Menarik sebenarnya
untuk dibahas, sebuah kata yang saya garis bawahi dengan tebal. Kata yang
keluar dari teman saya, yang cukup menarik bagi saya. Sebuah kata “elegan”
tegas keluar dari getaran pita suaranya dan entah kemudian secara cepat
tertanam di kepala hingga memunculkan banyak pertanyaan mengenai kata tersebut.
Elegan, bukan
hanya sekadar kata yang terdiri dari enam huruf. Namun lebih dari itu mempunyai
sederet kata penjelas yang sangat dalam maknanya. Saya kutipkan salah satu
teori mengenai kata “elegan” dan mari sambung-sambungkan secara lebih kongkrit
dengan realita.
Mengutip
Architectural Design (2007), “Just like
natural system elegant composition are so highly integrated that they cannot
easily be decomposed into indepent subsystem”.
Dari pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa bentuk dari sesuatu yang elegan adalah kehadiran dari
kesatuan antar susunan yang alami yang saling terintegrasi satu sama lain dan
tak dapat diuraikan dengan mudah karena akan menghilangkan unsur dari elegan
itu sendiri.
Lalu, seiring
berjalannya waktu, kata elegan menjadi label yang sangat mudah dipakaikan ke
beberapa hal. Entah itu hal yang bersifat material ataupun non material.
Perubahan makna elegan yang mendalam—seperti yang dikemukakan Achitectural
Design tersebut lantas berubah seiring zaman. Kata elegan lalu menjadi label
yang menjual untuk disertakan dalam paket penjualan sesuatu, entah barang,
jasa, atau bahkan moral. Memang kata itu seperti magnet sehingga orang-orang yang
berkecimpung dalam hubungan sosial dengan kadar yang cukup tinggi perlu membranding barang, jasa atau bahkan
moral itu dengan kata elegan agar terlihat elegan.
Padahal elegan
bukan branding yang mudah dengan
begitu saja dilabelkan pada sesuatu, seperti yang sudah tertera dalam definisi
di atas. Elegan bisa dicontohkan dengan label Hollywood di kawasan barat laut Los
Angeles yang dikenal bukan karena kawasan di daerah tersebut bernama Hollywood
dan di tepi jalan yang menghadap ke lembah dibangun tulisan “HOLLYWOOD”. Bukan
karena itu, tapi memang karena Hollywood menjadi industri perfilman dunia nomor
wahid karena sejak sekitar tahun 1911 produser film berbondong-bondong hijrah
dari kawasan pantai Timur Amerika ke Los Angeles yang berada di pantai barat dan
menyuburkan tanah tersebut dengan karya-karya terbaik dunia perfilman. Dan bisa
dilihat sekarang dalam pikiran manusia, jika membahas soal Hollywood, apa yang
pertama kali muncul dibenaknya? Pasti film-film yang luar biasa.
Coba bayangkan
jika dulu, para produser lebih memilih Virginia, atau New York untuk berkarya
di bidang perfilman, apa yang terjadi pada Hollywood sekarang? Bahkan ketika di
setiap rumah penduduknya dibangun kata-kata HOLLYWOOD tidak akan membuat
pembacanya mengarahkan pemikirannya ke hal-hal yang berhubungan dengan
film-film hebat nan memukau.
Itulah elegan,
menurut saya. Hollywood menjadi begitu elegan karena dalam berbagai unsur di
dalamnya menunjang kawasan tersebut membranding
dirinya dengan sematan elegan dalam bentuk karya-karya terbaik di bidang film.
Hollywood tidak kehilangan kesatuan antar susunan yang alami yang saling
terintegrasi satu sama lainnya. Bahkan tak dapat diuraikan dengan mudah.
Hollywood punya cuaca yang bersahabat, produser-produser hebat, kawasan yang
baik, dan berbagai aspek penunjang lainnya. Hollywood adalah industri perfilman
terbaik dunia bahkan kata Hollywood adalah branding film yang kemudian diikuti
oleh branding-branding lainnya seperti Boolywood (India), Chinawood (Tiongkok),
Igbowood (Nigeria), dan lain-lainnya.
Kembali ke
penggunaan kata elegan yang sangat mudah disematkan pada sesuatu agar memang
terlihat elegan. Kata itu rupanya juga digunakan dalam dunia pers jurnalistik. Tagline di bawah nama produk, semisal
“Cerdas, Kualitas, Objektivitas”, atau “Terdepan Mengabarkan”,  atau “Amanat Hati Nurani” atau lain
sebagainya dengan begitu mudahnya disematkan tanpa memperdulikan bagian-bagian
paling urgen. Tagline seperti itu
memiliki dua kemungkinan. Pertama, sebagai identitas diri dalam bekerja dan
Kedua, adalah alat jual yang berharga.
Jika menilik
realitasnya, banyaknya insan pers yang bergerak di bidang penyiaran dan
jurnalistik justru tidak mencoba mengejawantahkan tagline-tagline yang didesain
sebaik mungkin sebagai bagian prinsip dalam kerja di lapangan. Tapi dimaknai
sebagai simbol dari elegansi, simbol yang dijual dan dipasarkan kepada
masyarakat.
Berita yang
disuguhkan, kritik media satu ke media yang lain, saling serang pihak lawan
dengan berita yang secara sadar adalah konsumsi publik menjadi hal yang
biasa sekarang. Pihak pers tidak lagi memegang agama bernama kode etik journalism, tapi berpijak pada ranah
untung atau rugi. Idealisme pihak-pihak tersebut perlu dikaji dan dipertanyakan
lagi, sama dengan pejabat public yang duduk sebagai wakil rakyat yang perlu
dikaji dan dipertanyakan idealismenya. Apakah masih mengutamakan publik (baca:
rakyat) atau justru bicara untung rugi pribadi.

Elegan buah dari etika

Saat ini kita
dihadapkan pada persoalan pelik. Tuntutan modernisme yang cukup kuat dalam
berbagai ranah kehidupan berasaskan materialisme menjadikan kita—pihak-pihak
yang hidup dan berjuang untuk kemaslahatan masyarakat dan negara cenderung
salah orientasi pemaknaan, terutama pers itu sendiri.
Etika dan hati
nurani menjadi kunci terakhir bagi pembangunan kembali dasar-dasar pemahaman
yang salah. Mengutip tulisan Redi Panuju “ketika sebuah konstruksi fakta
dirajut, sesungguhnya banyak kepentingan terhimpun di dalamnya.” Maka soal
“elegan” yang disematkan pada diri insan pers dan media untuk menjual produknya
berupa berita haruslah difilter lagi. Ada bagian-bagian yang sangat intim untuk
tidak ekspos dalam berita.
Filter di sini
adalah etika. Bagian yang jauh terdapat di dalam relung hati sebagai hakim diri
untuk menentukan akan diapakankah suatu berita. Mau dijual sebagai produk yang
akan menambah pundi-pundi keuntungan atau dikaji sebagai bahan pencerdasaan
khalayak umum. Membangun elegan dengan tagline
dan pemberitaan yang sarat akan kontroversi atau membangun elegan dengan norma
dan etika.
Pada akhirnya,
semua kembali kepada pribadi masing-masing. Apakah akan dengan mudah
menyiratkan kata elegan dalam setiap produknya tapi menghilangkan banyak sekali
unsur yang sejatinya membangun elegan itu sendiri, atau memaknai lagi definisi
elegan yang tersematkan dalam tagline-tagline
itu dan mengejawantahkan dalam kehidupan bekerja yang professional. Ketika pers kehilangan etika, apakah masih
pantas disematkan kata “elegan”? (Irkham)