Suhardi Alius Saat Menyampaikan Materi Pencegahan dan Penanggulangan Intoleransi, Radikalisme, Terorisme, Rabu, (18/8). [Dok. BP2M/Ananda]

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme RI 2016-2020 Suhardi Alius menegaskan bahwa pemahaman resonansi kebangsaan perlu digaungkan kembali untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mempertahankan NKRI. Hal ini disampaikan dalam PKKMB Unnes, Rabu (18/8).

Menurut Suhardi, resonansi kebangsaan menggambarkan berbagai realitas dan peristiwa yang terjadi serta turut menggetarkan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Penulis buku Resonansi Kebangsaan itu mengatakan bahwa keberadaan gawai yang bertransformasi menjadi kebutuhan primer memiliki sisi positif dan negatif, apalagi dengan derasnya perubahan kultur. Selain itu, menurutnya pengaruh radikalisme dan terorisme dengan mudah tersebar melalui dunia maya.

“Media sosial luar biasa perannya, celakanya banyak sekali hoax yang mempengaruhi kehidupan kita semua,” ujar Suhardi (18/8).

Di sisi lain, Suhardi menjelaskan media, gawai serta kecepatan informasi menjadi aspek rentan dan senjata politik, serta propaganda terhadap masuknya paham-paham tersebut pada generasi muda. Untuk merespon tantangan tersebut, ia menganggap kemampuan mahasiswa sebagai generasi muda dibutuhkan untuk memfilter dan memverifikasi setiap informasi yang masuk.

“Nasionalisme penting dipupuk sejak dini. Pendidikan moral dan kebangsaan penting untuk menanamkan nasionalisme. Sikap toleransi perlu ditumbuhkan di pendidikan sekolah, kita harus merawat kemajemukan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa setiap orang harus memiliki sense of crisis, naluri rasa kebangsaan, dan peka terhadap perubahan. Selain itu, Suhardi menekankan masyarakat untuk mengkritisi penyelenggara negara, cepat dalam merespons isu, dan menjadi agen perubahan untuk mencegah radikalisme dan terorisme.

Dalam forum, Suhardi menjelaskan bahwa pola masuknya radikalisasi ke perguruan tinggi adalah dengan proses rekrutmen. Proses tersebut dimulai dengan mendekati mahasiswa baru, membuat kelompok kecil, kemudian mendoktrin mahasiswa baru dengan paham-paham radikal.

“Modus-modus tersebut harus menjadikan kalian mahasiswa baru waspada,” katanya.

Sementara itu, menurut Suhardi ciri-ciri dari orang yang terpapar radikalisme adalah anti sosial dan memiliki perubahan sikap emosional ketika berbicara politik dan agama.  Ia juga menyebutkan bahwa adanya pengungkapan kritik yang berlebihan terhadap masyarakat secara umum turut menjadi salah satu cirinya.

 

Reporter : Ananda

Editor : Alya

Tinggalkan Balasan