Dok. AM Adzkiya
BP2M –
Jumat (24/3) telah diadakan pembukaan acara Piala Konservasi dan seminar nasional yang bertempat di Auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes). Acara
ini dibuka oleh Rektor Unnes, Fathur Rokhman dengan pemukulan gong sebanyak 5 kali. Piala Konservasi
merupakan kompetisi peradilan semu
tingkat nasional yang diadakan oleh unit kegiatan mahasiswa (UKM) Fakultas Hukum Unnes, unit peradilan semu. Piala Konservasi telah dilaksanakan sebanyak dua
kali dan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga yang akan berlangsung selama 4 hari (24-27/3). Selanjutnya, kompetisi ini akan digelar di Pengadilan Negeri Semarang
            Kompetisi
Piala Konservasi diikuti oleh 8 delegasi dan 2 observer dari
berbagai universitas di Indonesia. Sehingga, diharapkan mampu mempunyai daya saing dan daya
sanding. “Selain memiliki daya saing, mahasiswa harus bisa bersanding. Bila
Indonesia bisa bersanding, maka akan menjadi lebih baik,” ungkap Fathur dalam sambutannya (24/3). Adanya kompetisi akan meningkatkan kemampuan
mahasiswa dalam bersaing, dituntut lebih sportif, dan menjaga kesolidan dalam mengaplikasikan
pilar-pilar konservasi untuk masyarakat.
            Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan penegakan hukum yang pro dengan
konservasi. Unnes sebagai universitas
konservasi mendukung penegakan
hukum yang adil terhadap penyelewengan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Seperti maraknya illegal fishing, reklamasi, illegal logging, dan
masalah lingkungan lainnya. Masalah lingkungan yang kini telah banyak
meresahkan masyarakat sudah seharusnya ditindak dengan tegas. Maka dari itu,
perlu adanya dukungan dari banyak pihak termasuk mahasiswa agar keadilan dapat
ditegakkan bagi orang-orang yang melakukan penyelewengan.
            Seminar
nasional yang bertema “Sinergitas Generasi Penegak Hukum dalam Perlindungan dan
Penanganan Tindak Pidana Kelautan” ini menekankan pada tindakan peradilan di
bidang kelautan. Setelah dilantiknya Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru, pihak kementerian telah menindak tegas kapal asing yang
melakukan Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing) di
wilayah kelautan Indonesia dengan cara menenggelamkannya. Faktor yang memengaruhi
IUU Fishing adalah tingginya permintaan ikan, berkurangnya sumber daya laut, dan juga selisih harga. Dengan ancaman IUU Fishing yang semakin
membesar, maka Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) membentuk Satgas 115
guna mengoptimalkan penegakan hukum satu atap yang terdiri dari KKP, TNI Angkatan Laut, Kepolisian RI, Badan Keamanan
Laut RI, Kejaksaan, dan Pakar Hukum.  
Dengan diadakannya seminar nasional ini, Mahasiswa
diharapkan mampu memunculkan kepekaan
yang lebih terhadap keadilan sosial perihal penyelewengan hukum tentang alam, sehingga mahasiswa
dapat menegakkan keadilan yang prorakyat, karena alam juga termasuk bagian dalam rakyat. [Doni,
Sibad]