Cover desain film Megamind

BAGAIMANA
nasib Batman jika Joker tiba-tiba bersedih dan mengurung diri di kamarnya, tak
mau lagi membuat kekacauan di Kota Gotham? Bagaimana pula Superman akan
menjalani hidupnya jika Lex Luthor memutuskan alih profesi menjadi CEO tim
sepakbola Chelsea dan berhenti mengonfrontasi Superman? Tidak ada serial film
dari Batman ataupun Superman yang menceritakan kisah semacam ini. Memang kisah
semacam itu tidak lagi menarik. Tidak ada konflik. Tidak ada pertentangan.
Kisah heroik akan menjadi membosankan. Namun, Megamind, film animasi 3D
produksi Dreamworks besutan Tom McGrath, berani mengangkat kisah semacam itu.
Bukan pahlawan yang kehilangan penjahat, melainkan penjahat super yang
kehilangan pahlawan.

Cerita diawali dengan sebuah kilas
balik. Megamind—nama tokoh utama film ini yang suaranya diisi Will
Ferrell—terjatuh dari langit. Tiba-tiba dia ingat bagaimana mulanya dia bisa
sampai pada keadaan itu. Dua planet yang tersedot lubang hitam mengirimkan
pesawat yang berisi dua bayi, generasi terakhir dari ras mereka. Pesawat
pertama berisi bayi berkekuatan super dan berparas tampan, kedua berisi bayi
berwana biru berkepala besar dan super jenius. Dua pesawat penyelamat itu
mendarat di bumi. Dalam perjalanan di angkasa, persaingan di antara keduanya
sudah di mulai.
Kembali ke cerita. Seperti di
film-film sebelumnya—salah satu yang terkenal adalah Madagascar, McGrath kerap
menampilkan kritik-kritik sosial. Misalnya dalam film ini, sekolah ditampilkan
tak selalu memberikan hal baik. Di sekolah itulah, Megamind menemukan
takdirnya, jati dirinya sebagai penjahat super. Menjadi teman sekelas
Metroman—bayi berkekuatan super yang diidolai—membuat Megamind menjadi defian,
yang terkucilkan. Setiap hal yang dia lakukan selalu nampak lebih buruk jika
dibandingkan dengan Metroman. Metroman selalu menjadi anak baik, sedangkan
Megamind menjadi si anak nakal. “Jika aku memang anak nakal, maka aku akan
menjadi anak nakal yang paling nakal sedunia,” kata Megamind, dengan gaya
kocaknya. Jati diri ditemukan. Takdir telah dipahami. Tetapi apakah
permasalahan hidup akan selesai setelah jati diri ditemukan dan takdir sudah
dipahami?
Metroman menjadi pahlawan Metro
City, dan Megamind menjadi panjahat super. Tidak seperti cerita lain yang
penjahat super selalu kalah. Megamind berhasil menghentikan Metroman. Sang
pahlawan mati. Kota dikuasai kejahatan. “Bayangkan saja hal yang paling
mengerikan dan menyeramkan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, lalu
kalikan enam. Atau lebih sederhananya, kalian akan mulai menjalani kehidupan
normal yang suram seperti layaknya orang normal.” kata Megamind dalam
konferensi pers setelah membunuh Metroman. McGrath mengangkat persaingan antara
baik dan buruk tidak dengan alur yang serius. Seperti banyak film animasi,
Megamind menyuguhkan guyonan-guyonan satire di sana-sini. Megamind, penjahat
super yang kocak melawan Metroman, pahlawan super yang terkenal bak
selebritis—Batman bersembunyi di gua kelelawar dan Spiderman di salah satu
kamar di jutaan gedung bertingkat di kota New York.
Kegalauan
Penjahat Super
Penjahat super yang tujuan hidupnya
hanya mengacau semestinya bahagia ketika dia bisa menguasai kota. Tetapi, tidak
dengan Megamind. Malah kesepian yang dia rasakan. Untuk mengapa mengacau kota
jika tidak ada yang mampu menghentikannya? Untuk apa bermain jika kemungkinan
yang dipunyai hanyalah menang. Tidak seru. Tidak menyenangkan. Membosankan. Ya,
Megamind mengalami kejenuhan dalam berbuat jahat setelah kematian Metroman,
rival abadinya—atau sebut saja pasangan abadi.
Dunia ini butuh keseimbangan untuk
terus berputar. Baik ataupun buruk harus selalu ada, berdampingan. Jika baik
atau buruk itu hilang salah satu, yang muncul hanya kehampaan. “Apakah ini yang
disebut ruang hampa? Ruang hampa yang di dalamnya tujuan tak pernah ada,”
Begitulah dialog eksistensial antara Megamind dengan mainan di meja kerjanya.
Namun, bukan penjahat super jenius yang banyak akal jika tidak bisa mengatasi
masalah eksistensial itu. Dia mengambil jubah yang ditinggalkan Metroman,
mengambil ketombe yang menempel di sana. Megamind menciptakan pahlawan super
dari DNA Metroman. Iya, penjahat super menciptakan pahlawan untuk
menghalanginya.
“Aku penjahat tanpa pahlawan. Aku
tanpa tujuan. Aku Yin tanpa Yang.” katanya pada asistennya, Minion. Megamind
butuh liyan yang bersebarangan dengannya agar tetap hidup, agar tetap punya
tujuan, mengacaukan Metro City. Seperti yang pernah Paman Ben katakan kepada
Peter Parker di film Spiderman, “Great power comes great responsibility”. DNA
super Metroman jatuh ke tangan salah. Titan, tokoh super ciptaan Megamind yang
semestinya bertugas menjaga Metro City ketika Megamind mengacau, malah merusak
kota. Titan tak mengerti bagaimana bertanggung jawab atas kekuatannya, dia
menyalahgunakan kekuatan super itu. Megamind kalah bertarung dengan Titan.
Penduduk Metro City berbahagia dan berteriak, “Titan telah membebaskan kita
dari Megamind.” Tetapi Titan menyeringai seraya berujar, “Aku tidak mengatakan
bebas. Lebih tepatnya, di bawah tirani baru.”

