“Semua orang memuji-muji surga,
tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga.”
(James Baldwin)
Bom
telah meledak di Paris Jumat malam (14/11/15). Mengacu data
yang ditulis harian Kompas, Senin (16/11/15) sebanyak 129
orang tewas, 352 orang terluka, 99 orang dalam keadaan kritis. Serangan di
Paris yang terjadi dua kali dalam setahun tentu menggemparkan dunia. Dalam penyelidikan
pasca teror, Islamic State Iraq Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas
serangan tersebut. ISIS juga mengaku bertanggung jawab di balik jatuhnya
pesawat Rusia di Sinai, Mesir. Perancis berduka, paris berdarah, dan Barat
berteriak satu kata: Lawan Terorisme!
Lingkaran
kekerasan tidak manusiawi kini telah bulat utuh. Berputar dan terus berputar
tanpa menemukan titik henti. Mata dibalas mata, kekerasan dibalas kekerasan,
nyawa dibalas nyawa. Pasca Paris yang diteror, pemimpin dunia yang hadir dalam
KTT G-20 di Antalya, Turki bersatu mengumumkan perlawanan terhadap terorisme. “Kita
bersatu dalam solidaritas dengan Perancis untuk menghancurkan pelaku kejahatan
dan menyeret mereka ke pengadilan,” kata Obama, pemimpin negara adidaya,
Amerika Serikat.
Perdamaian Israel dan Palestina
Sebuah foto garapan Jack Konfield, seorang pengajar agama Budha di Amerika yang menyuarakan perdamaian antara Palestina dan Israel melalui gerakan Goodwill In Isreal & Palestine

Namun,
ada satu hal yang dilupakan oleh orang ketika ia sedang marah. Berfikir jernih.
Pertemuan KTT G-20 yang menyepakati bersatunya negara-negara Barat melawan
terorisme adalah pilihan yang kurang dewasa. Barat kini adalah produktor
terbesar untuk kemajuan teknologi dan ilmu pendidikan, namun kesepakatan
bersatu melawan terorisme dan menyeretnya ke pengadilan adalah pilihan yang
dangkal, jauh dari identitas sebagai bangsa yang
maju. Barat tidak
menyadari bahwa ada cause dan effect dalam setiap tindakan. Ada motif
yang mendorong seseorang untuk rela mati bunuh diri dalam insiden di Paris dan
di beberapa kasus sebelumnya.  Atau jangan-jangan
Barat menutup mata dan hati bahwa merekalah yang terlebih dahulu menyulut api
kekerasan?

Tindakan
Barat tidak dewasa dalam hal ini. Kata-kata Obama yang
diamini oleh seluruh negara anggota G-20, menandakan berkibarnya bendera perang.
Lingkaran kekerasan tidak manusiawi akan berlanjut lagi. Entah kapan itu
terjadi.
Mari
tengok ke belakang tentang invansi dan
intervensi Barat di Timur Tengah telah merenggut berapa banyak nyawa? Amerika
yang menasbihkan diri sebagai polisi dunia bertindak terlalu dalam ke urusan
pribadi negara-negara tersebut. Irak, Suriah, Libya, Afganistan, Palestina. Berapa
nyawa orang-orang di negara tersebut yang telah terenggut hanya untuk mencapai
tujuan finansial, mengeruk minyak sebagai bahan baku industri negara Barat. Motif
utama disembunyikan di balik pengatasnamaan penjaga
perdamaian dunia. Seolah menjadi legitimasi bahwa membunuh manusia itu sah-sah
saja. Amerika dan Barat bahkan terlalu sengaja menutup mata mereka terhadap
kekerasan dan penindasan Palestina oleh Israel. Apakah ada pemberitaan, bahwa
dalam konferensi serupa KTT G-20, Amerika dan Barat mengutuk tindakan Israel
dan berkata, ”Kita bersatu dalam solidaritas dengan Palestina untuk
menghancurkan pelaku kejahatan dan menyeret mereka ke pengadilan.”
Semua
itu tidak pernah terjadi. Barat tetap stagnan dan berjalan di tempat. Amerika tetap
diam ketika Palestina hancur lebur. Jutaan nyawa hilang oleh tindak kejam
sekutunya. Tindakan radikalisme dan teror ISIS dan seluruh organisasi
pergerakan di bawah bendera Timur Tengah sebenarnya adalah luapan atas kejamnya
kehidupan yang mereka terima. Tengoklah, Timur Tengah
kini hidup dalam kemiskinan akut, kesenjangan sosial ekstrem, dan kekerasan
yang tak kunjung henti.
Dendam
telah membatu. Setiap tarikan nafas dan hidup pihak pendendam hanyalah fokus
pada satu tujuan, dendam yang terbalaskan. Tidak peduli apakah mereka
kehilangan nyawa, pembalasan dendam jauh lebih mulia dari sekadar hilangnya nyawa.
Konferensi
G-20 yang menyepakati persatuan untuk melawan terorisme yang diteriakkan para
pemimpin dunia tersebut bukanlah solusi yang baik. Harus ada langkah yang jauh
lebih dewasa untuk melakukan rekonsiliasi dan perbaikan atas buruknya tindakan
di masa lalu. Pernahkah Obama, Putin, Donald Tusk hidup dalam tekanan kematian,
tanpa makan, tanpa bantuan, hidup di bawah desingan peluru. Setiap gerak dan
nafas hidup selalu dibayangi kematian dan kehilangan orang yang dikasihi? Para
ekstremis yang dikecam itu adalah manusia-manusia yang telah mengalami hidup
semacam itu. Kesadaran dan refleksi diri dituntut untuk menciptakan kondisi
berpikir jernih. Jangan ada lagi dendam di masa depan. Atas nama kemanusiaan dunia
dan umat manusia.

Jika
yang diteriakkan hanya balas dendam, lingkaran 
kekerasan akan tetap berlanjut. Dendam membutakan mata kita dari
realitas, dan menggiring kita menciptakan neraka di dunia. Jika kita
menginginkan perdamaian dunia, dendam harus berhenti. 
Irkham, Pemimpin Divisi Litbang BP2M Unnes