Aksi protes Gempadewa dan Aliansi Mahasiswa
Aksi protes Gempadewa dan Aliansi Mahasiswa "IPL Habis, Hentikan Aktivitas Tambang" yang digelar di depan Gedung Gubernur Jateng pada Rabu (16/08). [Febi/BP2M]

Warga Desa Wadas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Alam Peduli Desa Wadas (Gempadewa) dan sejumlah mahasiswa kembali melakukan aksi di depan kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu (16/8). Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap aktivitas penambangan yang masih berlangsung walau masa Izin Penetapan Lokasi (IPL) penambagan batu andesit telah habis. 

Aksi yang dimulai pukul 12.30 WIB itu diawali dengan memukul kentongan selama 5 menit. Kegiatan tersebut merupakan simbol warga Wadas masih melawan penambangan batu andesit selama 5 tahun lamanya. Aksi selanjutnya, yaitu penyampaian orasi oleh perwakilan setiap organisasi mahasiswa yang ikut serta dalam aksi.

Kurang lebih terdapat 12-15 warga Wadas yang ikut dalam aksi ini, salah satunya ialah Abdul Wahid yang juga tergabung dalam Gempadewa. Abdul memutuskan mengikuti aksi karena warga Wadas yang menyuarakan protes di desa tidak lagi didengar oleh pejabat. Ia menyebutkan bahwa IPL penambangan batu andesit untuk Bendungan Bener telah habis sejak 7 Juni 2023. Walaupun begitu, hingga saat ini aktivitas penambangan masih berlanjut. 

“Di Wadas, perizinannya (IPL) itu sudah habis sejak 7 Juni 2023. Harapan warga sesudah perizinannya habis, maka aktivitas pertambangan batu andesit juga berhenti, tapi sampai saat ini masih berjalan,” ungkap Abdul.

Abdul mengatakan baru-baru ini desa yang terletak di Kecamatan Bener, Purworejo, itu juga terjadi banjir. Ia menduga bencana tersebut disebabkan oleh aktivitas pembukaan akses menuju lokasi penambagan. Padahal sebelumnya di wadas tidak pernah terjadi banjir. Oleh karena itu, menurutnya, wajar jika warga Wadas sangat resah dengan adanya kegiatan penambagan.

Aksi ini juga merupakan cara untuk menagih janji Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Adib Saifin Nu’man selaku koordinator aksi mengungkapkan sebelum pembukaan akses jalan menuju penambangan, telah dilakukan diskusi dengan Ganjar. Pada diskusi itu, Ganjar berjanji bahwa ketika akses penambangan dibuka, Wadas akan tetap aman. Namun, nyatanya setelah akses tersebut dibuka, Wadas mengalami banjir sebanyak dua kali karena sejumlah lahan hijau telah hilang.

“Pascapembukaan akses tambang, wadas mengalami banjir dua kali. Padahal dulu Ganjar berjanji bahwa ketika akses tambang andesit dibuka, Wadas akan tetap aman,” ujar Adib dalam orasi yang disampaikan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah.

Delia Salsabila, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang turut turun aksi, juga merasa risau dengan bencana banjir yang mulai terjadi di Wadas. Apalagi, katanya, aktivitas penambangan belum sepenuhnya dimulai. Menurutnya, jika aktovitas penambangan sepenuhnya dimulai akan menyebabkan  kerugian yang lebih besar.

“Ini adalah bukti bahwa pertambangannya belum dimulai dan masih akses jalannya saja sudah terjadi banjir, apalagi kalau sudah dimulai,” ungkap Delia.

Abdul menambahkan bahwa sudah puluhan kali ia berdialog dengan Ganjar Pranowo, Bupati setempat, dan pejabat pemerintah yang ada. Namun, hingga kini tidak ada respons yang memadai. Ia berharap dalam aksi ini pemerintah mendengarkan suara masyarakat Desa Wadas.

 

Reporter: Febi Nur Aanggraini

Editor: Rosa Maria Gustaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here