Oleh L
Sebuah properti terlihat belum sempurna ketika sedang dipoles oleh Reanes
Putra di depan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unnes. Terkadang properti itu
nampak seperti nisan, jika matamu cukup jeli properti itu bukanlah nisan, tapi closet.
Namun lebih dekat melihat properti itu, sebenarnya yang sedang dipoles Putra
dengan menggunakan cat itu hanyalah kursi. Kursi tiga fungsi.
Putra, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang pernah menjabat sebagai
ketua Teater SS Unnes beberapa tahun lalu. Kali ini yang sedang dia kerjakan
adalah properti yang akan digunakan Syarif, aktor monolog dari Tetaer SS yang
akan mengikuti Peksimida di Universitas Muhamaddiyah Magelang pada Rabu dan
Kamis (28-29/5).
Syarif, aktor monolog dalam sebuah sesi latihan di Kompleks Joglo PKM FE beberapa waktu lalu. Foto: L
Kursi itu nampak terhormat dengan ketiga fungsinya yang nantinya
akan melengkapi naskah Gus Nur berjudul Mayat Terhormat. Naskah ini
menceritakan seorang penjaga kuburan yang melihat berbagai mayat terkubur dari
berbagai macam pembunuhan. Dia mencoba melakukan protes. Tapi pergolakan batin
yang dialami aktor monolog terguncang. Akhirnya dia hanya gremeng saja.
Berperan sebagai sutradara, Sobiron mahasiswa Jurusan Bahasa
Indonesia beberapa hari terakhir terlihat sibuk mempersiapkan pentas ini. Bukan
hanya Sobiron, Putra, dan Syarif yang sepertinya sibuk karena hajat ini. Pada
latihan yang dilaksanakan Selasa malam di Panggung Terbuka Fakultas Bahasa dan
Seni, beberapa anggota Teater SS saling membantu satu dengan lainnya demi
memaksimalkan kesempatan dalam pelaksanaan Peksimida.
“Walau ini adalah pementasan monolog, kami percaya andil seluruh
anggota tim mampu membuat pentas ini semakin bermakna. Karena semangat tim
inilah, kami mencoba menjadi satu yang diperhitungkan di Peksimida tahun ini,”
ungkap Sobiron.
Bagi Sobiron, hal penting dalam pementasan bisa diambil dari
kerjasama. Karena semangat teater adalah semangat berkarya. Bukan semangat
menjadi juara. Jika sebuah karya diapresiasi dan menjadi juara, itu nilai lebih
sebuah karya. Semata-mata adalah karena kerjasama tim dan kerjakeras.
Dia menganalogikan, sebuah pementasan dapat berjalan lancar bukan
karena satu orang yang bekerja, tapi seluruhnya. Ada yang bertugas di bagian pencahayaan,
rias wajah, properti, pengiring musik, dan yang lain. Ibaratkan tubuh, setiap
organ melaksanakan perannya sehingga tubuh itu mampu bergerak dan bertindak.
Berbicara mengenai target dan capaian, Sobiron menolak untuk
membicarakan target juara. Tapi proses itulah yang dia kira bisa dimaknai
setiap anggota tim. Bukan berarti Sobiron enggan menang, tapi sikap tetap
berkarya yang lebih penting. “Hidup ini proses,” lanjut Sobiron, “nikamati dan
maknai setiap proses itu. Jika dapat apresiasi lebih soal capaian, itulah hasil
kerjakeras. Berarti proses yang kita lakukan memang sepadan.”