Oleh Septi Indrawati dan Debi Permatasari
SAAT mendengar kata makam, pasti tak
pernah terlintas di pikiran kita makam di tengah lau­tan. Sepertinya hal itu
tak mungkin. Tapi kali ini tidak. Makam yang dipercaya masyarakat setempat
merupakan makam Syeikh Abu Bakar bin Yahya Ba’alwy, cucu ke 29 Nabi Muham­mad
SAW ini berada di tengah daratan yang dikelilingi lautan yaitu di Pulau
Panjang. Pulau sel­uas 35 hektar ini berada di tengah lautan daerah Bandengan,
Jepara.
Sunrise di pantai Bandengan/Rustama
Dahulu Pulau Panjang bu­kanlah sebuah
pulau, melainkan sebuah gunung yaitu Gunung Mu­ria. Menurut cerita, sekitar 300
tahun yang lalu, Gunung Muria meletus lalu terpisah menjadi dua anaknya,
Sudiono.
Menurut Sudiono, makam itu dulu
bukanlah tempat wisata. Na­mun karena banyaknya orang yang ingin berziarah,
maka dibangunlah makam tersebut. Pembangunan makam dengan menggunakan dana
hasil swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah setempat. Se­lain makam, Pulau
Panjang dikeli lingi oleh hutan yang di dalam­nya terdapat berbagai jenis
hewan, seperti ular, komodo, burung, dan sebagainya. Tak heran, banyak
masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi pulau ini. Selain ber­ziarah, dapat
berwisata pula. Wisa­ta alam dan wisata pantai dengan butiran pasir putih yang
terhampar luas.
Jalan menuju air barokah/Rustama
Untuk dapat sampai di Pulau Panjang,
pengun­jung dapat meng­gunakan perahu mesin dari pulau Bandengan. Per­jalanan
membu­tuhkan waktu seki­tar 30 menit. Cu­kup membayar Rp 10.000, pegunjung
dapat menikmati bagaimana rasanya naik perahu mesin menyusuri per­jalanan ke
pulau Panjang, meman­jakan mata dengan pemandangan air laut yang bergelom­bang.
Ketika sampai di Pulau Panjang,
pengunjung disam­but hamparan pasir putih dengan kerang-kerang yang berserakan,
hijaunya pohon-pohon bakau, angin yang sepoi-sepoi dan suasana yang sejuk.
Setelah menempuh perjalanan selama 30
menit dengan peman­dangan air laut yang begitu meme­sona, rasa lelah
menghampiri. Namun, pengunjung tidak perlu khawatir ada warung-warung yang
menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman. Pengunjung dapat menemukan ikan
asin jumbo yang menjadi oleh-oleh khas pulau ini. Panjangnya mencapai 30 hingga
45cm, sedangkan lebar ikan asin tersebut sekitar 10-15cm. Harga nya cukup
terjangkau, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 15.000-20.000 per kg.
Selain itu, di warung-warung ini juga menjual berbagai pernak-pernik khas Pulau
Panjang yang terbuat dari kerang. Ada yang berbentuk hewan, bu nga, bahkan
replika makam. Per­nak-pernik nan indah ini harganya juga sangat terjangkau,
hanya Rp 10.000 per buah.
Makam ziarah/Rustama
Kemudian jika akan berziarah,
pengunjung harus izin terlebih da­hulu kepada penjaga makam, yaitu Sudiono.
Warga asal Pekalongan ini sudah 11 tahun menjaga dan merawat makam. Menurutnya,
se­tiap hari pasti ada saja orang yang akan berziarah. Makam tersebut berada di
dalam sebuah pendopo yang tertutup. Pintu cungkup makam hanya dibuka setiap 40
hari sekali pada hari Jumat, pagi pukul 08.00-12.00 WIB, kemu­dian malam pukul
20.00-00.30 WIB. Sedangkan di hari-hari biasa kalau peziarah banyak, makam da­pat
dibuka tapi kalau pengunjung sedikit makam tidak dibuka. Zi­arah di makam ini
tidak dikenakan biaya yang pasti, hanya disediakan kotak amal, terserah
pengunjung mau mengisinya berapa.
Ketika ditanyai tentang waktu buka
makam, Sudiono mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia hanya menjalankan
amanat dari penjaga makam sebelumya, Mbah Ahli Krama, ayahnya. Ia juga mengaku
sangat bersyukur dapat merawat makam cucu Nabi terse­but. Ada banyak berkah
yang ia terima. Sosok Habib Abu Bakar selalu menginspirasi dirinya bahwa
kehidupan di dunia tidaklah abadi, tak perlu ada kesombongan dalam hidup karena
sesungguhnya hidup di dunia hanyalah sementara. Se­lain itu, menjaga makam
tersebut juga dapat melindungi dirinya dari bahaya.
“Sekitar tahun 2007, terjadi angin
punting beliung. Daerah Bandengan banyak terjadi kerusa­kan, tapi anehnya
daerah makam tersebut seperti terlewati angin, tak ada kerusakan sedikit pun. Subha­nallah,
Allah sungguh melindu- nginya,” ungkapnya, Sabtu (2/6).
Tidak semua orang diizinkan berziarah
di makam yang konon penuh berkah ini. Wanita yang se­dang menstruasi tidak
dapat ikut berziarah. Saat berziarah pun harus fokus dalam berdoa, tidak boleh
melamun atau memikirkan hal-hal aneh lainnya. Jika hal ini dilanggar, konon
akan menyebabkan kesuru­pan.
Usai melaksanakan ziarah, pengunjung
dapat mengunjungi sebuah pendopo yang letaknya kurang lebih 10 m dari pendopo
makam. Dalam pendopo yang kira-kira berukuran 3×3 m ini terdapat dua gentong
besar berisi air. Air yang berasal dari saluran air makam ini disebut air barokah
yang berarti berkah. Konon dapat menyembuhkan segala penyakit, membuat awet
muda, dan banyak membawa keberkahan lainnya. Cukup dengan membasuh muka lalu
meminum air tersebut secu­kupnya. Sekilas, air tersebut seperti air putih biasa
tapi jika diminum rasanya agak asin bercampur pahit dan sedikit berlendir. Jika
pengun­jung ingin membawa pulang air tersebut juga diperbolehkan, tapi anehnya
sesampai di rumah air tersebut rasanya berubah hanya seperti air putih biasa.
Baju oleh-oleh/Rustama
Selain
menikmati keunikan Pu­lau Panjang tersebut, pengunjung dapat sekaligus
menikmati keinda­han alam pantai Bandengan. Pan­tai yang letaknya sekitar 7 km
dari pusat Kota Jepara ini, menyajikan wisata pantai yang begitu mem­pesona.
Deburan ombak pantai yang tak henti-hentinya bergemu­ruh bagai lantunan irama
musik alam yang membuat perasaan da­mai dan betah lama-lama duduk santai
di tepi pantai. Di tepi pantai terdapat banyak pohon besar yang rindang, ada
juga beberapa gazebo untuk tempat istirahat dan ada berbagai sarana permainan
anak. Kemudian tersedia warung-war­ung yang menjual berbagai maka­nan dan
pernak pernik khas pantai Bandengan. Tempat parkirnya juga luas. Tak heran
banyak pengun­jung yang berwisata di pantai ini, selain tempatnya yang indah,
harg­anya pun terjangkau, cukup mem­beli tiket masuk seharga Rp 5000.