Suwito Eko Pramono merupakan satu dari lima calon
rektor Unnes periode 2014-2018. Ia
mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai impian
untuk menjadi pejabat tertinggi di Unnes. “Saya khawatir jika dibiarkan tidak
ada yang mau mencalonkan diri,” jelasnya saat ditemui di ruang C2 112, Minggu
(25/5).

Pencalonan
dirinya sebagai calon rektor Unnes, lanjut Suwito, sebatas ingin mempermudah
prosedur pemilihan. “Unnes memiliki banyak profesor, tetapi tidak ada yang
mendaftar karena takut tidak mendapat suara. Padahal pemilihan mensyaratkan setidaknya
terdapat minimal tiga calon yang lolos seleksi administrasi,”
ungkapnya.
Tidak ada visi dan misi khusus yang akan diterapkan
apabila Suwito terpilih. Menurutnya, yang diperlukan oleh Unnes adalah perbaikan dan
penjelasan indikator-indikator capaiannya untuk menuju universitas yang
sehat, unggul, dan sejahtera serta bertaraf internasional.
Kurang Transparansi
Pelaksanaan pemilihan rektor,
menurut Suwito,
kurang transparansi mengingat terdapat ketidaksesuaian jadwal dan ketidakjelasan
pemberitahuan. “Tanggal 22 Mei, seharusnya dilaksanakan pemaparan visi dan misi calon rektor. Namun, saya
tidak mendapat panggilan dan pembatalan resmi dari pihak terkait.
Pengundurannya pun saya tidak tahu. Tentu saya tidak menyalahkan siapa-siapa,
hanya saja seharusnya tidak seperti itu,” kata Suwito tanpa tiding aling-aling.
Walaupun tidak menyiapkan visi dan misi khusus,
Suwito memiliki rencana yang akan 
dilakukannya jika terpilih menjadi rektor. Salah satu rencana tersebut
adalah penguatan posisi Unnes sebagai eks-IKIP. “Semua univeristas yang
dulunya IKIP tidak boleh meninggalkan program kependidikan. FH-Unnes
telah berdiri, bila selama dua tahun belum ada prodi kependidikan terancam
ditutup,” terangnya (baca tanggapan Dekan FH Unnes). Sehubungan dengan hal tersebut, Suwito mengatakan belum
ada kesiapan sistem dalam melihat posisi Unnes sebagai LPTK.
Beberapa strategi telah disiapkan Suwito dalam
rangka penguatan posisi Unnes. Pertama, nation’s
competitiveness
, menghasilkan mahasiswa yang berkompeten dan memiliki daya saing. Kedua, academic atmosphere, mengembangkan
suasana budaya akademik yang tinggi. Ketiga, organization health, membangun organisasi
yang akan membentuk jiwa orang yang didalamnya sehat. Keempat,culture organization artinya tercapainya
sosiabilitas dan solidaritas.Khusnul,
Reshita