Judul Buku      : Yuna
dan Juna
Penerbit           : PATABA Press
Halaman          : xiv + 182
Tahun Terbit    : Januari 2016
Persahabatan
terjalin karena adanya rasa nyaman, kesamaan hobi, dan jalan pikiran yang sama.
Perasaan untuk senantiasa dapat berbagi, melayani, dan saling membantu satu
sama lain semakin menguatkan rasa persabahatan yang terbentuk. Namun bagaimana
apabila persahabatan itu terjalin dengan lawan jenis? Apakah persahabatan tetap
bisa bertahan tanpa melibatkan ketertarikan fisik dan emosional? Mungkinkah
hanya sebatas hubungan pertemanan saja atau malah berubah menjadi hubungan
cinta? Jawabannya, mungkin. Terlebih setelah membaca Yuna dan Juna.
Novel
perdana besutan Yundra Karina mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Semarang (Unnes) ini menghadirkan ending
tidak tertebak dari perjalanan dua tokoh utamanya, Yuna dan Juna.  Alur ceritanya terkesan klise, yakni
mengangkat persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang ujung-ujungnya
saling jatuh cinta. Meski begitu, hingga di penghujung cerita, keduanya tidak
pernah menyatakan diri untuk saling memiliki dan keukeh mempertahankan jalinan persahabatan mereka.
Intim: Syarat Mutlak Langgengnya Persahabatan
Keintiman
adalah sesuatu yang dibutuhkan sepanjang manusia hidup. Newcomb dan Bagwell
(1995)  menyatakan bahwa bentuk keintiman
dapat berupa kedekatan emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan,
dan keinginan untuk membina hubungan. Pada masa kanak-kanak, hubungan
persahabatan berorientasi pada kegiatan fisik misalnya bermain bersama. Tetapi
pada remaja dan dewasa, hubungan sudah melibatkan emosi dan seks. Pada Novel Yuna dan Juna, konsep keintiman lebih
menitik-beratkan pada ikatan antara dua orang yang saling perhatian, memiliki
keinginan untuk terus berdekatan secara pribadi, dan berbagi kesenangan dalam
setiap kegiatan.
Plot
sarat keintiman emosi yang dibangun dalam persahabatan Yuna dan Juna oleh
Yundra terasa sangat kental. Hal itu dimungkinkan karena Yuna dan Juna sudah
bersahabat sejak kecil. Keintiman itu bisa dilihat dari kepemilikan panggilan
sayang laiknya sepasang kekasih; Kak Jin dan Botol. Pada bab Terkenang Sunatanmu, citra intim
mencapai klimaks, dimana Yuna pada waktu kecil melihat secara keseluruhan
prosesi sunatan Juna. Pada kalimat: “… Aku menjadi korban yang dengan terpaksa
memandangi tititmu setiap saat kamu
memanggil. Sambil terus mengipasi hingga kamu tertidur (hlm. 75).” Yundra
seolah ingin menyatakan, belum boleh dikatakan bersababat karib jika belum
lihat titit satu sama lain.
Suasana
intim yang hendak diciptakan Yundra dapat membuat terkesima. Dia mampu mencipta
adegan demi adegan yang semakin mengukuhkan bahwa persahabatan akan terus
langgeng apabila senantiasa dijaga keintimannya. Tidak perlu hal yang rumit,
cukup dengan aktivitas seperti jalan-jalan, bermain ke rumah, masak dan makan
bersama, serta menghadiri moment-moment
spesial yang terkesan sederhana, namun membuat tali persahabatan akan semakin
rekat. Jika menginginkan persahabatan semacam Yuna dan Juna, aktivitas
tersebutlah yang patut dicoba.
            Sesuai dengan pemilihan judul, novel
ini didominasi oleh cerita dua tokoh utamanya, Yuna dan Juna. Sehingga dapat
dikatakan novel Yuna dan Juna  minim tokoh. Tokoh lainnya, misalnya Mizwar
dan Dea tidak dieksplorasi lebih jauh lagi. Padahal, kalau penulisnya
memberikan porsi lebih banyak untuk dua tokoh ini, akan semakin memperkaya
konflik cerita.
Hal
yang kurang tepat dalam novel Yuna dan Juna ada di pemilihan kovernya. Didominasi warna biru serta tergambar siluet seorang laki-laki yang membawa balon dan
perempuan yang menggunakan jilbab, sama sekali tidak menggambarkan representasi
karakter dari Yuna dan Juna. Dalam cerita, Juna digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki perut
agak buncit, senang memakai celana bolong-bolong, sedangkan Yuna dalam novel
ini digambarkan sebagai perempuan yang tidak berhijab dan memiliki rambut yang
pendek. Kover novel benar-benar tidak mencerminkan isi
cerita secara keseluruhan.
Dari
pemilihan diksi, penulisnya seringkali menggunakan kata yang itu-itu saja.
Dalam kalimat langsung yang digunakan, acap kali Yundra menggunakan diksi menguncir
atau menyumpal mulut, misalnya: “Besok aku bakal datang sama Dea. Bakal bikin
keributan di kampus. Ha-ha-ha.” Kamu tertawa. Segera kukuncir mulutmu. Enak
saja bikin keributan (hlm. 54).”
Keunikan
novel Yuna dan Juna justru hadir dari
pemilihan sudut pandang dalam bercerita. Sudut pandang pertama (aku) dan sudut
pandang kedua (kamu) dalam satu waktu penceritaan. Hal itu membuat pembaca
seakan-akan dapat melihat dua perspektif dalam satu cerita. Bahasa yang
digunakan juga sangat ringan dan tidak membosankan, sehingga novel ini
disarankan untuk dibaca oleh para remaja, mahasiswa, dan orang dewasa yang
menginginkan bacaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan
moral tentang arti sebuah persahabatan sesungguhnya.


Susi Lestari
Mahasiswa Jurusan Politik dan
Kewarganegaraan 2012