kamila, Rayhan Nova

Editor: Haidar Ali

Exit mobile version