Beberapa patung yang dibuat M. Firdaus Faishol sebagai
ganti embuatan skripsi untuk menyelesaikan
Sarjana Pendidikan Seni Rupa Unnes, Rabu (7/5)/DM.
TATAPANNYA menerawang jauh dan tenang. Sebuah
cita yang dimulai dari langkah awal. Melalui pameran patung potret sebagai ganti
skripsi untuk menyelesaikan sarjana pendidikan seni rupa di Unnes. Ia M.
Firdaus Faishol.

Siapa
yang tak tahu patung Liberty di Amerika Serikat? Patung Liberty menjadi simbol
kemerdekaan dan kebebasan dari tekanan bagi orang-orang Amerika. Awalnya,
Patung Liberty dibangun dalam rangka seratus tahun kemerdekaan Amerika. Lalu,
sebagai penyambutan selamat datang pada imigran, pengunjung, dan warga Amerika
yang kembali. Sementara di Indonesia ada patung dirgantara atau lebih dikenal
patung pancoran untuk menyambut para pendatang yang baru mendarat di Bandar
Udara Halim Perdanakusuma. Patung ini
menggambarkan manusia angkasa, yang berarti melambangkan semangat dan keberanian
bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa.
Kini,
karya patung semakin terpinggirkan. Orang lebih tertarik untuk menyalurkan
bakat seninya pada lukisan, karikatur, sketsa, dll. Membuat patung membutuhkan waktu
yang lama dan proses yang panjang. Lebih lagi, orang cenderung menghindari
kerumitan dalam membuat pola dan adonan membuat patung. “Orang kan cenderung
menghindari hal-hal yang kotor. Pekerjaan menjadi pematung itu sudah seperti
kuli. Butuh tenaga ekstra dan otomatis kotor-kotoran,” tutur Faishol mahasiswa
Pendidikan Seni Rupa semester delapan, Rabu (7/5).
Ingin tampil beda dan memanfaatkan peluang
yang masih terhampar luas lah yang menjadi komitmen Faishol. Anak muda seperti
ia tak ragu untuk bergelut dengan keringat dan peluang pekerjaan yang semakin
mencekik. Ia sadar akan jiwa mudanya yang harus disalurkan untuk mencoba hal-hal baru. Cita-citanya untuk menjadi pematung professional semakin mantap. Rencananya setelah lulus sarjana
pendidikan seni rupa ia akan melanjutkan ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta
dan mengambil fokus pada bidang perpatungan.
Merunut
jiwa seni yang tertanam dalam diri Faishol, ia mendapatkan itu semua dari ayahnya. Anak sulung
dari dua bersaudara ini belajar seni khususnya patung dari seorang ayah. Pekerjaan
ayahnya sebagai pembuat taman air terjun, batu alam dan patung, mengalir pada
dirinya. Jika ditarik garis keturunan ke atas lagi, kakek nya pun seorang pelukis. Sejak kecil ia sudah terbiasa berbaur dengan dunia seni karena lingkungannya.
Sepuluh
patung potret yang diambil dari figur dosen-dosennya itu ia garap sebagai
langkah awal. Salah satu yang digambar yakni rupa Dewa Made Karthadinata, dosen
pembimbing yang juga konsen di perpatungan. Sadar, ia mengaku tersulut semangat
dari Made. Ia sudah tak sabar keluar dari Kota Semarang untuk mewujudkan citanya.
Baginya, anak muda harus mobile. Tak lagi
menunggu. Langkah awal ini ia maknai sebagai wujud jatuh cinta anak muda akan sebuah
cita. Layaknya jatuh cinta, ia akan berusaha untuk terus memberi karya pada liyan. Lalu, liyan yang bisa melihat dan mengapresiasi. 
Pemaparannya yang jelas, sistematis, dan
bergairah itu yang membuat saya terhenyak. Satu kalimat yang ia ucapkan untuk memberi
penegasan atas karyanya yakni  “Aku
yakin, aku akan hidup melalui patung,” tutupnya dengan senyum kecil dan
keringat-keringat kecil yang menetes. Sepanjang jalan dengan langkah kaki kecil saya terkesima, “Ini baru anak muda.” (Dewi)