Pada umumnya, manusia menginginkan kehidupan yang bahagia. Mereka memiliki berbagai ilustrasi untuk menggambarkan impian hidup masing-masing. Manusia cenderung mengartikan bahagia sebagai kehidupan yang sesuai dengan harapan dan skenario yang mereka susun di kepala. Bahagia sering didefinisikan sebagai kondisi minim tangis dan luka, serta penuh dengan keberhasilan. Ketika keberhasilan selalu didapat maka kebahagiaan dianggap pasti akan tergapai.
Secara etimologis, kata “bahagia” berasal dari bahasa Sanskerta bhagya yang berarti nasib baik, keberuntungan, atau karunia. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram. Maka, dapat kita simpulkan bahwa kebahagiaan adalah perasaan senang, tentram, puas ketika kebutuhan terpenuhi dan dalam kondisi yang menyenangkan.
Namun, pertanyaan penting muncul: apakah bahagia merupakan tujuan? Atau justru proses itu sendiri dalam mencapai tujuan hidup? Sesungguhnya, kebahagian bukanlah sebuah destinasi yang tiba-tiba tercapai, melainkan proses berkelanjutan yang memberikan makna pada kehidupan manusia.
Selama ini, kebahagiaan sering diartikan sebagai hasil akhir setelah melalui proses yang panjang. Manusia cenderung menjadikan uang, prestasi, pencapaian sebagai tolak ukur kebahagiaan. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga demi mencapai hal tersebut. Ketika hasil sesuai harapan, barulah mereka merasa pantas untuk bahagia. Di titik inilah kebahagiaan identik dengan kesuksesan.
Di zaman modern, manusia semakin menstandarkan kebahagian berdasarkan standar sosial yang beredar di masyarakat. Padahal setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Selain itu, sosial media memperumit standar tersebut. Berbagai pencapaian yang dibagikan di sosial media, yang awalnya hanya untuk berbagi pengalaman berubah menjadi ajang kompetisi di sosial media. Akibatnya, muncul tekanan untuk selalu terlihat berhasil, yang justru menimbulkan rasa tidak cukup dalam hidup.
Tekanan sosial melalui media sosial memberi dampak nyata pada persepsi diri, terutama remaja. Mereka rentan mengalami gangguan kesehatan mental dan merasa tidak pernah cukup. Berdasarkan Survei Pow Research Center dengan 1.391 remaja usia 13-17 tahun, sekitar 48% remaja mengatakan media sosial memberikan efek negatif pada diri mereka.
Kebahagian akan bermakna berbeda ketika dipahami sebagai proses dalam mencapai tujuan hidup. Setiap manusia memiliki tujuan yang ingin dicapai, dan proses menggapai tujuan itulah yang memberi warna pada kehidupan. Ketika manusia menikmati proses dan memberi makna dalam setiap hal yang terjadi, saat itulah kebahagiaan hadir. Kebahagiaan berpusat pada makna hidup, bukan hanya hasil.
Dalam kehidupan, pasti ada jatuh bangun, gagal, dan berhasil. Namun, kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Ketika manusia mampu melihat gagal sebagai pengalaman berharga, akan tumbuh rasa syukur di dalamnya. Rasa syukur ini yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan yang lebih tulus.
Psikologi mengenalkan istilah mindfullness sebagai salah satu cara mencapai kebahagiaan. Mindfullness merupakan keadaan ketika kita sadar penuh terhadap apa yang sedang dialami saat ini, baik pikiran, perasaan, maupun sensasi tubuh tanpa adanya penolakan. Kebahagiaan menurut psikologi, dibangun melalui kebiasaan, bukan hal yang datang tiba-tiba. Kebiasaan tersebut dapat berupa tidak mudah menghakimi, menerima apa yang terjadi, melepaskan apa yang mengganggu, terbuka terhadap pengalaman, dan bersabar menjalani proses.
Selain itu, kebahagiaan juga tumbuh melalui koneksi sosial. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memahami dan menghargai satu sama lain. Relasi yang aman dan nyaman memberi rasa diterima serta dicintai. Sejatinya, manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan untuk merasakan kebahagiaan yang utuh.
Pada akhirnya, kebahagiaan merupakan kondisi ketika seseorang merasa senang, tentram, dan puas atas hidup yang dijalani. Kebahagiaan dapat hadir dari hasil maupun proses. Keduanya penting, namun kita perlu mengingat bahwa dalam hidup selalu ada hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Karena itu sudah sepatutnya fokus pada apa yang dapat kita kendalikan yaitu proses. Bahagia bukanlah kompetisi atau standar yang harus dipenuhi, melainkan sesuatu yang hadir dalam hidup dan pengalaman unik setiap manusia.
Penulis: Rofiqoh Fatimatazzahro

![Ilustrasi perjalanan emosi kebahagiaan [Hanna/BP2M]](https://linikampus.com/wp-content/uploads/2026/01/1-1.png)
