Oleh Marfuah L Hikaru 

Koneksi internet yang lancar, eman jika hanya digunakan untuk faceboook-an.

Koneksi internet sedang bermasalah. Lorong sayap kiri gedung rektorat nampak lenggang. Hari biasanya, lorong gedung rektorat merupakan tempat yang mudah untuk menemukan mahasiswa dengan laptop atau netbook di hadapannya. Jumat siang lalu, hanya ada dua orang mahasiswa menatap layar laptopnya masing-masing. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknologi, Informasi dan Komputer (PTIK) Diyah Ayu Kusumawati dan Puji Utami bersandar pada tembok di lorong sayap kiri rektorat. Sesekali badan mereka dicondongkan ke depan, memeriksa laman yang nampak di layar laptop mereka.

Diyah dan Puji online di lorong gedung rektorat, Senin (3/3).

Internet masuk ke Unnes Sekaran pertama kali pada 20 Maret 2002. Koneksi internet tidak seluas sekarang, koneksi internet masih terbatas dalam bentuk Warung Informasi dan Teknologi (Warintek) yang disediakan di gedung perpustakaan pusat. Dalam tabloid Nuansa edisi 106/IV/2002 ketua BAAKPSI Unnes (sekarang BPTIK) M. Sulthon menjelaskan, tujuan disediakannya layanan internet di Unnes adalah untuk agar mahasiswa tidak terkungung dalam batasan informasi yang hanya didapat di kampus saja, tetapi mendapat informasi yang banyak di internet.

Ketika reporter menghampirinya, Diyah melepas airphone dari telinganya segera. Ia mengaku sering online di area gedung rektorat. Menurutnya, koneksi internet di gedung rektorat lancar, karena itu ia betah jika berlama-lama online di sana. Tidak hanya kaum hawa yang sering asyik masyuk online di lorong gedung rektorat, para kaum adam juga sering berjejer menatap laptop masing-masing di sana. “Di sini tempat ngetem buat online karena konaksi internetnya lancar, enak buat download,” terangnya, Senin (3/3).

Puji gadis berjilbab itu sesekali membenarkan posisi jilbabnya. Ia merupakan teman satu kos dan satu jurusan dengan Diyah. Ia juga mengaku, sebelum menemukan tempat online yang nyaman di rektorat, ia mencari tempat di sekitar Unnes. Ia mencari tempat online di gazebo perpustakaan pusat, bahkan ke kampus pascasarjana Unnes di Bendan, Sampangan. Ia mengaku, setiap hari ia online dari maghrib sampai pukul sepuluh malam. “Kadang saya juga online siang hari sampai sore,” tegasnya.

Mencari referensi sampai menuruti hobi
Sinyal koneksi internet di Unnes yang lancar mempermudah mahasiswi asal Cepu ini mencari referensi kuliahnya. “Saya memanfaatkan koneksi internet salah satunya untuk mencari referensi kuliah yaitu download tutorial pembuatan program,” tuturnya.

 Awaludin sedang duduk bersila menghadap
 netbook-nya di depan gedung Perpustakaan , Senin (3/3).

Ia menambahkan, koneksi internet yang lancar mempermudahnya mencari video tutorial yang gambarnya berkualitas bagus. Selain mencari referensi, ia mengaku juga sesekali membuka sosial media. Ia bercerita, pernah suatu saat ditegur dosen karena sering membuka facebook yang menurut dosennya kurang bermanfaat. “Saya sering facebook-an biar pinter bagaimana cara membuat program seperti facebook Pak,” tuturnya mengulang kembali ketika ngeles dari teguran  dosen.

Tidak hanya mencari referensi, Diyah yang seorang penggemar boyband asal Korea Big Bang ini suka mengunduh dan mengoleksi video-video aksi boyband tersebut. “Saya punya hardisk 500 GB, isinya video boyband Big Bang. Tidak hanya di-harddisk, saya juga simpan di Compact Disc (CD).” ungkapnya sambil terkekeh.

Tidak hanya di lorong gedung rektorat, di sayap kanan gedung perpustakaan pusat juga nampak seorang mahasiswa sedang mengutak-atik netbook-nya yaitu Mahasiswa Jurusan Manajemen Awaludin. Ia mengatakan, koneksi internet digunakannya untuk menambah informasi dengan memperbarui berita di laman berita. Ia sering membuka facebook karena tugas-tugas kuliah juga sering diunggah lewat grup facebook yang diikutinya. “Sesekali saya facebook-an, tapi saya juga suka membuka laman berita untuk menambah informasi,” ungkapnya.