Dok. Doni/BP2M

Di saat ingatan masa lalu terbesit dalam ingatan. Ketika alur kehidupan tak berjalan dengan semestinya suka duka, romantisme, bagaikan bumbu yang menghiasi sebuah perjalanan kehidupan manusia. Keadilan harus ditegakkan seperti apa yang sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa, walau pun itu dengan cara berperang sekali pun.

Suara gamelan Jawa terdengar menyambut kedatangan para penonton malam itu, Minggu (15/7) di lapangan terbuka Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Sorot lampu hanya menyinari panggung, membuat semua mata penonton tertuju pada sosok-sosok penari yang ada di atasnya.

Para penari berlenggak-lenggok di atas panggung menggunakan kostum ala Jawa yang berwarna-warni. Ditambah dengan dekorasi seperti gapura yang sama tinggi sisi kiri dan kanannya dengan cat warna merah dan putih diujungnya.

Kisah Kartasura

Tarian ini berkisah tentang Raden Mas Said atau Gusti Pangeran Mangkunegara I, yang diperankan oleh Ahmad Sugito. Alkisah awal mula perjuangan di Keraton Kartasura pada saat itu terjadi krisis multibidang, dimana Belanda telah menguasai keraton. Oleh sebab itu rakyat sudah tidak percaya lagi dengan keraton, dalam persepsi rakyat apabila terdengar suara “keraton” itu merupakan antek-antek Belanda.

Dari situ lah  Raden Mas Said anak dari seorang Pangeran, dimana seharusnya Ayahanda dari Raden Mas Said itu menjadi raja Kartasura, akan tetapi difitnah oleh Belanda akhirnya diasingkan, sehingga yang naik tahta adalah orang Belanda.

Raden Mas Said ingin mengembalikan apa yang seharusnya dia peroleh dengan cara berjuang walau pun itu dengan cara berperang sekalipun.

Pertapaan di Sendang Si Wani

Dalam kisah tarian itu, Raden Mas Said pergi ke pelosok negeri untuk bertapa di daerah Matahati, Wonogiri. Beliau mengumpulkan rakyat-rakyat untuk dilatih perang yang berlokasi di Sendang Si Wani. Sendang Si Wani merupakan tempat pendadaran prajurit. Disinilah Raden Mas Said bertemu dengan Rubiyah yang merupakan cinta pertamanya. Disini pula Raden Mas Said bertemu dengan si penghianat Pringgalaya, yang diperankan Saguh Ridhatul H.

Di atas panggung, Saguh Ridhatul H berhasil membuat tawa penonton dengan tingkah bodohnya Pringgalaya. Pringgalaya sengaja turun ke desa untuk mempengaruhi rakyat berpihak kepada Belanda, dengan cara membujuknya dengan uang. Selain itu, Pringgalaya juga menjadi mata-mata Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Raden Mas Said.

Seorang perempuan pun dilatih perang oleh Raden Mas Said di Sendang Si Wani tidak terkecuali dengan Rubiyah, hingga memiliki pasukan khusus. Pasukan khusus itu terdiri dari para perempuan yang bersenjatakan keris, dengan kostum putri kerajaan yang anggun. Rubiyah berhasil menyusup dalam pasukan Belanda. Pringgalaya menyuruhnya untuk menari dan melayani pesta para pasukan Belanda itu. Lalu Rubiyah membawa para pasukannya dengan dalih supaya semakin ramai.

Ketika pasukan Belanda lengah, Raden Mas Said dan Rubiyah menyerbu koloni yang pada saat itu dipimpin oleh Jenderal Raffles. Setelah melewati perang yang sengit, kisah ini ditutup dengan kemenangan Raden Mas Said yang  berhasil mengalahkan Belanda. Perang yang diperlihatkan terlihat sangat apik, gerakan perang ini menjadi sangat menarik karena ada pola tarian disana. Meskipun yang tersisa saat perang hanya Raden Mas Said dan Rubiyah, suasana itu berubah menjadi romantis dan penuh haru.

Perpaduan Dua Karya

Pertunjukan diakhiri dengan dimatikannya semua lampu, hingga kawasan panggung gelap gulita. Musik gamelan tiba-tiba berhenti dan digantikan dengan gemuruh tepuk tangan dari penonton.
Dhanu Parsetyo, sutradara pagelaran ini yang juga merangkap sebagai Jenderal Thomas Stamford Raffles menyebutkan, konsep pagelaran ini adalah perpaduan antara dua karya yaitu pagelaran Matahati di Solo tahun 2014 (tarian kolosal juga) dan kembang Argoyoso.

Dua karya ini konsepnya sama, tetapi jika Matahati perhatiannya pada Raden Mas Said dan Kembang Argoyoso lebih kepada Rubiyahnya. “Saya menggabungkan kedua konsep sehingga tercipta alur yang seperti malam ini,” ujar Dhanu Prasetyo yang masih lengkap menggunakan kostum panggungnya, saat ditemui.

Cerita ini diangkat untuk memperlihatkan pada khalayak umum bahwa Indonesia juga memiliki pahlawan yang patut dibanggakan. “Ini ada loh pahlawan. Pahlawan nasional yaitu Raden Mas Said yang mati-matian melawan Belanda,” tutur Dhanu sebagai penggagas konsep cerita. [Sibad, Lala, Doni]