Massa aksi bersama perwakilan birokrat berkumpul melingkari lilin menyala yang membentuk angka 56—peringatan Dies Natalis Unnes ke-56. [Dok. BP2M/Manan]

Senin (29/03/21), Mahasiswa Unnes menggelar aksi menyalakan lilin dan doa bersama di depan rektorat. Aksi ini digelar dalam rangka mengawal sembilan tuntutan yang ditujukan kepada pimpinan Unnes.

Aziz—Menteri Koordinator Pergerakan BEM KM, bersama gitarnya mengiringi lagu Mars Unnes, Mars Mahasiswa, dan Buruh Tani. [Dok. BP2M/Manan]
Aziz—Menteri Koordinator Pergerakan BEM KM, bersama gitarnya mengiringi lagu Mars Unnes, Mars Mahasiswa, dan Buruh Tani. [Dok. BP2M/Manan]
Franscollyn Mandalika, Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes, mengatakan bahwa aksi ini merupakan kekayaan daripada kegiatan mahasiswa. “Jadi kita ingin membuktikan bahwa aksi tidak harus anarkis. Kita mencoba untuk membuat suasana yang lebih nyaman untuk birokrasi,” ujarnya.

Wakil Rektor III, Abdurrahman, memberikan pernyataan penutup atas aksi Aliansi Mahasiswa Unnes bertajuk “Atraksi lan Umbul Donga Universitas” [Dok. BP2M/Manan]
Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan Unnes—Abdurrahman—turut mengadiri aksi. Ia juga menanggapi tuntutan yang dibawakan oleh mahasiswa. Menurutnya, represifitas atau segala penindasan itu tidak akan terjadi lagi di Unnes. “Anda mau kritik apa silakan, asal ada data-data yang baik,” katanya.

Sebagian besar massa aksi yang melingkari lilin menyala memakai jas almamater Unnes dan memegang balon yang disinari dengan senter gawai. [Dok. BP2M/Manan]
Meskipun demikian, Franscollyn menyampaikan bahwa pihaknya akan tetap menyampaikan tuntutan karena Rektor Unnes—Fathur Rokhman—dan jajarannya tidak hadir. Selain itu, ia dan teman-teman mahasiswa akan melakukan Sidang Civitas Akademika yang akan dilaksanakan pada hari selasa (30/3), bertepatan dengan puncak Dies Natalis Unnes ke-56.

“Karena hari ini rektor belum menemui, kita akan aksi besok. Untuk menyampaikan kembali dan meneruskan langsung ke Rektor karena WR III tidak punya kapasitas untuk menjawab. Mereka belum punya solusi apa-apa. Balik lagi yang saya khawatirkan seperti audiensi kemarin, yang mereka lakukan hari ini ya lebih kepada menggugurkan tanggung jawab,” ujarnya.

Doa dipimpin oleh beberapa mahasiswa dengan latar belakang berbeda agama.[Dok. BP2M/Manan]
Aksi kemudian ditutup dengan pembacaan doa lintas agama oleh perwakilan mahasiswa dari agama Islam, Hindu, Budha, dan Kristen.

Fotografer: Manan

Penulis: Niamah

Editor: Laili

Tinggalkan Balasan