LINIKAMPUS Blog Ulasan Opini Lawas Tak Selamanya Kolot
Opini Uncategorized

Lawas Tak Selamanya Kolot

Pagelaran Wayang di Fakultas Ekonomi. [Doc.Yunita]
Oleh: Kartika Sekar Pembayun 

Apa menariknya sih pagelaran wayang kulit bagi kawula muda? Barangkali bagi anak zaman sekarang, tontotan semacam itu terkesan monoton, suntuk, ngantuk, kolot, nggak kekinian, membosankan. Lebih seru menonton film di bioskop, konser musik, atau bahkan  nonton dangdut. Bukankah begitu lebih seru dan lebih bebas megekspresikan jiwa khas anak muda. Memang begitulah kawula muda, sering membanding-bandingkan zaman dulu dengan sekarang.

Beda generasi, beda selera. Itu wajar dan waras, saya pun demikian. Menurut Darmoko dkk. (2010:14), wayang dalam perkembangannya berabad-abad itu ternyata telah mampu bertahan dengan berbagai ujian dan tantangan, sehingga wayang menjadi sebuah budaya intangible (tak benda) yang bermutu sangat tinggi. Namun, ternyata tidak banyak kawula muda melestarikan kebudayaan yang sudah diakui oleh UNESCO itu. Sebagaimana dikemukakan direktur UNESCO 2004 (Koitchiro Matsuura), karena wayang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia, maka harus dilestarikan dan itu menjadi tugas seluruh bangsa terutama bangsa Indonesia yang memiliki produk yang sedemikian luhur ini.
Sekarang kembali lagi kepada kepedulian bangsa ini. Wayang yang telah diwariskan dari nenek moyang kental akan nilai moral, spiritual, musik, falsafah hidup, dan memiliki aktivitas artistik yang indah, maka bangsa Indonesia pantas berbangga karena seni wayang yang semula hanya ada di satu daerah kemudian menyebar ke berbagai daerah nusantara.  

