Oleh
: Angghi Novita
Gambang hidupku, Gambang harapanku. Gambang,
potretku berjuang.
Gambang,
membawaku pada keteguhan
,
Gambang
ku
sayang. Gambang
ku pujaan, Gambang.
Gambang.
            Siang itu, Rabu (26/2) ada yang
berbeda di Gedung
Auditorium Unnes. Di
dalam gedung tengah berlangsung proses wisuda bagi para mahasiswa yang telah
mengakhiri masa studinya. Sementara di luar gedung terdapat pedagang dadakan
yang membuat suasana semakin ramai
bak pasar. Para pedagang tersebut menawarkan
berbagai produk mulai dari rangkaian bunga, kacamata, obat herbal dari lintah,
mainan anak-anak, antena TV,
hingga pakaian dalam. Teriakan pedagang yang
menawarkan dagangannya pun makin meramaikan suasana
siang itu.
            Di antara riuhnya suasana pasar dadakan,
terdengar alunan dari gambang yang sedang
dimainkan. Suara
itu berasal dari permainan Heri Bertus, salah satu
pedagang pasar dadakan yang berada di
samping Audit. Pria berumur 40 tahun ini memakai kaos biru muda. Dia tidak menjajakan
bunga, kacamata, atau pakaian dalam kepada para pengunjung, melainkan menjual mainan
tradisional. Mainan tradisional tersebut beragam. Ada wayang, suling, kuda lumping,
ketapel, dan gambang yang sedang ia mainkan untuk menarik perhatian pembeli.
Dirinya memilih untuk menjadi penjual mainan tradisional karena ingin
melestarikan budaya daerah dan memberikan edukasi bagi para pengunjung, khususnya anak-anak.
“Mainan yang saya jual ini merupakan bentuk dari karakter kedaerahan dan jati diri yang
kuat,” ungkap pria asal
Yogyakarta ini.
            Ini bukan kali pertama Heri
berjualan mainan tradisional di Unnes, karena sebelumnya ia telah cukup sering
menjual mainannya di acara pementasan wayang saat berlangsung Dies Natalis
Unnes. “Sayang antusiasme pembeli sama saja, selalu sepi. Karena
hingga hampir pukul 12.00 WIB saya baru dapat Rp 17.000,” ucapnya lirih. Dia
menyayangkan terhadap generasi muda yang semakin acuh kepada mainan
tradisional, padahal dirinya sudah berusaha untuk menjaga kelestarian budaya
daerahnya. Pria lulusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta ini memang lebih
memilih untuk hidup survival dengan
mengandalkan mainan-mainannya,
“Saya pilih berdagang
karena saya lebih merdeka terhadap diri sendiri walaupun dulu saya sudah bekerja di supervisor bank,” jelas
pria yang mahir bermain gambang dan seruling ini. Kepada generasi muda ia
berpesan agar selalu mencintai produk dalam negeri, “Kita harus punya filter
dalam diri, karena generasi yang baik adalah generasi yang tidak melupakan
sejarah dan budayanya,” tuturnya singkat.