“Fungsi ini perlu terus dijaga agar tidak terjadi bencana, terutama krisis air,” ujar Sudijono, Rektor pemrakarsa Program Konservasi, dalam sebuah terbitan jurnal, lima tahun yang lalu, lima tahun berjalannya Konservasi, yang sedang dicanangkan cukup serius (?).


Kekeringan air sempat melanda Unnes dan sekitarnya dalam beberapa bulan terakhir. Pada 8 November 2015, untuk pertama kalinya hujan turun di Unnes dan wilayah sekitarnya menghapus krisis air.

Dalam jurnal, Ispen Safrel, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Negeri Semarang, vol. 2, No.1 November 2010, menyatakan bahwa Unnes mempunyai luas kurang lebih 1.444.251 m2 daerah resapan air. Kecamatan Gunungpati, merupakan lahan penyedia air bagi daerah kota Semarang. di dataran yang lebih rendah, yang dulunya adalah hutan belantara yang sekarang menjadi pusat kampus Unnes. Hal ini menjadi pengharapan Sudijono Sastroatmodjo, Rektor periode 2010-2014 supaya fungsi tersebut harus selalu dijaga supaya tidak ada bencana krisis air.

Keinginan lima tahun yang lalu, lima tahun berjalannya program Konservasi, belumlah menjadi kenyataan hingga sekarang. Fakta di lapangan, justru di tahun 2015 ini adalah puncaknya kekeringan periode 15 tahun-nan. (Baca: Shaf Peminta Hujan)

Subkhan (55) warga Banaran, menyatakan bahwa kemarau panjang terjadi pada tahun 1985, 1990-an, dan 2015. “Tahun ini termasuk kekeringan jangka panjang dari bulan Agustus hingga Oktober, dan membuat warga resah adanya kekeringan,” terangnya.

Selain warga, mahasiswa Unnes pun merasakan dampaknya, yakni Amalia Fitria mahasiswa pendidikan geografi 2014 juga mengalami dampak tersebut dengan membeli gallon untuk mandi. Hal ini jelas memberatkan dalam segi pengeluaran kebutuhan bulanan dan menguras kantong mahasiswa.
(Baca: Konservasi Masih Setengah-Setengah)
Suroso, Dosen Geografi, menyebutkan bahwa, penyebab kekeringan ditinjau dari aspek geografi, struktur tanah sekitar wilayah Unnes merupakan jenis tanah peresapan air, namun bangunan yang membludak menyebabkan berkurangnya daerah resapan air. Adanya pembangunan kos-kos dan gedung-gedung.

Selain itu Dewi Liesnoor, ketua Badan Pengembangan Konservasi (Bangvasi) menambahkan, bahwa kekeringan di sekitar kawasan Unnes tahun ini, salah satunya juga disebabkan oleh suhu udara tinggi yang menyebabkan awan tidak terbentuk sehingga curah hujan rendah.

Pemanenan Air

Pemanenan air hujan dalam jurnal Dewi Liesnoor, no. 1, vol. 1, tahun 2012: Potensi Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting) Kampus Unnes sebagai Pendukung Unnes Konservasi, juga menjabarkan  tentang pembuatan lubang biopori sangat berpengaruh dalam menyimpan jumlah air di dalam tanah. Jumlah lubang resapan biopori di Unnes terdapat 3000 lubang, maka air yang dapat teresap adalah sejumlah 28.323 liter/jam jadi  jum¬lah pemanenan air hujan dari lubang resapan biopori 85.535.460 liter/bulan. Dengan adanya Lubang resapan biopori diharapkan dapat mengu¬rangi adanya genangan air, membantu peresapan air hujan yang masuk kedalam tanah dan mem¬berikan cadangan air dalam tanah untuk meme¬nuhi kebutuhan tanaman saat kekeringan.
(Baca: Konservasi: Menghitung Hari, Menghitung Ketidakjelasan)

Upaya warga dan mahasiswa

Kekeringan yang panjang membuat warga sekitar Unnes khususnya melakukan berbagai upaya untuk menghadapinya. Salah satu cara yang dilakukan, yaitu membuat sumur artesis atau sering disebut sumur bor. Hal ini terlihat pada warga sekitar Gang Cempakasari 1 Rt 02/02. Mereka membuat satus umur artesis yang digunakan untuk satu RT termasuk anak-anak kos sekitar. “Setiap kepala keluarga iuran untuk membuat sumur bor tersebut”, jelas Anis alah satu warga setempat.
(Baca : Konservasi: Terbentur Fasilitas dan Aturan yang Tidak Tegas)

Namun, jika sumur artesis digunakan di banyak tempat, maka persediaan air untuk daerah lain yang lebih rendah akan berkurang. “Maka dari itu, untuk membuat sumur artesis perlu ijin ke SDM supaya pembuatan sumur bor tidak boleh terlalu dalam karena dapat membuat rongga pada batu sehingga dapat membuat tanah amblas,” terang Dewi Liesnoor.

Ungkap Riri Safitri Mahasiswa geografi 2014. Ia juga menyarankan kepada rekan mahasiswa untuk mengurangi dampak kekeringan “Dari pada rekan mahasiswa membeli gallon untuk keperluan sehari hari karena kekeringan lebih baik bareng bareng buat biopon dan tanami Unnes kita khususnya kos kalian dengan tanaman hijau.” Tambahnya. [Tim Express]

sumber gambar