(Dok. Abu)

“Aku ingin menulis reportase seperti Dea Anugrah,” kata saya kepada Doni Darmawan, kawan saya yang juga reporter BP2M Unnes.

“Aku juga, Cuk,” balasnya.

Reportase yang kami maksud berjudul “Tentang 22 Mei: Harapan, dari Dekat Sekali” di Asumsi.co. Dea menulisnya saat isu kecurangan pilpres sedang tinggi-tingginya. Demonstrasi dalam skala besar pecah di Tanah Abang. Dia datang sendiri, dan dia berhasil memotret kisruh di sana dengan indah dan begitu menyentuh.

Sial memang. Sial betul. Ternyata bukan hanya saya yang kepincut dan hendak menapaki jalan reportase Dea. Barangkali, selain saya dan Doni, banyak jurnalis lain yang ingin menulis sama. Momentum demonstrasi yang hendak digelar di depan gedung Gubernur Jateng hari ini (24/9) memang tepat.

Di berbagai kampus, komando mulai digelar dari pukul tujuh. Di kampus saya—Unnes, massa sudah berkumpul kisaran pukul delapan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Setengah sembilan saya dan Doni turun ke Pleburan, tetapi di sana belum tampak satu pun pendemo—hanya ada beberapa polisi yang disiagakan di dekat Patung Kuda Pascasarjana Undip.

“Kok masih sepi ya, Don?”

“Biasa, memang tidak pernah tepat waktu.”

Doni sudah beberapa kali meliput demonstrasi. Sepengalamannya, demo selalu telat—seperti acara-acara lain. Ini pengetahuan baru bagi saya yang tak pernah terjun. Meski sudah dua tahun lebih bergabung di pers mahasiswa, inilah kali pertama saya bersentuhan dengan pendemo. Saya sangat antusias. Bayangan teriakan dan kepalan tangan memenuhi kepala.

***

Dari informasi grup-grup Whatsapp yang saya ikuti, aksi aliansi mahasiswa di Semarang rawan ditunggangi oleh kelompok lain. Beberapa siaran berisi imbauan berhati-hati terhadap provokasi ramai, sama halnya dengan isu penunggangan oleh oposisi serta pihak-pihak yang terafiliasi. Berhari-hari sebelumnya, sebab demonstrasi di kota-kota memang terorganisasi secara pelan-pelan, banyak pihak yang sudah mewanti-wanti hal ini. Sebagian bahkan terang-terangan menuduh, bahwa demonstrasi mahasiswa disusupi kepentingan lawan politik pemerintah, kelompok Taliban, teroris, dan kelak kita tahu, anarko.

Tesis-tesis tersebut tentu saja bisa kita abaikan dengan mudah, apalagi jika yang berbicara orang-orang macam Moeldoko dan Wiranto. Moeldoko, kita tahu, belakangan jadi  ustaz yang meminta masyarakat tabah karena karhutla datang dari Tuhan. Sementara Wiranto, terlalu banyak hal untuk diobrolkan tentangnya. Yang jelas, saat mahasiswa hendak menggulingkan tirani Orde Baru, dia bilang aksi mahasiswa ditunggangi teroris. Itulah pulah yang digunakan sekarang. Selalu begitu, seolah tak ada beda meski sudah lebih dari belasan tahun. Karena hal ini, ada satu meme yang saya suka, dimodifikasi dari sajak Sapardi: Yang fana adalah waktu, Wiranto abadi!

Wiranto abadi bersama ucapan-ucapannya.

Jika kita hendak membuktikan soal ini, aksi #GejayanMemanggil—yang terjadi sehari sebelum aksi aliansi Semarang—bisa jadi contoh paling representatif. Buzzer-buzzer pemerintah sebelumnya bilang bahwa aksi akan chaos, dan prediksi mereka sama sekali meleset. Unjuk rasa berlangsung damai. Romantisme dengan warga sekitar justru tampak; mereka memberikan buah-buahan dan minuman kepada demonstran.

Itu yang terjadi di lapangan, cukup berbeda memang dari situasi di Twitter—barangkali inilah yang membuat para analis medioker khawatir terhadap makar. Di kolom trending topic, seruan #TurunkanJokowi berhasil masuk podium atas bersama tagar lain seperti #MahasiswaBergerak dan #GejayanMemanggil. Lazim bila sebagian orang berprasangka buruk. Namun, jika mereka mau sedikit saja meneliti, kekhawatiran tersebut sesungguhnya kurang berdasar.

Dalam pantauan Drone Emprit, tagar tersebut digaungkan oleh pendengung yang sama sekali lepas dari aksi mahasiswa. Ismail Fahmi, lewat utasnya di Twitter, menunjukkan bahwa yang menginisiasi tagar #TurunkanJokowi bukan dari kalangan mahasiswa. Mereka tak lebih dari buzzer politik yang memanfaatkan momentum, dan orang-orang yang hanya bisa ambil kesempatan dalam kesempitan, sejak dulu dan sampai kapan pun, adalah orang-orang picik yang tak mengerti spirit perjuangan.

Lalu bagaimana dengan aksi di Semarang?

