Ilustrasi Stop Labeli Perempuan dengan Pelakor
Ilustrasi Perselingkuhan Nissa Sabyan dan Ayus: Stop Labeli Perempuan sebagai Pelakor [BP2M/Tria]

Oleh: Wiyar Ageng Mahanani

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis Unnes 2019

Aku tidak sedang berusaha membela Nissa Sabyan, atas kasus perselingkuhan dengan teman satu band-nya melalui tulisan ini. Judul yang kutulis juga tidaklah salah tik. Perempuan yang dengan sadar menjalin hubungan romantis dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan tentu tak perlu dibela atas alasan apa pun. Tentu saja kita semua paham betul soal itu. Tetapi, mari kita sepakati kecenderungan melabeli Nissa Sabyan sebagai pelakor juga tak perlu dibudayakan.

Kabar perselingkuhan selebriti memang selalu menarik perhatian khalayak. Tidak hanya seputar drama perselingkuhannya, segala hal yang berkaitan dengan selebritas yang kegep selingkuh pasti juga ikutan viral. Contohnya, istilah “gelay” pada video Nissa Sabyan yang berhasil membuatku nggeliyeng karena tak tau artinya.

Bersamaan dengan melambungnya istilah gelay, istilah pelakor juga lazim digunakan beberapa media untuk mengabarkan kasus perselingkuhan ini. Sejumlah orang yang mendeklarasikan diri sebagai tim istri sah, bahkan beramai-ramai menghujani Nissa dengan istilah “pelakor” pada kolom komentar postingan terakhir di akun Instagram miliknya.

Pelakor adalah singkatan dari perebut (le)laki orang. Sebutan untuk perempuan yang dianggap sebagai sumber keretakan hubungan pernikahan sepasang suami istri. Kata “perebut” dalam istilah pelakor seolah menganggap perempuan adalah pihak yang aktif dalam kegiatan perselingkuhan. Istilah ini juga menjadikan laki-laki terkesan sebagai subjek pasif yang bisa direbut begitu saja tanpa memiliki pilihan untuk menolak. Sederhananya menggunakan istilah ini sama halnya dengan mengglorifikasi laki-laki dalam wacana perselingkuhan.

Melabeli Nissa Sabyan dengan istilah pelakor menjadi salah satu bentuk ketimpangan berpikir. Perempuan diposisikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas perselingkuhan. Padahal, perselingkuhan adalah tindakan kolaborasi yang nggak akan terjadi kalau cuma dilakukan oleh satu orang. Yang namanya kolaborasi ya nggak bisa satu orang dong.

Orang yang masih merasa perlu menggunakan istilah pelakor dengan pola pikir semacam itu memang sungguh ra mashoook. Perempuan sebagai orang ketiga dianggap seolah-olah sebagai sosok yang paling bekerja keras dalam aksi kolaboratif ini. Bisa aja kan Ayus duluan yang ngajak Nissa selingkuh dengan bilang “Collabs hubungan percintaan skuy”.

Ilustrasi Cinta Segitiga
Ilustrasi Hubungan Cinta Segitiga [BP2M/Suciati]
Melabeli perempuan dengan istilah pelakor tanpa menggunakan istilah yang sepadan untuk si laki-laki yang tidak mampu setia, menunjukkan kecenderungan netizen hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah perselingkuhan. Penggunaan istilah pelakor yang digunakan sendirian  menghapus peran laki-laki seperti Ayus dalam aksi perselingkuhan.

Peneliti linguistik Nelly Martin-Anatias, dalam artikel yang dirilis The Conversation, menulis penggunaan istilah pelakor tanpa istilah yang sepadan untuk laki-laki adalah seksis.

Secara kebahasaan istilah ini meminggirkan perempuan. Lebih dari itu, istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar. Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjukkan bahwa istilah ini seksis”.

Di akhir artikel, Nelly menulis jika masih merasa perlu untuk melabeli perempuan sebagai pelakor maka istilah letise (lelaki tidak setia) juga harus digunakan. Karena kedua pihak berkolaborasi dalam perselingkuhan.

”Maka, jika kita masih perlu memberi label pada perempuan yang melakukan perselingkuhan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan dengan istilah pelakor, marilah kita gunakan bersama-sama dengan “letise” (lelaki tidak setia) karena kedua pihak berkolaborasi dalam perselingkuhan.”

Entah sejak kapan istilah pelakor ini muncul. Dari beberapa artikel yang kubaca, tidak ada yang memberikan informasi pasti kapan istilah ini pertama kali digunakan. Ada yang menyebut kata pelakor muncul pertama kali saat kasus perselingkuhan penyanyi Mayangsari dan Bambang Trihatmojo pada tahun 2005, ada yang menyebut istilah ini pertama kali muncul sejak kasus perselingkuhan Mulan Jameela dan Ahmad Dhani, ada juga yang menyebut istilah pelakor berasal dari plesetan nama hantu valak menjadi valakor. Aku sendiri mengenal istilah pelakor saat video viral Nylla Nylala yang dihujani uang pecahan Rp100.000,00  oleh perekam video yang mengaku sebagai istri sah dari Pak Dendy.

Zaman dulu, perempuan pihak ketiga dalam sebuah hubungan disebut sebagai WIL (Wanita Idaman Lain). Penggunaan istilah WIL terasa lebih netral karena laki-laki dan perempuan dianggap setara dalam perselingkuhan. Istilah WIL juga tidak terkesan menggambarkan perempuan lain dalam hubungan sebagai pihak yang agresif. Kalau masih perlu melabeli Nissa Sabyan sebagai orang ketiga maka menggunakan istilah WIL adalah pilihan yang lebih baik.

Jika masih ngeyel dan merasa istilah pelakor adalah sanksi sosial yang pantas, aku sudah maklum. Bebal memang tidak ada obatnya.

 

Editor: Zahwal

 

 

 

2 KOMENTAR

  1. Setuju dengan opininya. Bukannya membela tindakannya, tapi rasanya memang istilah ‘pelakor’ terkesan merendahkan wanita sekali. Padahal dasarnya perbuatan tersebut dilakukan atas persetujuan pihak pria dan wanita, bukannya berat sebelah karena keduanya juga sama-sama salah. Terima kasih penulis sudah menyuarakan pendapat beberapa khalayak termasuk saya 🙂

Tinggalkan Balasan