Sarasehan Bahasa dan Sastra Jawa tentang Sastra Pesisir:
Antara Pesantren dan Abangan. Acara yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi
Jateng tersebut menghadirkan Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Undip Moh.
Muzakka Mussaif (kiri), Yusro Edi Wibowo(tengah) dan Redaktur Sastra Suara
Merdeka
Saroni Asikin(kanan), Rabu (23/4).
Kesusastraan
pesisir mengalami keterpencilan dan terpinggirkan disebabkan keberhasilan
politik bahasa dari keraton. Sastra pesisir isinya dinilai kurang njawani, berbeda bentuk, kurang estetis,
dan dianggap kasar bahasanya. Apalagi masyarakatnya memiliki karakteristik yang
cenderung lugas dalam bersikap, spontan, egaliter, dan cenderung menggunakan
bahasa ngoko dalam bertutur kata.
Hal ini
mengemuka dalam Sarasehan Bahasa dan Sastra Jawa yang bertema Sastra Pesisir:
Antara Pesantren dan Abangan. Acara yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi
Jateng tersebut menghadirkan Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Undip Moh.
Muzakka Mussaif dan Redaktur Sastra Suara
Merdeka
Saroni Asikin, Rabu (23/4).
Sebagaimana
diungkapkan Saroni Asikin, dominasi penggunaan bahasa Jawa matraman menjadi
salah satu sebab ketiadaan tradisi penulisan karya sastra menggunakan dialek masyarakat
pesisiran. “Mereka cenderung kebingungan dan merasa tak memiliki tradisi tulis
(sastra) dengan medium bahasa ibu mereka (pesisiran-red),” ungkapnya.
Ketiadaan
tradisi itulah, lanjut Saroni, didobrak Lanang Setiawan dan kawan-kawan pada
pertengahan 1990-an dengan penciptaan tradisi penulisan sastra Jawa dialek
Tegal. Sudah beberapa karya dihasilkan, baik terjemahan maupun antologi.
Beberapa di antaranya, Roa, Penyair
Angkatan Tegal-Tegal, Ruwat Desa, Ngranggeh Katurangan
dan lain-lain.
“Bahkan mereka menjadikan 26 Desember sebagai Hari Sastra Tegalan,” tambahnya.
Penciptaan karya
sastra dari ketiadaan tradisi (nirpurwa),
menurut Saroni, tentu bukan hal yang mudah. Ia mencontohkan kesulitan yang
dialaminya ketika berencana memunculkan stilistika dalam cerita berbahasa Jawa
Tegalan. “Keindahan bahasa Jawa dialek Tegal terletak pada semangat ‘apa
adanya’,” katanya.
Pengaruh
Bangsa Lain
Selain jauh dari
pusat kerajaan, pesisir juga menjadi pintu masuk bangsa lain ke Jawa. Karena
faktor tersebut, kebudayaan masyarakat pesisir cenderung terpengaruh
karakteristik masyarakat pendatang seperti Arab, Cina, India dan lain-lain. Kondisi
ini menjadikan masyarakat pesisir mempunyai karakter yang berbeda dengan
masyarakat Jawa yang lain, termasuk kesusatraannya.
Muzakka
mencontohkan syi’ir atau sangir sebagai salah satu jenis puisi
Jawa pesisir yang berkembang di kalangan masyarakt santri. Sastra jenis ini
terpinggirkan oleh hegemoni sastra Jawa (keraton). “Keberadaan syi’ir sebagai sastra Jawa bahkan belum diakui sebagai ‘anak
kandung’ oleh ibunya sendiri,” ujarnya.
Terdapat tiga
hal utama yang menyebabkan syi’ir terpencil.
Pertama, “ibu kandungnya” yakni komunitas pesisir pesantren, yang
melahirkannya. Mereka menilai syi’ir terlalu
kecil untuk dihargai. Kedua, “ibu tirinya” yakni komunitas sastra Jawa yang hegemonik.
Mereka terlalu memperhatikan pada sastra Jawa yang dianggap adiluhung menggunakan
bahasa Jawa halus. Ketiga, “ibu asuhnya” yakni pemerhati sastra dan pakar
sastra. Mereka tak acuh dan berpaling terhadap sastra pesisiran.
Meski demikian, syi’ir masih tumbuh dan berkembang di
kalangan santri. Populasinya makin banyak dan pemakaian syi’ir sebagai media pembelajaran. “Jumlahnya ratusan, bisa saja
justru melebihi sastra keraton. Namun, hingga kini masih jauh dari perhatian
pakar sastra,” jelasnya. Amin