Merujuk pada kata-kata Umberto Eco,
pahlawan itu dibentuk oleh keadaan. DNA super dari pahlawan super pun bisa jadi
tirani yang malah menghancurkan jika jatuh di tangan dan salah. Tak seorang
pun, menurut Eco, bisa menjadikan dirinya pahlawan. Jika pun bisa, dia tidak
menjadi pahlawan, melainkan menjadi kekuasaan—efek dari kekuatan yang
disalahgunakan. Megamind pun tidak ingin mengingkari jati dirinya, penjahat
super, anak nakal paling nakal sedunia. Namun, di film ini, Megamind adalah
seseorang yang masih punya hati. Ya, masih punya sedikit rasa tanggung jawab di
dalam dirinya. Dia yang menciptakan Titan, dia pulalah yang mesti menghentikan
Titan. Dia Yin yang menemukan Yang-nya. Megamind, penjahat super, yang ingin
menghentikan pahlawan super yang menguasai kota.

Pahlawan itu bersifat menolong,
berkorban untuk orang lain. Eksistensial, hal tersebut sulit dilakukan. Setiap
diri pada dasarnya ingin menjadi diri sendiri untuk diri sendiri, bukan orang
lain. Namun, karena itulah, pahlawan dipuja. Dia yang mau berkorban untuk orang
lain—seringkali mengorbankan diri sendiri—adalah pahlawan. Tak mudah menjadi
pahlawan. Apalagi, bagi Megamind, yang semula yang dia pikirkan hanya bagaimana
cara membuat kekacauan. Sekarang, penjahat super itu harus mengembalikan
tatanan, menjadi oposisi dari kekacauan.
“Aku penjahat super. Aku tidak menolong
orang,” kata Megamind, setelah dia menyadari bahwa bagaimanapun penjahat super
selalu kalah dari pahlawan. Bahkan pahlawan yang merusak kota. Megamind sempat
menyerah, kembali ke penjara, mengurung diri di selnya. Merenungi
kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat. Dan, pada akhirnya. Kesadaran yang
lain datang. Megamind, penjahat super, selama ini selalu melakukan kejahatan,
tidak peduli bahwa bagaimanapun juga kejahatan tak mungkin menang melawan
kebaikan. Kesadaran bahwa bukan di pihak mana kita berdiri, tapi bahwa kita
tidak pernah menyerah adalah sebenar-benarnya kekuatan. Juga cinta. Sebab, yang
menyadarkan Megamind akan hal itu, adalah Roxanne, gadis yang ia
cintai—penjahat pun mempunyai jatah yang sama soal romantisme dan kisah cinta.
Dengan segala kemampuan otaknya,
dia merencanakan segalanya. Dan, seperti banyak cerita lain, penjahat selalu
menang. Lebih tepatnya mungkin, tokoh utama selalu menang. Megamind telah
menjalani takdirnya, menjalani hidup dan bertanggung jawab atas semua perbuatan
yang dia lakukan di masa silam. Itulah takdir. Ya, pesan dari film ini, bahwa
baik dan buruk itu relatif dan subjektif. Tak perlu terlalu dipusingkan dengan
di sisi mana kita berada, menjalani takdir adalah niscaya. Sebab, takdir
bukanlah apa yang dituliskan untuk kita, melainkan apa yang kita pilih untuk
kita lakukan.

Oleh Janoary M Wibowo, Penikmat Film




sumber gambar 1
sumber gambar 2