Oleh: Debrina Diantika

Judul               : Guru Bangsa Tjokroaminoto
Sutradara         : Garin Nugroho 
Durasi              : 160 menit
Rilis                 : April 2015
Pemain        : Reza Rahardian, Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Sujiwo Tedjo, Maia Estianty, Deva Mahenra, Ibnu Jamil, Chelsea Islan, dan lain-lain.

“Jika
kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah
seperti orator,” pesan Tjokroaminoto kepada para murid-muridnya.

Berawal dari kegelisahan Tjokro terhadap masalah pendidikan
pribumi dan kesenjangan sosial. Kesenjangan antara kalangan priyayi dan rakyat
pribumi terlihat jelas dari segi pakaian dan batik yang mereka kenakan. Juga
kegelisahannya mendapati bahwa hanya orang-orang kalangan tertentu yang
bersekolah, sementara sedikit sekali rakyat pribumi yang bersekolah. Melihat perbedaan
yang disekat kasta itu, Tjokro mencoba menghilangkan sekat yang ada di masyarakat.
Prinsip “sama rata, sama rasa” yang dicetuskannya berdampak besar dan
memberikan harapan-harapan baru pada rakyat pribumi.
Tjokro yang mahir berpidato dan menulis di surat kabar,
mampu menghipnotis pembacanya dengan kata-kata yang tegas dan mengagumkan. Gagasannya
memberikan pesan tersirat kepada orang lain, entah itu para mandor Belanda,
priyayi, ataupun pribumi.
Tjokro mengajarkan, tak semua permusuhan harus dilawan dengan
kekerasan. Dia bertekad mendidik pribumi dengan membentuk sebuah perkumpulan
yang dapat memajukan dan mempertahankan hak-hak buruh. Perkumpulan itu dia beri
nama Sarekat Islam.
Selain itu pula, Tjokro menjadikan
rumahnya sebagai tempat menuangkan ide-ide untuk memecahkan segala permasalahan
yang ada pada rakyat pribumi. “Rumah ini adalah tempatmu untuk berbagi
pertanyaan maka berbagilah,” kata Tjokroaminoto. Dari sana, lahirlah orang-orang
yang akan meneruskan ide, cita-cita dan perjuangan Tjokroaminoto untuk memperjuangkan
Indonesia. Merekalah tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Film garapan Garin Nugroho ini cukup membuat saya berpikir
keras untuk mendapati pesan yang ingin disampaikan. Ada pesan yang coba disampaikan melalui
film ini, yakni perihal rasa cinta tanah air dan pentingnya menambah wawasan
sejarah. Agaknya film ini tepat direkomendasikan bagi para historis yang kurang
suka membaca dan lebih suka mencari wawasan sejarah dari tontonan.
Namun dengan berat hati saya harus mengatakan, film ini sedikit
membosankan. Beruntungnya, ada beberapa bagian yang menampilkan teaterikal,
lagu-lagu Jawa, dan lagu kebangsaan Belanda. Juga tokoh Mbok Tambeng yang cukup
menyelamatkan film ini. Latar yang dipilih ditata begitu apik. Para lakon yang
piawai bermain, didukung pula oleh make up, kostum, dan suasana yang semakin
menggambarkan era lawas Jawa awal abad 20. Meskipun
akan sedikit dibuat bingung dengan alur ceritanya, setidaknya penonton mampu
melihat gambaran-gambaran masa lampau sebelum kemerdekaan dan memetik pelajaran
dari setiap pesan yang disisipkan di setiap dialog maupun adegannya.
*Mahasiswa
Ilmu Kesehatan Masyarakat 2015