Dari awal demonstrasi, saya sudah melebur di tengah mahasiswa. Awalnya saya bersama Doni, tetapi tak lebih dari 50 meter, kami sudah berpisah.

“Don? Don?” panggil saya cukup keras. Saya melihat ke sekitar, tetapi tak ada sosoknya sama sekali. Saya cukup kaget. Padahal tubuhnya cukup besar untuk bisa saya lihat, dan kami baru turun. Baru saja.

Bagaimanapun, saya harus melanjutkan. Saya kemudian bertemu Agung, salah seorang kawan di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi UIN Walisongo, dan sialnya lagi, dia juga ingin menulis reportase seperti Dea Anugrah.

Terlepas dari hal itu, yang saya lihat kemudian adalah girah yang meletup-letup dari ribuan mahasiswa—koordinator lapangan memperkirakan jumlah pendemo mencapai 7000. Saya mungkin sudah melihat video demo di berbagai tempat, termasuk demo tahun 1998. Namun melihat langsung, apalagi ini pertama kali dan langsung dalam jumlah besar, terasa sangat berbeda. Mata saya bisa melihat ke segala penjuru. Kuping saya mendengar orasi langsung, juga bisik-bisik antar satu-dua pendemo yang kebetulan berada di samping saya.

Suara mereka bulat: tolak RUU ngawur, dan kezaliman dalam bentuk apa pun, harus dihapuskan dari negeri ini.

Maka kemudian, ketika ada yang mencemooh mahasiswa sebagai alat tunggangan dan massa reaktif yang dengan mudah terpantik provokasi isu, bisa saya katakan: tidak. Beberapa mahasiswa memang tampak  hanya nge-vlog, ada juga saat aksi belum benar-benar selesai berfoto ria di belakang barisan dengan pose-pose kekinian. Namun ketika saya tanya, mereka tetap ke sini untuk ikut serta menyuarakan aksi.

“Yang jelas, kita tidak sedang baik-baik saja,” kata salah satu dari mereka. Singkat.

Negara memang sedang tidak baik-baik saja, itulah yang saya simpulkan setelah berhari-hari mengamanti media sosial, juga mendapatkan informasi dari rekan-rekan sekitar. DPR terkesan buru-buru untuk mengesahkan pasal-pasal ngawur, sementara mereka lamban menangani pasal yang substansial seperti RUU PKS.

Dalam demonstrasi Semarang, menjelang akhir acara koordinator menyampaikan tuntutan kepada Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah—yang tak lekas turun dari awal hingga membuat massa merobohkan gerbang—agar disampaikan di Senayan. Demonstran menolak oligarki yang zalim dan korup; mereka adalah sumber petaka di tanah air.

Lalu saya mengingat lagi pekikan sumpah mahasiwa, lagu-lagu kebangsaan dan yel-yel yang sepanjang acara didengungkan mahasiswa. Saya sedih, bahagia, haru. Perasaan saya sabur limbur. Semua berjalan cukup damai dan tertib, dan saya bersyukur Semarang bisa seteduh ini saat unjuk rasa di Senayan, Solo dan Medan mengucurkan banyak darah.

Sebagian orang boleh saja bilang bahwa aksi seperti ini sia-sia; mahasiswa sok heroik, ditunggangi kepentingan oposan hingga Taliban, atau mahasiswa sekarang hanya ingin bernostalgia ala reformasi 1998. Bagi saya, orang-orang seperti itu sungguh menyedihkan. Mereka tidak memiliki kehendak untuk mengetahui kondisi lapangan, berjumpa dengan pendemo, lalu melihat langsung visi macam apa yang dibawa di jalanan.

Demonstrasi sama sekali lepas dari kepentingan kubu. Tidak ada 01 atau 02. Tidak ada cebong atau kampret. Di bawah bendera merah putih, saya dan ribuan orang jadi saksi bahwa semua melebur jadi satu: mahasiswa, rakyat Indonesia. Ketika ada yang hendak mengibarkan bendera lain, mereka langsung ditindak. Pemuda Pancasila mengalami ini. Saya melihat sekitar tiga bendera mereka berkibar di tengah barisan, dan teriakan seperti “bangsat” serta komando pusat langsung bisa menurunkannya.

Lagi-lagi, mereka hanya ingin melawan aturan-aturan hukum yang represif. Tidak ada agenda menjatuhkan rezim, atau mencelakakan orang-orang tertentu.

Bukankah memang terlalu banyak duka di Indonesia hari-hari ini?

Kebakaran hutan yang tak lekas diselesaikan, narasi pelemahan KPK, hukum yang tidak memihak rakyat kecil, dan seterusnya, dan seterusnya.

Para mahasiswa yang kemarin, hari ini, dan hari esok turun ke jalanan hanya sedang berusaha mengusir duka dalam hati mereka. Mereka bersatu, tak ingin egois menggelorakan kepentingan organisasi sendiri. Itulah yang harusnya kita lihat.

Pada akhirnya, sebanyak apa pun duka yang hadir pada hari-hari kita, romantisme perlawanan harus selalu ada. Jikapun kelak mahasiswa kalah, setidaknya mereka telah melawan. Itu kekalahan terhormat yang bisa siapa pun dapat. []

 

Ahmad Abu Rifai