Oleh: Amala Nur


Isu
lingkungan menjadi masalah yang diangkat dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
di Paris, Sabtu (12/12/15). Pertemuan untuk merumuskan strategi
penanggulangan perubahan iklim di dunia mengajak berbagai pihak untuk terlibat.
Sekitar 195 perwakilan negara menyepakati teks rancangan itu. Meski belum jelas
langkah-langkah yang akan diterapkan, siapa yang harus menanggungnya dan kapan
akan dimulai, setidaknya isu lingkungan kini mendapatkan tempat di forum dunia.
(Tempo.co, 13 Desember 2015).

Pembangunan
yang hanya berorientasi
pada kemajuan manusia mulai dari revolusi industri hingga sekarang mendorong perubahan iklim yang buruk. Peningkatan suhu bumi, pencemaran
udara, tanah, dan lautan, menipisnya hutan dan lain sebagainya adalah contoh
kerusakan yang diakibatkan oleh pembangunan manusia. Hal itu memunculkan wacana
pengalihan orientasi pembangunan dari manusia
menjadi berorientasi manusia dan lingkungan.
Dalam
setengah abad terakhir kita menciptakan dunia yang manusianya rata-rata berumur
dua dekade lebih panjang, dapat menyeberangi samudera dalam sehari dan
menganggap hal itu biasa, dapat berkomunikasi jarak jauh dengan mudah dan
mengglobal. Segala pembangunan ditujukan untuk
menghidupi manusia, hanya berorientasi pada manusia. Bahan bakar fosil
digunakan, alam dieksploitasi untuk mewujudkan cita-cita itu. Arus bisnis dan
ekonomi disokong oleh sumber daya  alam
sehingga memicu kerusakan lingkungan yang berat. Tetapi pada paruh kedua abad
ke-21, jika ingin menghindari bencana iklam, kita harus bisa maju tanpa
bergantung padanya.”Tahun ini bisa menjadi titik balik,” begitu orasi Laurence
Tubiana, duta iklim dunia dari Prancis.
Salah
satu perwakilan Indonesia yang hadir dan bersuara pada KTT Prancis adalah
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melalui forum itu, SBY menyatakan orientasi
ekonomi dunia harus berubah. Dari breed
economy
(ekonomi rakus) menjadi green
economy
(ekonomi hijau).
Di hari
ulang tahun Universitas Negeri Semarang, SBY yang hadir untuk memaparkan orasi
ilmiahnya pun mengangkat tema serupa, Rabu (30/3/16). SBY tak henti memuji
langkah Unnes menjadikan dirinya sebagai universitas Konservasi yang memiliki
visi menjaga lingkungan. “Kampus Unnes betul-betul berseri,” begitu puji SBY. (Baca: SBY: Unnes Betul-betul Berseri)
Kesampingkan Konservasi

Namun,
agaknya SBY harus kecewa karena tagline
konservasi itu kini hanya sekadar gaung yang semakin kecil perannya di
masyarakat. Rektor baru Unnes justru mengangkat program lain yakni “Rumah Ilmu
Pengemban Peradaban” yang masih abstrak dalam penerapannya. Setelah pergantian rektor di Unnes, konservasi cenderung
mengalami penurunan. Lima tahun lebih, dari tahun 2010, brand konservasi masih jauh dari kata memuaskan.
Sejak empat
tahun ini, kelurahan Sekaran, Banaran, dan Patemon mengalami kerusakan lingkungan
yang cukup parah. Didorong oleh motif ekonomi, pembangunan rumah kos, kavling, warung makan, dan sebagainya menjadi tidak terkontrol. Alhasil, kerusakan lingkungan tidak
terhindarkan. Krisis air di musim kemarau, banjir di musim penghujan, sampah
yang berserakan dan mengganggu, longsor, serta emisi karbon, meningkatkan
suhu udara di wilayah tersebut.
Unnes
sebagai universitas konservasi selama ini masih bergeming. Tindakan nyata untuk
menyuarakan visi konservasi di lingkungan sekitarnya nyaris tidak ada. Hal ini
ditambah dengan semakin banyaknya mahasiswa yang menetap di wilayah sekitar
Unnes.
Pihak
Dinas Tata Kota dan Perumahan Semarang pun tidak bisa berbuat banyak. Aparat
kecamatan dan kelurahan terlalu longgar memberikan izin mendirikan bangunan
tanpa memperhatikan lingkungan. Alhasil, saban tahun saat memasuki musim
kemarau, mahasiswa tidak mandi dalam satu hari adalah hal yang biasa. Air
menggenangi jalan utama yang menyebabkan aspal mengelupas pun tidak
terhindarkan saat musim penghujan tiba.

Anugerah
konservasi yang diberikan Unnes kepada SBY bisa dikatakan hanya sebatas
simbolisasi pencitraan semata jika tidak ada langkah konkrit untuk
mengedepankan konservasi. Dan di ulang tahun yang ke-51 ini, Unnes wajib
berbenah. SBY telah memilih datang ke Unnes daripada mendatangi undangan dari
luar negeri untuk berorasi mengenai lingkungan. Ini harus dijadikan pijakan
awal oleh Unnes untuk membangun kelestarian lingkungan, dimulai dari daerah
yang paling dekat. Hal itu pun, jika memang konservasi
Unnes bukan sekadar kata-kata tetapi memang sebuah cita-cita. “Konservasi ‘nang Njero Kekep” yang
pernah ditulis oleh Achiar M Permana dua tahun silam agaknya bukan sekadar
omong kosong. Kecuali, ada yang perbuatan nyata, bukan sekadar utopisme yang saban tahun digemborkan tanpa tindakan. Selamat
Ulang Tahun Unnes (Konservasi) ke-51.
Mahasiswa Unnes (Konservasi)