Surat Terbuka untuk Para Maba
Ilustrasi Surat Terbuka untuk Para Maba (BP2M Unnes/Fikri)

Oleh Syifa Amalia (Mahasiswa Sastra Indonesia 2017)

Beberapa saat yang lalu, beranda Instagram saya penuh dengan kiriman para adkel (baca: adek kelas) menggemaskan nan membuat jempol saya pegel linu. Bagaimana tidak? Lha wong sekali posting bisa sampai tiga kali gulir layar. Saya kan jadi capek jika terus klik tanda suka ditambah ngetik ‘selamat’ di kolom komentar. Bayangkan, tiap hari saya harus melakukan prosesi itu sementara saya punya kegiatan yang lebih penting yaitu stalking akun doi.

Potret mereka sedang tersenyum bahagia menghadap kamera, ditambah editan twibbon ala-ala kampus mereka, sungguh pemandangan yang menggemaskan. Mereka belum tahu saja setelah masuk kuliah yang sesungguhnya apakah masih bisa tersenyum manis seperti itu.

Saya langsung ketawa jahat mirip tante-tante antagonis di sinetron kesukaan Mami saya. Fenomena yang bikin geli adalah ada beberapa yang sudah menuliskan nama kampus lengkap dengan jurusan di bio akun masing-masing. Beberapa ada yang menyertakan dua nama kota—tempat  tinggal baru dan lama di sana. Maksud saya, itu bio apa jurusan bus antar kota?

Mendekati tahun ajaran baru begini, mahasiswa berlabel mahasiswa baru (maba) ini menjadi manusia paling repot-serepotnya di dunia. Pasalnya, mereka pasti disibukkan dengan segala macam persyaratan untuk mengikuti ospek yang namanya beda-beda tiap kampus.

Kegaduhan itu pun terjadi di grup WhatsApp alumni sekolah saya dulu. Maba-maba sambat karena mendapat penugasan yang kadang-kadang sedikit nyeleneh. Saya yang merasa disambati hanya bisa mengelus dada. Kalau mau sambat mending langsung ke Yang Maha Kuasa saja, ini harus di saya. Saya ini bukan apa-apa.

Baca Juga : Sebuah Catatan Kecil Tentang Cintamu

Meskipun modelan saya begini, dulu-dulu saya juga pernah menjadi maba yang polos nan lugu. Saya senang sekali ketika berhasil melepas status siswa menjadi mahasiswa. Hal yang paling saya dambakan yaitu menjadi anak kuliahan.

Bisa pakai baju bebas setiap hari, jam belajar yang katanya santai (saking santainya bisa buat rebahan sepanjang hari). Merasa bebas karena sudah tinggal sendiri alias ngekos, bisa jalan-jalan bareng teman, dan eskpektasi-ekspektasi lain. Salah satunya berharap tabrakan dengan kakak tingkat di jalan yang akhirnya jadian. Wow, sempurna sekali pokoknya mimpi saya itu.

Tapi, lagi-lagi saya harus dihadapkan oleh realita yang selalu berbanding terbalik dengan eskpektasi. Saya merutuki diri sendiri apa salah dan dosaku sayang  dari musim durian hingga musim rambutan saya tetap saja jomlo. Boro-boro kenalan, dilirik saja tidak.

Sepertinya mantra tembus pandang saya belum hilang. Perihal pakai baju bebas saya malah jadi bingung. Pasalnya semua baju sudah saya pakai semua, tidak ada stok baru. Sementara uang bulanan sering kali mandek, saya jadi gagal jalan jalan ke tempat yang Instagramable.

Tapi di luar kemalangan saya yang jomlo akut dan berjiwa misqueen, saya senang bahwa kini saya mengalami satu fase baru dalam hidup saya yaitu belajar menjadi dewasa. Saya bisa belajar bagaimana bertahan hidup dengan kaki sendiri tanpa belahan jiwa. Pokoknya semua serba sendiri.

Baca Juga : Orda dan UKM Protes Penyelenggaraan Parade PPAK Unnes 2019

Lama-lama saya jadi terbiasa dengan tugas kuliah yang Masya Allah, di-PHP dosen, ditikung teman sendiri. Semua hal baru yang saya dapatkan di tempat baru ini memberi saya banyak pembelajaran dan pengalaman tentunya.

Untuk adik adik maba yang sedang membaca tulisan ini, saya selaku mahasiswa yang pernah baru pada masanya mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya. Selamat menempuh hidup baru dengan gelar mahasiswanya.

Jangan berharap tinggi-tinggi dulu dengan eskpektasi kalian yang telanjur membumbung tinggi, melalang buana tinggi sampai ke awan. Tapi kalau ternyata eskpektasi kalian benar, kuliah bisa sambil ha-ha-hi-hi, nggak ada tugas kerjaannya nongki-nongki bareng gebetan, itu artinya kalian sedang syuting FTV.