Oleh:
Khamerer Nebti
Sebagai
generasi muda,
sudah semestinya
mencontoh semangat Soe. Sembari menghisap batang rokok yang terselip di
bibirnya, Yasir Arafat Hatta memantik alur diskusi Film Gie. “Bayangkan! Anak SMP tahun 1966-an
berani mendebat gurunya tentang sastra. Ia lantang dan berargumen tanpa
ragu. Bandingkan mahasiswa-mahasiswa sekarang? Untuk mengungkapkan pendapat
saja takut,” katanya. Kita
telah merdeka, lebih tepatnya pahlawan-pahlawan kita memerdekakan Indonesia. Tapi, nyatanya masih terdapat pikiran dan diri yang belum sepenuhnya merdeka.
Film yang disutradarai
Riri Reza tersebut menceritakan
sosok Soe Hok Gie, seorang mahasiswa era 60-an yang mempunyai pemikiran dan
sikap kritis terhadap pemerintah pada saat itu. Sejak SMP, Soe sudah
memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap buku.
Soe Hok Gie tumbuh
menjadi pemuda yang cerdas dan berani. Ia selalu menentang dan melakukan
perlawanan terhadap segala hal yang ia anggap tidak benar. Gie menjadi sosok yang anti politik konspirasi yang marak pada masa
pemerintahan Soekarno. Ia memilih bersikap netral dan tidak berpihak pada
partai politik, terlebih PKI.
“Menurut saya, cerita di film Gie ini tidak
pernah berakhir atau never ending story,”
ujar Ellectra. Beberapa peserta
diskusi
lain menimpali. Diskusi yang berjalan lebih kurang dua jam itu berlangsung
hangat ditambah dengan pernyataan-pernyataan pemantik diskusi yang memancing
tawa peserta.
Usai menonton film
tersebut,
diskusi digulirkan
kepada
sesama anggota dan anggota magang BP2M. Diskusi dimulai lebih kurang pukul 23.00 WIB di Ruang
Rapat Besar (RRB) gedung UKM Lantai 1.
Yasir, yang juga sukamoto, menyoroti Gie yang selalu menulis apa yang ada dalam
pikirannya ke
dalam sebuah buku harian.  Film yang berdurasi
lebih kurang 2 jam 22 menit ini diangkat dari sebuah buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran.

Ya, saat ini bangsa
Indonesia membutuhkan pemikir-pemikir yang tidak hanya berbicara, tapi disertai
oleh tindakan. Aksi demonstrasi
“memprotes” dapat dilakukan oleh semua orang. Dapat dilakukan dengan
menggunakan media apapun. Tak terkecuali dengan menulis. Soe Hok Gie telah
membuktikan itu. Bagaimana dengan kita?