Merayakan Feminisme dengan Meluruskan Miskonsepsi Feminisme
Cuplikan diskusi dan peluncuran video “Merayakan Feminisme: Meluruskan Konsepsi yang Salah tentang Feminisme”, Senin (16/8). [Dok BP2M/Ratna]

“Sebenarnya orang-orang itu salah mengira jika membicarakan feminisme itu sesuatu yang menyeramkan,” ujar Listyowati, Ketua Kalyanamitra dalam diskusi “Merayakan Feminisme: Meluruskan Konsepsi yang Salah tentang Feminisme”, Senin (16/8).

Listyowati beranggapan bahwa orang-orang yang mengira feminisme adalah sesuatu yang menyeramkan karena berasal dari budaya barat. Hal ini yang kemudian dirasa tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Melalui forum ini, Listyowati kemudian mengajak peserta diskusi untuk meluruskan miskonsepsi tentang feminisme tersebut, sekaligus meluncurkan video “Misconceptions and Facts about Feminism”.

Myra Diarsih, feminis sejak 1960 mengatakan, dengan adanya video yang diluncurkan tersebut baik dalam versi Bahasa Indonesia, Jawa, atau pun bahasa lainnya dapat terus menambah pengetahuan publik mengenai feminisme. “Video sebagai dokumen dan informasi publik, alangkah baiknya kalau diproses terus menerus dan sebelumnya di-review oleh beberapa pemangku kepentingan,” ujarnya. 

Merayakan Feminisme dengan Meluruskan Miskonsepsi Feminisme
Cuplikan video yang berjudul “Feminisme, Miskonsepsi, dan Fakta” dalam diskusi dan peluncuran video “Merayakan Feminisme: Meluruskan Konsepsi yang Salah tentang Feminisme”, Senin (16/8). [Dok BP2M/Ratna]
Pendiri Kalyanamitra tersebut juga menuturkan bahwa konsep feminisme tidak pernah salah dan jangan dimiskonsepsikan. Namun, ia menilai saat ini feminisme sering kali disalah artikan.

“Sebenarnya bukan publik yang menyalah artikan feminisme, tapi mereka-mereka yang kepentingannya akan terganggu dengan pemikiran-pemikiran dasar keadilan dan kesetaraan yang menjadi ruh dari feminisme. Kedua, rezim-rezim yang memperkaya diri dengan menjual sensasi, menjual objek perempuan sebagai objek seks, objek fantasi, dan lain-lain. Merekalah yang cukup gencar melontarkan miskonsepsi dari feminisme yang cukup sistematik dan cukup punya ukuran,” ujarnya. 

Bergerak melalui Media

Diskusi ini juga turut menghadirkan beberapa pembicara yaitu Kalis Mardiasih selaku penulis feminis, Myra Diarsi seorang feminis sejak 1960, dan Marina Nasution selaku managing editor Konde.co. Diskusi kemudian dipandu oleh Devi R. Ayu dari Kalyanamitra.

Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana mengatakan, sekarang ini media berjumlah jutaan dan banyak yang berkontribusi dalam gerakan sosial perempuan melalui media.

“Dulu acara perempuan hanya dimuat pada saat hari Kartini atau hari Ibu dan ada pembelokan sejarah. Sekarang, perempuan muda di internet banyak yang melakukan gerakan sosial sehingga mengalami perubahan dan kemajuan pada isu ini,” katanya.

Senada dengan Luviana, Marina Nasution selaku Managing Editor Konde.co mengatakan jika ditelusuri, isu feminisme telah mendapatkan ruang di media. Hal tersebut dapat dilihat melalui koran-koran yang diterbitkan oleh perempuan atau koran-koran yang memang untuk perempuan sekitar tahun 1919. 

“Untuk masa kini memang belum ada progres yang signifikan terkait isu feminisme. RUU PPRT itu sudah 17 tahun dan RUU PKS yang menuju 10 tahun juga tidak kunjung disahkan dan media kurang ‘galak’ untuk mendorong pemerintah,” ujarnya.

Ia juga berharap media bertugas sebagai pengawas pemerintah agar bekerja sesuai dengan tugasnya. “Idealnya media itu bekerja untuk melayani kepentingan publik, tapi karena media butuh modal dan pemilik modal memiliki afiliasi kepentingan politik, akibatnya menjadi sulit untuk membawa agenda-agenda kepentingan publik, khususnya kelompok rentan”.

Kalis Mardiasih selaku penulis feminis menyampaikan pendapatnya terkait penindasan yang dialami perempuan. Melalui unggahan Instagram-nya, banyak pihak yang mendapatkan kesadaran mengenai kekerasan dalam rumah tangga. 

“Penindasan yang dialami oleh masing-masing perempuan itu tidak sama dan meskipun kita tidak mengalami, kita harus bisa bersimpati pada korban dengan mengerti perasaan mereka melalui pembacaan kritis mengenai isu tersebut,” katanya.

Kalis juga mengatakan, banyak ibu-ibu rumah tangga dan remaja-remaja yang mendapatkan kesadaran bahwa mereka adalah korban kekerasan dalam rumah tangga melalui pembacaan digital story telling yang ada di unggahan akun Instagram-nya.

“Aktivitas bercerita dan berbagi tentang feminisme di Instagram sama sekali bukan hal yang protokoler, tetapi saya merasa bisa menjadi teman buat perempuan lain yang di luar sana yang tidak bisa melawan. Mereka merasa tenang dan senang setelah membaca unggahan kita karena bisa mewakili apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

 

Reporter: Ratnawati

Editor: Hani

Tinggalkan Balasan