Kenangan
adalah warisan untuk anak-keturunan. Buah tangan atas bergantinya peradaban. Kenangan
memang hanya ingatan, tapi bisa tertancap kuat dalam hati. Jadi, meski waktu terus
bergulir, percayalah, kenangan tak akan kabur dan terganti.
Meski agenda pemilihan rektor periode 2014-2018 diwarnai
ketidakpastian jadwal, kita akan menjadi saksi hidup tradisi empat tahunan ini.
Saksi untuk pencarian pemimpin yang akan menjadi bagian dari sejarah Unnes.
Sebelum menjadi bagian dari sejarah, kami akan coba
bangkitkan dahulu ingatan-ingatan sejarah dari Unnes, lewat Retmono (Rektor IKIP
Semarang 1986-1994) dan Ari Tri Soegito (Rektor Unnes 2002-2006).
Mereka berharap akan kemajuan Unnes untuk empat tahun
ke depan. Mereka menekankan pentingnya memiliki Pemimpin Unnes yang visioner
dalam menetapkan kebijakan. Untuk itulah, mahasiswa diharapkan siap untuk
mengawal dan mengawasi kebijakan-kebijakan rektor baru nanti, demi kemajuan
Unnes.
Semakin
sulit
“Tantangannya beda. Dahulu, belum ada prodi ilmu murni
di Unnes. Jumlah mahasiswa juga belum sebanyak sekarang,” terang Retmono
menceritakan pengalamannya menjadi rektor Unnes, yang dulu masih berada di
kawasan Jl. Kelud Raya dan bernama IKIP Semarang.

Prof. Retmono
Sebagai Perguruan Tinggi (PT) sekaligus Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), lanjut Retmono, rektor baru harus mampu
menjalankan wider mandate atau mandat
tambahan pada program studi kependidikan maupun non-kependidikan.
Selain menjalankan tugas sesuai statuta Unnes, menurut
Retmono, peningkatan kualitas akademis mahasiswa adalah hal utama yang perlu
dilakukan rektor baru nanti. Jangankan bersaing dengan PT lain, persaingan antar
mahasiswa saat ini juga semakin berat.
“Persaingan sekarang makin ketat. Dari sepuluh
mahasiswa, mungkin hanya ada satu yang menjadi tenaga pengajar,” ungkap
Retmono.
Menjadi
PT Berkualitas
Prof. Ari Tri Soegito
Sementara itu, Prof AT-panggilan akrab Ari Tri Soegito
mengharapkan, sosok pribadi rektor haruslah visioner, humanis, komunikatif dan
transformasional.
“Kampus adalah lembaga ilmiah. Percuma kalau
pemimpinnya (rektor) tidak berperilaku ilmiah yang bermartabat,” tegasnya.
Menurutnya, agar bisa menghadapi tantangan ke depan,
sudah sepantasnya pemimpin Unnes harus bisa membuat perubahan. Untuk itulah
pentingnya sikap ilmiah yang menggunakan data dan fakta dalam membuat atau
memperbaiki kebijakan. Dengan begitu, perlahan tapi pasti Unnes akan bisa
berjaya kembali.
“Unnes harus menjadi universitas berkualitas dan
setara dengan Perguruan Tinggi lain. Amin. Amin. Amin,” harapnya. Amin, Aziz