Wayang dari Masa ke Masa
Asal-usul wayang dahulu digunakan masyarakat penganut kepercayaan animisme dan dinamisme pada sebuah upacara yang dilakukan malam hari oleh seorang sakti yang disebut Syaman. Upacara pemujaan itu dilakukan dalam bentuk “Pentas Bayangan”, ritual pertunjukan bayangan itu kemudian menjadi pertunjukan wayang (200-500 SM). Kemudian agama Hindu masuk dan mengadopsi cerita Ramayana dan Mahabarata, dan menjadikannya sebagai bagian upacara keagamaan. Selanjutnya Islam masuk ke Nusantara (-+1500 M) lalu wayang yang dibawa oleh Wali Songo sukses menjadi alat syiar agama Islam, bentuk wayang juga disempurnakan para pujangga. Tibalah Penjajah Belanda masuk ke Indonesia (-+1600 M). Sejak saat itu Wayang mulai marak carangan atau cerita wayang lebih banyak dikreasikan oleh Dalang, hingga saat ini (1945-sekarang) kesenian wayang mulai terpengaruh teknologi, diantaranya gaya pertunjukan, bentuk, dan lebih banyak dimodifikasi.
Unnes yang ‘katanya’ dikenal dengan slogan kampus rakyat ternyata masih punya kearifan membaur dengan masyarakat. Konservasi budaya masih dipegang erat dan dijalankan dengan semestinya. Seperti yang baru-baru ini diadakan oleh Unnes yaitu Seni Pagelaran Ringgit Purwa “Wahyu Ketentrem” oleh Dalang Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji malam lalu, 2 Desember 2016. Nampak terlihat jajaran birokrasi, mahasiswa, dan masyarakatnya berbaur dalam acara pagelaran wayang. Namun sangat disayangkan, penonton pagelaran wayang tersebut didominasi masyarakat yang berusia tua, hanya sedikit mahasiswa yang turut serta menyaksikan seni wayang yang bertempat di pelataran Gedung L Fakultas Ekonomi yang penggarapannya telah rampung. Hal itu membuat saya bertanya-tanya, apakah pergantian zaman berimplikasi pada selera generasi selanjutnya?
Menurut Manto (43), seorang laki-laki paruh baya yang kebetulan saya temui saat acara berlangsung, mengatakan, perbedaan pagelaran wayang dahulu dan sekarang terletak pada jam tayangnya. “Kalau dahulu, pagelaran berlangsung semalam suntuk bahkan hingga pagi, bisa sampai pukul enam pagi. Sementara sekarang hanya sampai pukul tiga pagi,” kata Manto yang saat itu duduk bersama istrinya berlesehan di antara ratusan penonton. Manto sengaja mengajak istrinya menonton pagelaran wayang untuk sekadar mencari hiburan mengurangi kepenatan. Selain perbedaan pada jam tayang, perbedaan lainnya terletak pada metode penyampaiannya. Kalau dahulu kesannya serius, tidak ada guyonan. Sementara sekarang dibumbuhi guyonan.
Pria yang akrab disapa Pak Manto itu mengaku sering menonton pagelaran wayang kulit di Unnes semalam suntuk. Pria yang berdarah asli Semarang ini sangat menggemari seni pertunjukkan wayang karena pagelaran wayang telah menjadi tontonannya sejak kecil. Berbeda sekali dengan tontonan kawula muda saat ini.
Tidak Lupa Identitas
Bangsa yang maju adalah bangsa yang tidak melupakan identitasnya. Untuk mengembangkan kesenian daerah agar tidak tergerus zaman, maka kita harus peduli terhadap kearifan lokal masing-masing. Mengingat bahwa pemuda adalah penerus generasi tua, lantas siapa yang akan mewarisi kekayaan budaya bangsa ini?
Selain itu William juga mengatakan budaya bisa dirujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik (Williams, 1983:90). Apabila kita tidak cermat memfilter budaya, maka jangan disangka budaya ala-ala barat yang jauh dari nilai-nilai pancasila gampang sekali masuk dan dikonsumsi oleh kita.
Dilansir dari Fahma Ainu dalam penelitiannya mengenai wayang, kurangnya minat dikalangan remaja terhadap seni pewayangan disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya modernisasi, pergeseran budaya, pengaruh dari luar, faktor ekonomi, dan pergeseran fungsi. Ketidakpopuleran wayang juga disebabkan bisa karena bahasa dan durasi sangat panjang. Kemasan penyajiannya pun kurang tepat terhadap persoalan remaja, untuk itu perlu beberapa perubahan inovasi, diantaranya dengan cara membumbukan lakon dalang yang tidak monoton, bumbuhi dengan guyonan/komedi, dan cerita – cerita kekinian versi anak muda.
Kita juga perlu cermat membaca zaman. Mengapa perlu membaca zaman? Kita hidup di zaman milenium yang artinya saat ini kita sudah hidup di abad ke-20. Tentunya anak muda harus mempersiapkan diri di masa sekarang dan masa mendatang. Kaitkan tokoh pewayangan dengan kehidupan kita di masa kini. Kita bisa belajar dari tokoh pewayangan untuk memetik pesan di dalam kisahnya.
Bahasa juga menjadi hal yang sangat vital. Dengan bahasa segalanya jadi mudah disampaikan. Kebanyakan seni pewayangan menggunakan Bahasa Jawa Krama, padahal tidak semua pemuda Jawa paham dengan Bahasa Krama. Lalu bagaimana dengan pemuda yang berasal dari luar Jawa? Selanjutnya adalah branding yang tak lain merupakan kegiatan untuk membangun brand yang dilakukan secara berkelanjutan, yang bisa berubah untuk mengakomodasi strategi pertumbuhan dan perubahan lingkungan bisnis. 
Branding
bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan komunitas-komunitas anak muda,
bekerjasama dengan sekolah, sanggar, dan pemerintah daerah. Perkembangan media
infomasi juga tak pernah ada hentinya, maka kita harus mengenalkan kesenian
wayang kulit ini melalui media sosial yang tersedia.  Kita perlu belajar
dari kesenian wayang. Seperti yang diungkapkan Sujiwo Tejo, “Hidup itu seperti
pergelaran wayang, di mana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang
dituliskan oleh Tuhanmu.”
*Mahasiswa
Teknologi Pendidikan 2015
Exit mobile version