Oleh : Afriza Y. Ardias


Dan ketika
sekolah adalah pabrik, bermain dalam pasar ide dan membawa jubah menuju elitis
permanen.
Dan ketika
sebuah suara diperangkap dalam romantis secara teoritis, dijadikan pelacur
mesin berhadapan dengan bunga.
(Lalu) pintu
dibuka, muncul bau yang merdeka menjadi kenangan yang diperdengarkan
Ia mencari
jabat, menyimpan dahaga dan menitipkan nilai pada keharusan
Menjelang
langit melahirkan malam di atas kertas ia membakar suaramu, meletakkannya pada
tepian tak terbatas hingga suaramu meninggalkan bau anyir
Dan ketika ilmu
adalah industri yang menciptakan makhluk berarogansi
intelegensia. Menciptakan keadaan pasar dan pelabel ilmu sesat membalas di
muara dongeng dan gemuruh mesin
Sejarahmu pun
melitas, di antara hingar serambi sekolah dan meneteslah air para pewaris bumi
yang dimakan usia pada sebuah nilai dan keterasingan yang ditentukan.

*Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni