Instruktur senam, rektor beserta jajaran, dan seluruh yang hadir mengikuti senam konservasi, Rabu (6/03). [Doc. BP2M/Yuni]

Senam konservasi diiringi Gending Jawa pada perayaan Dies Natalis ke-54 ditampilkan agar mahasiswa mengingat budayanya sendiri, terutama Jawa. -Widodo Brotosejati-

Linikampus.com – Peringati Dies Natalis ke-54, Universitas Negeri Semarang (Unnes) gelar senam konservasi masal pada Rabu (6/3). Widodo Brotosejati, penata gending senam konservasi mengatakan, senam ini sebagai upaya konservasi budaya, khususnya gamelan Jawa.

“Unnes itu kan unik, punya slogan konservasi tidak hanya alam tetapi budaya juga, jadi mengingatkan kembali bahwa kita itu punya tangga nada laras pelog dan slendro,” ujar Widodo.

Pangrawit Gending Jawa mengiringi senam konservasi, Rabu (6/03). [Doc. BP2M/Dese]

Menurut Widodo, senam konservasi ditampilkan dalam rangakaian acara Dies Natalis ke-54 Unnes agar mahasiswa mengingat budayanya sendiri, terutama Jawa. Senam konservasi yang dilakukan merupakan seri yang kelima. Senam ini diiringi gending Jawa melalui gamelan.

Baca Juga : Ruang Bebas Berekspresi Ajak Berani Berekspresi

“Kelihatanya banyak yang hadir, karena kan jarang ada senam yang diiringi gendhing Jawa,” tambah Widodo.

Retno Palupi salah satu instruktur senam konservasi menyatakan bahwa instruktur pada senam konservasi ini berjumlah 20 mahasiswa.  Mereka berasal dari berbagai fakultas yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Senam Unnes.

Senam konservasi dilaksanakan di lapangan Prof. Dirham, Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes. Peserta senam ini adalah mahasiswa, masyarakat sekitar, dan civitas akademika Unnes.

Meli, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menyatakan bahwa senam konservasi yang dilakukan sudah bagus, hanya saja kurang koordinasi dan pengarahan kepada peserta. “Senamnya sudah bagus, cuma kurang koordinasi dan pengarahan untuk pesertanya,” tandas Meli.

Reporter : Ismi

Editor     : Afsana