SAYUB-SAYUB kumadang adzan Maghrib terdengar dari
Toa yang terpasang diatas Mushola yang kini belum ada namanya. Tanda pergantian
hari dalam kalender Jawa. Kala itu malem Kamis Pon. Anak-anak yang kebanyakan
masih bersekolah di tingkat dasar bergegas untuk mendatangi Mushola samping
rumah Mbah Kardi –guru mereka.
Mushola yang terletak di Jl. Cempaka Sari IV, Sekaran itu belum
seutuhnya jadi. Jika dihitung dalam persentase mushola itu baru rampung 70
persen. Karena pemasukan dari infaq yang dikumpulkan juga belum tentu jumlahnya
tiap Minggu. Keramaian terpancar seusai sholat Maghrib didirikan. Terpancar
kesungguhan santri-santri yang akan belajar mengaji –untuk bekal akhirat.
Berbekal tekad yang melekat dalam
jiwanya, Mbah Kardi mencoba meluangkan waktu yang dimiliki dalam sisa hidupnya.
Dia mengabdikan diri di mushola yang didirikan dari tanah wakafnya. Mengajari
anak-anak sekitar Mushola membaca Al-qur’an. Itulah yang dilakukan mbah Kardi
–sapaan akrab yang biasa dilontarkan para santri –setiap harinya.
Ketika ditanya berapa usianya kini,
dia tidak bisa memastikan dengan jelas. Yang ia tahu, ia telah lahir dan
menetap di Sekaran sejak Jepang masih menjajah negeri ini. Keseharian yang
sering dilaluinya sebagai seorang petani, seakan hilang ketika malam harinya
ada tugas yang sangat besar. Mencetak generasi yang berakhlak. Entah berapa
santri yang telaha berguru padanaya, ia sudah lupa. bahkan tak sempat
menghitungnya, karena telah lam ia mengabdi menjadi guru ngaji.
Mungkin tak banyak yang bisa
dilakukan Mbah Kardi di sebagian sisa hidupnya. Baginya berbuat baik dan
beramal adalah yang mesti dicarinya, bahkan setiap manusia ketika akan
meenghadap Sang Illahi.
Foto dan teks: Aditya Rustama
Mbah Kardi
Mengaji juzamma

Indri, Siswi MI Rodlotul Huda, Sekaran