Laboratorium
Film Umar Ismail (LFUI) Universitas negeri semarang sedang menyelenggarakan
lajar tantjep di lantai 1 gedung bahasa jawa, Kamis (9/10). Film yang diputar
yakni diantaranya Welcome to Replubic Iyuh (WTRI), Dieng Culture Festival
(DCF), dan Kabur.
            
Suseno
Pembina LFUI mengatakan dalam sambutannya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ia
tiba-tiba ingin menangis ketika disebut Himas Ketua panitia dalam sambutannya
sebagai Pembina LFUI. “Kalau bisa menangis, saya akan menangis sebab disebut
sebagai Pembina. Saya belum memberikan apa-apa pada kawan-kawan. Kawan-kawan
lah yang berusaha untuk tetap berkreativitas walau dalam kondisi terdesak. Saya
juga tak memberikan pembinaan apapun. Kawan-kawan berjalan sendiri,” tuturnya.
            
Seno
meminta maaf pula atas peralatan yang tak memadai kawan-kawan LFUI untuk
berkreativitas. Banyak peralatan dalam kondisi rusak dan minim. “Barang Negara itu
susah untuk dimusnahkan. Prosesnya berbelit apalagi untuk mengajukan yang baru,”
ujar Seno.
            
Sumartini ketua jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia juga menyampaikan hal yang sama. “Saya
pun turut minta maaf. Walau peralatan tak mendukung, setidaknya ada perhatian
dari sekeliling. Buktinya saya datang pada malam ini,” jelasnya. DM