Hikayat Seonggok Mawar
Beranda Puisi Sastra Seni

Hikayat Seonggok Mawar

Ilustrasi Rektor Itu Jabatan, Bukan Bapakmu! [BP2M/Alfiah]Ilustrasi Hikayat Seonggok Mawar [BP2M/Hasnah]

Oleh : Leni Septiani

 

HIKAYAT SEONGGOK MAWAR

Seonggok mawar hanya kau pandang durinya

Duri yang mencucuk dan dapat melukai kulitmu yang cokelat itu

Duri yang katamu bahaya dan mesti dimusnahkan

Duri yang kau uring-uringi setiap fajar dan kau telanjangi setiap senja

 

“Duri mawar harus dicincang,” dalihmu dengan bangga sembari menggesek pisau karatan kepunyaanmu

Kau lukai duri mawar dengan pisau menjijikkan itu tanpa dosa

Tanpa kau sadar bahwa pisaumulah yang kotor nan bahaya

Tanpa kau sadar bahwa otakmulah yang telah hancur bersama kotoran sisa makananmu semalam

 

Seonggok mawar hanya kau pandang durinya

Dan bertitah bahwa duri mawar adalah aib yang harus dihempas

Tanpa kau mau melihat keindahan bunga mawar yang ranum

Serta semerbak wangi yang sebenarnya mampu membiusmu secara perlahan

 

DERU KESINAMBUNGAN

Ayam jantan pulang larut malam

Diberi sanjung beserta idam

Ayam betina pulang hampir kelam

Dikecam

 

Ayam jantan berkokok fajar

Dipuji habis-habisan

Ayam betina berkotek fajar

Ditikam dengan seruan kewajiban

 

Ayam jantan mencari cahaya

Diseru berwawasan

Ayam betina mencari cahaya

Dikecam tak berkesudahan

 

Ayam jantan naik pohon kelapa

Diberi tepuk tangan

Ayam betina naik pohon kelapa

Digebuki hingga tak tahan

 

Itulah ayam jantan dan ayam betina

Yang dianggap seimbang dan berkesinambungan

Tapi, inikah indahnya realita?

Atau malah jalan menuju kebinasaan?

 

ABADI

Tiada yang abadi, katamu

Seperti semburat senja kemerah-merahan yang menggores luka

Luka yang menganga tak berkesudahan

Namun, katamu tak ada yang abadi

 

Lukaku abadi

Ia terpatri tak henti-henti

Menghunjam relung hati

Mengikis kewarasan yang kian direngguti

 

Lukaku abadi

Tiap kali senja datang, di situlah lukaku terkekang

Lukaku abadi

Setiap detiknya sungguh menciptakan goresan-goresan baru yang keji

 

Lukaku abadi

Sejuta detik yang berlalu tak jua menapaki

Lukaku abadi

Luka di kemaluan yang tak kunjung terobati

 

BELENGGU DI PANGKAL PAHA

Belenggu di pangkal paha ini melebar

Akibat ulah ular-ular bejat yang lapar

Bersasi-sasi waktu berputar

Tapi belenggu itu tak kunjung pudar

 

Belenggu itu tak terobati

Meninggalkan goresan abadi yang terpatri

Mungkin hingga nanti

Atau hingga aku mati?

 

Rumput-rumput bilang aku yang keji

Dikira tak punya hati

Telinganya digerogoti

Ketika berdalih ular yang meringseki

 

Rumput hanya terus menghakimi

Tanpa mau coba mengamini

Tanpa paham apa yang menguasai

Selalu aku yang dinodai

 

TUNTUT

Terlalu banyak tuntut

Di tengah impitan mulut

Ini itu menuntut

Tak patut-patut

 

Di sini tuntut

Di sana tuntut

Buat telinga seakan butut

Dan kepala jadi buntut

 

Semua tuntut

Tanpa pandang mana patut

Harus ada tuntut

Kalau tidak, akan diusut

 

Tuntut

Kewarasan meringsut

Jiwa mengkerut

Wajah mengisut

 

 

*Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *