BP2M/Jun

Oleh
: Reshita A
.R. 

Alam
menyediakan segala sesuatu. Percayalah
kepada saya!
Bagaimana tidak?
Seseorang yang tidak tahu kepada siapa ia bisa mempelajari suatu bidang, hingga
kini mencintainya bahkan menjiwai bidang tersebut. Bukankan bisa jadi itu  diperoleh dari alam?
Saat alunan
gamelan terpecah di hamparan panggung terbuka FBS Unnes sore itu, Selasa (29/4), saya menjumpai
Ardiansah, alumnus Seni
Tari Unnes angkatan 2009. Ia merupakan
salah satu penari di acara Unnes Menari 12 jam.
“Bapak  serta ibu saya bukan penari. Saya pun tidak tahu dari manakah darah seni saya ini,”
katanya sembari tetap menggerakkan tubuhnya.
Terlihat kerumunan orang
terlihat lalu lalang, sebagian ada yang terbelalak, sebagian lain ada yang
melongo saat aku
melihat ke sekeliling. Heran dengan apa
yang mereka lihat. Saya juga menjumpai sekelompok orang bermain kartu Uno. Sangat
riuh. Apa pun yang terjadi, Ardiansah akan terus menari, tanpa
henti. Tidak diperkenankan baginya untuk diam, bahkan sedetikpun.
Unnes
Menari 12 jam merupakan acara untuk memperingati meninggalnya guru tari ballet
Paris. Ya, hari itu (29/4) adalah Hari Tari Internasional. Tahun ini, pertama
kalinya Unnes menyelenggarakan pentas seni tari sendiri. Sebelumnya, hanya
menyumbangkan kontribusinya ke ISI Solo saja.
“Sampai
hari Senin undangan belum masuk. Jadi punya inisiatif untuk membuat acara
sendiri,” paparnya. Ardiansah terlihat sedikit kerepotan membagi fokus menjawab
pertanyaan sambil terus
menari.
Ardiansah
bercerita bahwa sejak pukul enam pagi ia telah menari. Fisiknya yang
belum terbiasa karena sejak lulus jarang menari membuatnya sedikit kelelahan.
Keringat terus bercucuran di keningnya. Namun, Ardiansah menegaskan bahwa ia
mendapatkan kenikmatan tersendiri saat menggerakkan tubuhnya sesuai irama.
“Kenikmatan
ini membuat saya senang. Kalau diumpamakan seperti orang yang sedang pacaran,”
tambahnya. Tari, baginya, selain sebagai olahraga juga sebagai guru. Ada banyak
hal yang bisa dipelajari saat menari, misalnya bersikap sabar dan mampu menahan
emosi.  
Ia menyatakan selalu berterima kasih kepada
alam. Berkat alam, ia memilih tari menjadi bagian dari hidup. Alam memang menyediakan semua
kebutuhan manusia. Tak jauh seperti dikatakan Mahatma Gandhi tempo hari bahwa alam ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita
semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang
serakah
. Usai wawancara,
saya kembali menikmati pertunjukan. Di dalam benak saja, sejujurnya masih
tersimpan satu pertanyaan.
“Mengapa
seorang laki-laki begitu mencintai tarian? Bukankah
secara konstruksi sosial perempuanlah yang lebih diidentikan dengan tarian?” Pertanyaan ini
urung saya lontarkan. Alih-alih saya 
lebih memilih menikmati pertunjukan hingga akhir.